TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

Bioskop Berbisik, Satu Kenangan Istimewa

Bioskop Berbisik, Satu Kenangan Istimewa

Pukul 21.42 WIB.

Kujelajahi akun media sosialnya. Pandang-memandang, tak jemu foto-fotonya. Aiih … rindukah yang kurasa?

Sebenernya, aku ragu untuk menulis tentangnya. Karena ini adalah salah satu kenangan istimewa, empat atau lima tahun silam. Tepat sebelum menuju pergantian tahun.

Meski kenangan istimewa, tapi ia mulai sedikit memudar. Jadi, biar kuceritakan sedikit tentangnya. Walau samar-samar.
*
Aku mengenalnya dari kakak tingkat beda fakultas, saat mengikuti program magang. Jujur, agak canggung. Karena tak ada yang kukenal, waktu itu.

Ini acara kami yang kedua, rencananya, kami akan mengadakan nonton bareng teman-teman tuna netra.

Hah? Tuna netra? Gimana caranya??

Ssst ….

Oh ya, sebelum lanjut cerita. Perkenalkan, dia adalah Volunteer Jombang, komunitas yang lahir dari pemuda-pemudi Jombang yang tergerak untuk mengabdi pada tanah kelahiran.

Aku awalnya bingung, gimana caranya nonton bareng teman-teman Pertuni Jombang?

Sampai sore hari sebelum acara, ada briefing mengenai apa yang harus kita lakukan, saat nonton bareng nanti.

Kak Ain, pemateri dari Beling alias Bioskop Keliling, meminta kita untuk memejamkan netra. Sementara beliau, “membisikkan” film yang tengah diputar.

Rasanya … masyaAllah … aku pribadi merinding, waktu Kak Ain mulai berbisik. Bersyukur sekali, karena panca indera masih lengkap dan berfungsi.

Usai sholat maghrib, kami semua berangkat menuju lokasi yang tak jauh dari Rumah Baca Gang Masjid, tempat briefing tadi.

Tempat yang dipakai untuk nonton bareng adalah Sekretariat Pertuni DPC Jombang. Sebelum acara inti, para pembisik menjalin kedekatan dengan penonton istimewa kami. Agar tak canggung, saat acara dimulai.

Aku? Karena dari awal, bukan pembisik. Saat harus menggantikan salah seorang teman, jadi sedikit canggung.

Awal film berjalan, aku lupa film apa yang ditonton waktu itu, sempat nge-blank. Untung ada yang ngingetin, jadi bisa mulai berbisik.

Aku lupa nama bapak yang kubisiki, beliau adalah seorang tukang pijat. Meski memiliki keterbatasan, beliau tetap bersyukur masih diberi tubuh yang sehat.

Jleb! Rasanya kek ketusuk pisau, denger ucapan beliau waktu itu.

Belum lagi, seusai nonton, ada pertunjukan musik dari teman-teman Pertuni. Dan sekali lagi, meski dengan kondisi yang terbatas, mereka masih mampu bersinar.

Mereka yang memiliki keterbatasan fisik, tak pernah tak sama dengan kita. Justru mereka yang luar biasa, karena mampu meruntuhkan batasannya. Sementara kita?

Malu rasanya.
*
Menghabiskan malam tahun baru, dengan melihat kembang api. Rasanya sudah terlalu biasa.

Tapi, menghabiskannya dengan kakak-kakak Volunteer Jombang, aku rasanya itu akan menjadi satu kenangan istimewa, yang tak mudah terlupa.

Jadi Kak, kapan ada Bioskop Berbisik lagi?

Jombang, 03 Desember 2020
Salam Unyu

Catatan: sumber gambar: IG @volunteer_jombang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *