Ada bayanganmu di mataku
Dan senyummu membuatku rindu
Bagaimana caranya oh sayangku
Ku ingin jumpa dengan kamu
Bagaimana caranya

Haruskah kuteteskan air mata di pipi
Haruskah kucurahkan s’gala isi di hati
Oh haruskah kau ku peluk
Dan tak kulepas lagi
Agar tiada pernah ada
Kata berpisah

Tembang lawas miliknya 2D, Dian Pramana Putra dan Deddy Dhukun berjudul Masih Ada itu selintas memasuki pikiranku. Padahal, aku tidak sedang mendengarkan musik apapun.
Mungkin karena liriknya begitu mengena dengan suasana hati, jadinya spontan terlintas.

Iya. Memang saat ini rasanya aku ingin menangis, karena terpisah jauh dari anak sulungku yang bersekolah di luar kota. Harusnya, Mamas -panggilannya- ujian kelulusan Sekolah Menengah Pertama tahun ini, lalu bersiap melanjutkan pendidikan menengah atasnya di sini, di dekatku. Dan prediksinya dulu, setidaknya bulan Ramadan kami bisa bersama, entah Mamas yang ke Palembang atau kami yang melewati puasa-puasa hari pertama di Lubuklinggau.

Qodarullah, pandemi yang terjadi saat ini membuat kami harus mengubur keinginan untuk bisa segera bertemu.
Awalnya aku sudah ikhlas, namun saat VC-an sama Mamas dan dia menangis,  aku pun tak kuasa menahan air mata. Akhirnya kami menangis malam itu. Sesak ini mungkin sudah tak terbendung. Meluaplah malam itu. Walau akhirnya kami sama-sama bisa menenangkan diri, dan Mamas juga sudah mengatakan akan sabar menunggu, namun aku masih terus dirundung gelisah.

Aku dan suami mencari cara bagaimana agar bisa memulangkan Mamas ke Palembang. Kami berdiskusi, menimbang-nimbang, mana yang terbaik. Mamas pulang atau tidak. Jika pulang, naik apa, kereta api atau travel, sendiri atau dijemput. Semua ditimbang dengan matang. Sambil berdoa agar Allah menetapkan yang terbaik untuk kami semua.

Hari berganti, pagi menjelang, kami belum juga memutuskan. Bertanya info ke sana ke mari, meminta pendapat teman dan kerabat, sebagai bahan pertimbangan. Mereka bilang, jika memang mau dipulangkan, paling lambat malam inilah, jangan ditunda lagi, karena kemungkinan beberapa hari ke depan Palembang sudah lockdown.
Melihat aku yang sedih sepanjang hari,  akhirnya suami berkata “Umi, doa seorang ibu itu tak tertolak, berdoalah terus untuk kebaikan Mamas. Jika memang Umi yakin Mamas lebih baik pulang, bismillah, kita carter travel untuk mengantar Mamas ke Palembang.”

“Iya Yah, Umi akan tenang jika Mamas di dekat kita. Bismillah, usahakanlah agar Mamas bisa pulang ya, Yah.” pintaku.

“InsyaaAllah, berdoalah terus, mohon yang terbaik,” sahutnya.

Lalu suami sibuk menelpon adik dan sepupunya, meminta dicarikan travel yang dikenal untuk mengantar Mamas pulang ke Palembang.
Selepas sholat Maghrib berjamaah, telpon berbunyi dari sepupunya mengabarkan bahwa travel siap mengantar Mamas dan sudah dipanjar lebih dari separuh oleh saudara perempuan suamiku. Jadi nanti kami tinggal membayar sisanya saja. MasyaaAllah tabarakallah. Alhamdulillah. Tak putus aku mengucap syukur. Anak-anak yang memang masih duduk manis di tempat sholat, tadarussan, diminta berdoa agar Mamas sehat selamat sampai ke pelukan kami.

“Allah, sungguh, Engkau lah sebaik-baik tempat bergantung. Terima kasih atas segala kemudahan untuk keluarga kami. Izinkan aku memohon satu hal lagi, lindungilah buah hatiku dalam perjalanannya kembali ke pelukanku. Sehatkanlah badannya, jauhkanlah dari segala marabahaya dan ancaman terjangkit Covid-19. Kutitipkan Mamas pada sebaik-baik penjagaanMu, Ya Rabb. Aamiin.”

Dan untuk semua pihak yang sudah membantu proses kepulangan Mamas, kami ucapkan terima kasih yang tak terhingga, semoga Allah balas dengan sebaik-baik balasan, di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin.

Iklan
0Shares

2 thoughts on “Allah Sebaik-baik Tempat Bergantung

  1. Subhanallah Allah lah yang Maha Berkehendak lagi Maha Penolong ya mbak. Ikut terharu membaca tulisannya. Memang ditengah pandemi ini semuanya terlihat begitu sulit. Namun dengan pertolongan Allah semuanya akan terasa mudah. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita kembali hidup normal. Aamiin.

Tinggalkan Balasan