Bahagia Bebas Dari Hutang, Begini Caranya!

Hidup manusia itu ibarat pepatah “sawang sinawang”.

Tak selamanya kehidupan yang nampak mewah dari luar didalamnya akan sama. Demikian sebaliknya.  Tak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup itu tak luput dari hutang. Terlepas dari keinginan untuk berhutang, apakah memang benar-benar butuh atau hanya menurutkan hawa nafsu, fenomena berhutang kini masih sering menjadi sebuah kebiasaan yang susah dihilangkan.

Namun coba lihat, banyak diantara para pengusaha atau pebisnis yang rela berhutang demi menambah modal usahanya. Mereka ingin memperluas bidang usahanya, sementara modal usahanya kurang mencukupi. Jalan satu-satunya mencari pinjaman bank. Kalau cara berhutang semacam ini masih boleh dilakukan, asal modal yang dipinjam benar-benar diputar dan pada masa yang diinginkan usahanya kian berkembang.

Sungguh disayangkan bila berhutang hanya untuk foya-foya. Saya pernah melihat sebuah kehidupan yang memprihatinkan dari pasangan suami istri yang sebenarnya bukan dari golongan kurang mampu. Memang, sumber penghasilan mereka adalah suami, si istri adalah ibu rumah tangga yang menggantungkan pendapatan sepenuhnya dari gaji suami. Kalau dilihat dari segi penghasilan sebenarnya gaji suami lumayan banyak, namun istri tidak pandai mengelola gaji suami.

Setiap gajian selalu saja ada yang baru. Baju, tas, sepatu semua baru. Untuk makan pun mereka sering pergi ke restaurant dan membeli makanan yang serba mahal. Akhirnya di tengah bulan, gaji ludes, biaya pendidikan anak terbengkalai. Apalagi bila melihat tetangganya mempunyai barang-barang yang lebih bagus darinya, ia pun tidak ingin kalah dengan tetangga. Meski dengan cara berhutang, ia memiliki barang-barang yang sama seperti milik tetangga.

Seolah abai terhadap pemenuhan kebutuhan pokok, si istri menganggap segalanya menjadi mudah. Selama masih bisa berhutang, maka semua masalah akan beres. Akhirnya berhutang ini menjadi kebiasaan, bahkan sampai gali lubang tutup lubang.

Tidak bisa membeli kebutuhan pokok, masih ada koperasi yang bisa dimintai kasbon, ambil barang-barang dengan cara potong gaji. Tidak bisa membeli baju, tas atau sepatu, masih bisa mengambil barang ke ibu-ibu yang biasa mengkreditkan barang dagangannya. Ironisnya, ketika tanggal muda, saat orang lain menerima gaji, pasangan ini hanya bisa menerima slip gaji, sementara gajinya sudah kepotong kasbon yang lumayan banyak jumlahnya.

Lantas apakah demikian yang dikatakan hidup bahagia? Bahagia itu bukan soal baju baru, tas baru atau sepatu baru. Bahagia itu menyangkut masa depan. Andai saat ini kita masih mempunyai kesempatan, maka pergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Hidup dalam sebuah keluarga, sudah pasti masa depan akan menjadi prioritas. Bagaimana kita menyiapkan pendidikan anak, bagaimana kita memikirkan masa depan mereka atau bahkan bagaimana kita menyiapkan masa tua kita nanti, tentu menjadi prioritas utama yang harus dipersiapkan sejak dini.  Apa yang kita miliki saat ini bukan untuk dihambur-hamburkan, melainkan harus dikelola dengan baik demi terjaminnya masa depan.

Alangkah mirisnya melihat kehidupan seseorang yang harus gali lobang tutup lobang hanya demi memuaskan nafsu belaka. Saya yakin walau mereka bisa mempunyai baju baru, tas baru atau sepatu baru, namun belum tentu hidupnya bahagia karena dikejar-kejar hutang.


Sadar akan harga kebutuhan yang makin membumbung tinggi, saya juga tidak ingin menjadi pribadi pemuas nafsu belaka. Ada beberapa trik yang saya lakukan agar masa depan keluarga nantinya tercukupi secara finansial:
1. Tanggal muda saat suami menyerahkan gajinya, saya harus memilah-milahnya kedalam pos-pos pengeluaran.
2. Mengalokasikan biaya kebutuhan pokok dalam sebulan, termasuk biaya makan, bayar air, beli pulsa listrik, beli pulsa hp.
3. Menyisihkan biaya keperluan anak termasuk uang jajan, biaya beli buku, bayar tabungan sekolah, bayar les privat dan bayar asuransi pendidikan.
4. Menyisihkan sebagian uang untuk tabungan hari tua.
5. Menyisihkan sebagian uang untuk beli baju, kosmetik, makan diluar, namun yang sifatnya tidak menjadi keharusan. Sebisa mungkin meminimalkan keinginan seperti ini, namun sekali waktu bolehlah.kita makan diluar bersama keluarga untuk sekedar refreshing.
6. Menyisihkan sebagian uang untuk biaya lain-lain, biasanya 10% dari total penghasilan.
7. Bila ada penghasilan tambahan dari suami, mungkin lembur atau hasil kerjasama dengan rekanan, bisa digunakan untuk investasi. Investasi ini banyak macamnya, bisa investasi rumah atau tanaman, bisa jangka pendek bisa juga jangka panjang.
8. Memanfaatkan kemampuan diri sendiri untuk menghasilkan, tentunya untuk membantu menambah penghasilan keluarga, seperti jualan, menulis dan sebagainya.


Itulah delapan trik mengelola keuangan agar terbebas dari hutang. Bukan berarti kita tidak boleh berhutang. Hutang boleh, asal untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak. Namun lebih baik hindari berhutang jika tidak benar-benar butuh. Coba bayangkan, bila uang yang kita dapatkan dari pinjaman lebih dulu habis, sementara angsuran yang harus kita bayar masih panjang jangka waktunya, itu artinya kita harus berjuang keras mendapatkan uang untuk membayar hutang. Pasti sedih bukan?

Lebih baik saat ini kita berjuang, berkorban untuk tidak menghambur-hamburkan harta yang kita miliki demi keinginan yang bersifat duniawi.  Jangan pernah menganggap masalah itu selesai dengan cara berhutang. Yang namanya hutang pasti harus mengembalikan. Pertanyaannya, mampukah kita mengembalikan pinjaman tepat waktu? Kalau tidak mampu lebih baik berpuasa dari keinginan yang rasanya kita belum bisa untuk memenuhinya.


Lebih baik kita bersusah-susah dahulu yang nantinya akan meraih kebahagiaan, daripada hidup berfoya-foya dan tidak memikirkan masa depan. Jangan berhutang kalau ingin hidup bahagia, karena tak ada orang yang hidupnya bahagia bila dikelilingi oleh hutang dan dikejar-kejar oleh penagih hutang. Dengan berhutang bisa saja bahagia saat ini, namun tidak untuk selamanya. Bukankah kita ingin tercukupi secara finansial sampai masa tua nanti?

Lebih baik hidup bahagia dan bebas dari hutang agar masa depan makin cerah.

0Shares

Tinggalkan Balasan