Salah satu sinetron yang pada tahun 2015 cukup fenomenal sampai dengan saat ini tercatat memiliki empat jilid bahkan sampai ada versi movienya alias layar lebar. Sinetron ini menjadi fenomenal bukan hanya para pemainnya yang berkualitas, dimana salah satunya Didi Petet sebagai tokoh sentral dalam “bisnis pajak” yang bergulir di Preman Pensiun, salah satunya pekerjaan yang menjadi bagian dari fragmen sinetron ini adalah copet.

Aktivitas pencopetan di sinetron ini terjadi di alat transportasi umum. Nah, yang disorot pada sinetron ini pencopetan yang terjadi di angkutan kota atau lebih dikenal dengan sebutan angkot.

Berdasarkan pengamatan saya sepanjang menggunakan alat transportasi umum berupa angkot, terdapat beberapa jenis copet yang beroperasi di angkot. Pertama, copet yang beroperasi berombongan besar biasanya di atas dua orang. Kedua copet yang beroperasi berombongan sebanyak dua orang (couple). Ketiga copet yang beroperasi satu orang (single).

Tipe copet yang datang single atau berdua ini tidak begitu menakutkan, biasanya ini lebih smoot dan tidak mengancam keselamatan korban.Tapi jika tipe copet yang datang rombongan ini yang paling menakutkan, karena bisa jadi keselamatan jiwa kita juga terancam manakala kita sudah sadar dan berusaha menghindari mereka.

Pernah suatu ketika Saya dan Tina menengok teman kami yang sakit sebut saja Yeni. Kami menengok Yeni dengan menggunakan angkot. Setelah mengok Yeni Kami cukup bingung untuk pulang ke rumah karena di rumah pun tak ada kegiatan yang dilakukan.

“Masih siang nih, enaknya kemana ya?” kata Tina sambil menatap ke arah saya.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” Ajakku kepada Tina.

“Hayuu, tapi ngapain ya jalan-jalannya, harus yang berfaedah lho?” pinta Tina panjang lebar.

“Bagaimana kalau hunting sepatu?” saya menawarkan ide.

“Boleh juga tuh” Tina menyetujui ideku, “tapi hunting sepatunya kemana?” sambungnya.

“Menurut informasi dari Yeni, toko sepatu A** lagi diskon lho!” jawabku.

“Ok, let’s go” sambut Tina.

Ketika sudah sampai di terminal yang dituju kami berencana untuk berburu sepatu diskonan, maka kami pun segera turun dan membayar ongkos angkot dan segera berpindah angkot menuju tempat sepatu diskonan dimaksud.

Tak berselang lama kami naik angkot di terminal, kebetulan di angkot tersebut hanya ada kami berdua. Saya dan Tina duduk terpisah. Saya duduk di belakang sopir menghadap ke pintu, sedangkan Tina duduk tepat di bibir pintu. Kami mengambil posisi duduk seperti itu bukan tanpa alasan, mengingat jarak dari terminal tak terlalu jauh ke toko sepatu yang dimaksud.

Tetiba ada serombongan laki-laki yang berjumlah sekitar empat orang bermuka sangar dan berotot juga menaiki angkot yang kami naiki. Tapi sebelum mereka naik Sopir angkot tampak ragu untuk menaikkan mereka. Kami tak ambil pusing atas tindakan Sopir karena haknya untuk menaikkan atau tidak calon penumpang yang ada di jalan.

Alangkah kagetnya kami, ketika mereka naik angkot seolah mereka sudah berbagi tugas untuk memepet kami sehingga saya dan Tina menjadi tidak nyaman. Tina yang paling merasakan tidak nyaman, karena dia dipepet dari bibir pintu menuju pojok angkot oleh salah seorang diantara mereka. Sementara itu dipojok angkot sudah ada dua orang laki-laki lainnya. Disebelah saya ada satu orang kawanan mereka juga dan mengamati tas Saya.

Saya dan Tina saling berpandangan karena takut dan bingung dengan situasi yang dihadapi. Berusaha tidak panik dan segera mendekap tas kami di depan dada masing-masing. Kami berdua merasa tidak nyaman dan merasa terancam dengan perlakuan rombongan laki-laki tersebut.

Akhirnya saya memberanikan diri kepada Sopir untuk menepi dengan suara bergetar “Kiri, kiri Mang, kiri di payun!”

Salah satu diantara mereka “Hei mau kemana, baru juga naik kok sudah turun lagi?” dengan logat sebrang.

Saya berusaha tenang dan tetap mengamati Tina sambil berbicara ke Sopir “Kiri payun Pa, antosan rerencangan hiji deui bade lungsur oge Pa” kemudian saya langsung turun karena posisi pintu angkot berada persis di depan saya. Sedangkan posisi Tina agak jauh dari pintu dan dia sempat berebut tas dengan salah seorang dari mereka yang menyeretnya untuk duduk ke pojok.

Alhamdulillah…akhirnya Tina bisa turun juga dengan kondisi sama-sama gemetaran.

Beruntung Sopir menepikan angkotnya dari laju kencang menjadi pelan sehingga saya dan Tina bisa melepaskan diri dari rombongan copet tersebut dan bisa turun dengan selamat. Kami berdua menepi di pinggir jalan sambil menenangkan diri setelah melewati peristiwa yang cukup menegangkan.

“Bagaimana, jadi ke toko diskonan?” tanyaku kepada Tina.”Next time saja” sahut Tina masih agak gemetar.

“Inshya Allah” jawab saya dengan nada yang sama gemetarnya dengan Tina.

“Ihhh…mereka teh copet ya?” Tina masih tidak percaya dengan kejadian yang baru saja dilaluinya.

“Iyaa atuh, masa boyband” candaku mengurai ketegangan setelah menghadapi situasi yang menegangkan.

“Alhamdulillah…kita masih diselamatkan dan dilindungi Allah ya” kata Tina mengurai kebersyukurannya.

“Iya, Kamu nggak kenapa-kenapa kan?” tanyaku memastikan kondisi Tina.

“Alhamdulillaah…cuma masih agak tegang saja” jawab Tina.

“Sekarang langsung pulang saja?” tanyaku kepada Tina.

“Iya, kamu juga kan?” Tina memastikan.

“Iya. Kamu hati-hati ya…” pesanku kepada Tina.

“Kamu juga” Tina mengulang pesan yang sama.

“Yuk ah, assalamu’alaikum” pamitku pendek di tengah gemetar yang masih terasa.

“Waalaikumsalaam, hati-hati ya” jawab Tina.

Kemudian kami berpisah naik angkot yang berbeda, mengingat rumah kami yang berlainan arah.

Begitulah peristiwa yang cukup menegangkan ketika menggunakan alat transportasi umum. Betul jargon salah satu acara di televisi swasta nasional “Kejahatan bisa terjadi kapan dan dimanapun. Waspdalah!”

Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal Maula wani’mannashir. Laa haula walaa quwwata Illa billahil’aliyyil’adhim.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Preman_Pensiun

0Shares

Tinggalkan Balasan