7R_Family (Keluarga 7R)

You don’t choose your family. They are Allah’s gives to you. As you are to them.

Kita memang tidak bisa memilih di keluarga seperti apa kita dilahirkan. Tapi, sebenarnya kita bisa mewujudkan ingin jadi seperti apa keluarga yang kita bina. Keluarga yang seperti apa yang kita inginkan untuk anak-anak kita. Kita bisa mengusahakan lingkungan keluarga yang kondusif sebagai tempat untuk tumbuh kembang anak-anak kita. Kita bisa. Jika kita mau sedikit menekan ego, mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Demi mewujudkan keluarga yang bahagia untuk didiami oleh anak-anak kita.

Seperti itulah kurang lebih yang kami harapkan bisa kami ciptakan di keluarga kecil kami, 7R_Family. Keluarga yang harmonis dan minim konflik. Walau kenyataan di lapangan masalah tak bisa terelakkan, konflik pun tercipta. Namun, hal tersebut tidak akan membentangkan jarak antar anggota keluarga, malah akan membuat 7R_Family semakin solid.

💖💖💖💖💖💖💖

Keluarga kecil ini tercipta pertama kali ketika aku dan suami (selanjutnya disebut si Umi dan si Ayah) mengucap ikrar setia sehidup sesurga di akad nikah 17 November 2004 silam. Telah saling mengenal selama kurang lebih tiga tahun, bertunangan selama dua bulan, rasanya cukup untuk mengetahui sifat masing-masing dan merasa cocok untuk memutuskan menikah.

Satu bulan kemudian, calon anggota keluarga baru hadir di rahim si Umi. Dan tepat sembilan bulan sepuluh hari, anggota baru berjenis kelamin laki-laki tersebut lahir dengan sehat dan selamat melalui proses persalinan normal. Setelah sepekan bayi kecil itu lahir, kami sepakat memberinya nama Muhammad Raihan Abdul Aziz. Banyak doa mengalir dalam setiap kata yang merangkai namanya. Harapannya semoga bayi lelaki ini memiliki sifat-sifat nabi Muhammad yang terpuji, yang kehadirannya selalu dirindukan dan menjadi hamba Allah yang mulia di mata Allah dan makhlukNya.

Si Ayah sangat bahagia dengan hadirnya Raihan di tengah-tengah kami. Tak jarang si Ayah ikut membantu pengasuhan Raihan kecil, terutama di kala si Umi masih harus bolak-balik kampus menyelesaikan studi. Sungguh, tahun yang luar biasa bagi kami bertiga, mengingat deadline si Umi merampungkan studi sudah sangat dekat. Harus selesai tahun itu juga atau terancam drop out.

Pagi hari si Umi ke kampus, Raihan dijaga si Ayah yang saat itu menjalankan usaha sebagai bussines center sebuah brand multi level marketing bidang fashion ternama berlogo warna pink. Karena ngantor di rumah, si Ayah jadi bisa lebih fleksibel waktu kerjanya. Pulang dari kampus, si Umi langsung membersihkan diri lalu mengambil Raihan kecil ke pelukan dan si Ayah mengambil semua berkas hasil konsultasi si Umi dengan dosen pembimbing untuk segera direvisi. Beruntung kami belajar di almamater yang sama, jurusan dan program studi yang sama, sehingga si Ayah bisa membantu si Umi mengolah data hasil penelitian dan merevisi kekurangan di laporan akhir si Umi berdasarkan hasil konsultasi dengan dosen tadi.

Akhirnya, setelah semua drama bolak-balik kampus, drama ujian akhir dan beberapa kali revisi, si Umi berhasil mendapat gelar Sarjana Teknologi Pertanian dan menjadi lulusan terbaik program studi kala itu. Alhamdulillah.
Semua karena Allah, karena kasih sayangNya yang tercurah hingga si Umi dan si Ayah menjalani semua dengan kasih sayang juga dan bisa melewati ujian tahun pertama pernikahan dengan baik. Konflik? Ada pastinya, tapi bisa terlewati karena kami selalu mengingat kami saling mencintai dan cinta kami adalah anugrah dari Allah Sang Maha Cinta. Jika larut dalam konflik, malu sama bukti cinta kami, Raihan. Dan kami berdamai atas nama cinta.

Bersambung..

0Shares

Tinggalkan Balasan