(Bukan) Lelakiku.

Kubuka buku diary, tempat favorit untuk mencurahkan unek-unek dan gelisah hati. Atau sekedar menulis untaian kata.

Yah, aku biasanya bakal cerita pada Nindi, sahabatku. Tapi, untuk yang satu ini aku ragu curhat padanya.

Lembar biru muda buku diary, dengan latar belakang laut itu masih kosong. Meski netra menatap dan jemari siap menulis, rasanya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.

Ia justru asik menerawang jauh. Teringat kembali, saat kejadian minggu siang di taman kota lalu.

*

Minggu siang, Taman Kota.

Dering telepon memotong obrolanku dan Mas Eko. Sementara Mas Eko menjauh untuk menerima telepon, kubuka gawai yang sedari tadi kugeletakkan di atas meja.

Yah, kesepakatan kami berdua memang, untuk tidak memegang gawai, saat sedang bertemu atau mengobrol.

“Telepon dari siapa Mas?” tanyaku sekembalinya Mas Eko.

“Hmm, oh ya, ada yang pengen Mas kenalin,” ujar Mas Eko.

“Siapa Mas?”

Aku tahu, entah kenapa aku sudah bisa membayangkannya. Lebih tepatnya, alasan dibalik setiap Mas Eko selalu menjauh ketika menjawab satu telepon. Tapi tidak dengan telepon lainnya. Entah dari teman atau kantor.

Adalah karena orang itu. Perempuan yang mengenakan celana jeans dan sweater warna cream itu melambai pada Mas Eko, dengan senyuman manis di wajahnya. Sementara, tangan kirinya mengandeng anak perempuan, mungkin usia lima tahun.

“Ayaaah …. “

Anak perempuan itu melepaskan genggaman ibunya, dan berlari ke arah Mas Eko. Menengadahkan kedua tangan, meminta untuk digendong. Sementara sang ibu, bergantian mencium pipi kanan dan kiri Mas Eko.

“Sayang, maaf ya ganggu meetingnya. Aku ajak Alina main dulu deh,” ujarnya sembari mengambil anak perempuan yang tengah digendong Mas Eko.

“Enggak kok, ini sudah mau selesai,” sanggah Mas Eko.

Tak kudapati raut wajah gelisah atau rasa bersalah darinya. Apakah selama ini ia hanya mempermainkan perasaanku? Atau, memang beginikah sifatnya?

“Oh ya sayang, ini yang namanya Rita,” Eko melingkarkan tangannya dipundak perempuan itu. “Rita, perkenalkan ini isteri dan anakku.”

“Hallo,” perempuan itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya.

Kuulurkan tangan kananku, dan sebisa mungkin mengontrol wajah untuk tersenyum. “Hai.”

“Mas, aku ajak Alina bermain dulu ya.”

Perempuan itu meninggalkan, aku dan suaminya. Mengajak putri kecilnya menuju tempat bermain, yang tak jauh dari tempat kami mengobrol.

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan ataupun kukatakan. Rasanya seperti tak ada tenaga. “Jadi selama ini, hanya aku saja yang menganggapnya istimewa? Mas anggap apa aku?”

Hening, tak ada jawaban dari Mas Eko.

“Maaf, Ri …. “

Deg!

“Jangan hubungi aku dulu, Mas,” kutinggalkan Mas Eko.

*

Air bening itu kembali mengalir, menuruni pipi kiriku. Tanganku bergetar, tak sanggup menuliskan satupun kata.

Kenapa? Justru saat aku merasa nyaman, harapan itu langsung lenyap seketika? Lagi?

Inikah akibat yang harus kuterima, saat diriku menolak fakta yang kutemukan dulu?

Jombang, 11 Desember 2020

Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan