Dulu aku membayangkan tabunganku makin bertambah setelah sekian tahun. Aku menyisihkan sebagian gaji suami untuk beberapa investasi, seperti tanam sengon, jasa ekspedisi, bisnis konveksi dan arisan emas. Harapanku biaya pendidikan anak tercukupi, kehidupan setelah suami pensiun tetap terjamin.

Kenyataannya berbeda. Belum genap lima tahun, pohon sengon yang ditanam di lahan sawah milik suami sebagian roboh karena diterjang angin puting beliung.  Atas inisiatif mertua dijuallah investasi sengon kami. Pembeli pun hanya memberikan harga kecil. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kami sepakat dengan harga yang ditawar pembeli. Meski sebenarnya tidak sesuai harapan.

Dan atas inisiatif suami pula hasil penjualan sengon diberikan sepenuhnya kepada ayah mertua, dengan pertimbangan beliau lah yang merawat sengon-sengon itu hingga tumbuh tinggi. Harapan pertama gagal. Dan mulailah aku bergantung pada investasi jasa ekspedisi.

Dua bulan pertama bisnis jasa ekspedisi berjalan lancar, bahkan pelanggannya makin banyak. Meski begitu belum terlihat provitnya secara significan. Aku masih menghitung berapa modal yang kukeluarkan dikurangi keuntungan yang didapat. Kalau dihitung-hitung usaha yang berjalan selama dua bulan belum bisa digunakan untuk menggaji karyawan. Aku berharap di bulan ketiga dan seterusnya bisnis ini dapat menutupi semua pengeluaran termasuk modal awal dan gaji karyawan.

Nyatanya bisnis jasa ekspedisi juga tak berbuah manis. Semakin hari pendapatan menurun, banyak biaya yang harus disetor ke pusat. Sementara untuk operasional kantor dan gaji karyawan aku terpaksa mengeluarkan uang pribadi. Setelah kupikir-pikir lebih baik mundur dari bisnis ini daripada terus menerus harus mengeluarkan uang pribadi untuk menggaji karyawan. Dan lagi-lagi harapan kedua juga gagal.

Tinggal bisnis konveksi tempatku bergantung. Bisnis ini sebenarnya usaha patungan dengan penjahit. Suamiku yang mengusahakan sekian unit mesin jahit, berikut operasional garmen. Sementara untuk bangunan berupa sebuah rumah usaha merupakan usaha patungan dengan sertifikat milik suami daan penjahit.

Aku sempat berbunga-bunga karena suami sering mengabarkan tentang profit garmen.

“Nanti aku akan memperoleh keuntungan garmen Rp. 100.000.000,-, tinggal menyelesaikan jahitan pesanan PKK baru deal keuntungan dibagi dua.”

Siapa yang tidak terbelalak mendengar berita itu?

Dan sekali lagi, apa yang kudengar dari suami cuma ucapan saja. Kenyataannya berbeda. Dengan berbagai alasan uangnya akan diputar untuk pesanan baju gamis, jas universitas atau bahkan untuk merehap rumah usaha, akhirnya uang 100 juta yang pernah kudengar tidak jadi ditransfer.

Apalagi saat pandemi ini, dimana banyak kebutuhan akan kain berkurang. Sementara pemasok kain tidak bisa memenuhi kebutuhan. Banyak toko kain tutup karena stok habis. Dan karyawan pun takut untuk bekerja di rumah usaha dengan alasan takut tertular wabah corona. Otomatis bisnis konveksi berjalan pelan. Permintaan pelanggan banyak ditolak karena penjahit hanya bisa menggaji beberapa karyawan.

Lalu apa yang bisa kuharapkan dari bisnis ini? Selain terus berdoa kepada Allah SWT agar pandemi ini segera berakhir. Sungguh aku merasakan betapa sedihnya ketika butuh dana namun tidak bisa memenuhinya. Apalagi aku harus menyediakan sekian dana untuk persiapan anak masuk sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Harapan satu-satunya adalah investasi emas. Tadinya aku iseng mengikuti arisan emas ini. Hitung-hitung bisa digunakan untuk simpanan sewaktu-waktu dibutuhkan. Arisan emas yang kuikuti atas rekomendasi teman baik yang terpercaya. Lumayan juga ikut arisan emas ini. Kalau dipikir-pikir aku tidak mampu membeli emas antam 5 gram atau 10 gram secara kontan. Dengan arisan 10x akhirnya aku bisa mengumpulkan emas antam ini sebagai investasi.

Semalam aku terpaksa menjual sebagian invetasi emas yang kumiliki demi persiapan pendaftaran sekolah anakku. Disaat pandemi ini menjual emas antam tentu tidak ada ruginya. Bahkan untung. Harga jual atau buyback emas antamku melebihi dari harga beli beberapa tahun lalu.

Aku makin paham begitu banyak hikmah yang kudapatkan dari pandemi ini. Ketika kita terisolasi di tempat tinggal masing-masing, tidak boleh keluar rumah, tetapi penghasilan berkurang karena biaya hidup selama di rumah saja semakin tinggi, masih ada yang bisa kuharapkan. Ketika beberapa usaha yang kuharapkan untuk menambah penghasilan nyatanya gagal, masih ada investasi emas yang mempu mencukupi kebutuhanku.

Arisan emas menjadi solusi terbaik di tengah pandemi. Andai dulu tidak nekat menyisihkan uang tujuh ratus ribu tiap bulan, tentu aku tidak memiliki simpanan emas antam seperti saat ini. Aku bersyukur arisan emas sangat membantuku disaat pandemi, seperti saat aku membutuhkan dana untuk pendidikan anakku.

Sudahkah kamu berinvestasi? Investasi bukan hanya untuk jangka panjang, namun juga untuk jangka pendek. Sebelum terlambat, yuk mulai atur kebutuhanmu. Buang jauh-jauh keinginan sesaat yang malah membuat penghasilanmu berkurang. Fokuslah pada kebutuhan dan sisihkan sebagian penghasilanmu untuk kebutuhan yang bersifat mendadak, agar kehidupanmu tenang meski dalam situasi yang sulit.

Iklan
0Shares

Tinggalkan Balasan