Bagi sebagian orang, khususnya para pegawai baik pegawai negeri maupun pegawai swasta tentunya tak asing lagi dengan istilah “tunjangan hari raya” alias THR. Pasalnya tunjangan ini kerapkali dibagikan kepada mereka menjelang hari raya tiba. Sedang nominalnya berada di kisaran satu kali gaji pokok atau gaji utuh.

THR

Pertimbangan membagikan tunjangan hari raya ini untuk memenuhi kebutuhan selama lebaran, seperti membeli kue lebaran, menyiapkan hidangan lebaran, bagi-bagi angpau atau membeli tiket dan oleh-oleh bagi yang mudik ke kampung halaman.

Bahkan, tunjangan hari raya ini kadang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan untuk membeli baju baru. Ini adalah sebuah tradisi turun temurun yang susah dihapus. Meski lebaran tak harus identik dengan baju baru, namun menjelang lebaran mall-mall dipenuhi oleh mereka yang ingin membeli baju baru. Tak ayal saat sholat Idul Fitri tiba atau saat bersilaturahmi ke kerabat atau tetangga, masih banyak yang mengenakan baju baru.

Pun demikian THR ini juga tidak bisa dijadikan simpanan. Barangkali sekian persen saja disisakan untuk tambahan simpanan. Dengan kata lain, bagi siapapun yang menerima THR hendaknya bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung. Jangan lantas karena mendapat THR lalu kalap ingin menghabiskan seketika.

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak mendapatkan THR? Blogger misalnya! Karena pekerjaan ini murni sebuah pekerjaan yang tidak dipaksakan. Ingin mendapatkan penghasilan atau tidak itu tergantung blogger itu sendiri. Andai seorang blogger ingin berpenghasilan tentunya ia akan bekerja keras mengejar job yang sesuai dengan kriterianya. Namun bila ia tidak berharap akan penghasilan, maka ia bisa santai alias tidak mengejar job.

Bagaimana blogger bisa mendapatkan THR? Berbicara soal THR untuk blogger, mungkin hanya istilah kita saja, karena jarang ada blogger yang digaji bulanan. Gajinya tergantung job yang diterimanya. Kalau ia ingin mendapatkan THR, itu artinya di bulan Ramadhan ini ia harus rajin berburu job.

Nah, kembali ke THR tadi, tentunya yang namanya uang akan cepat habis bila salah memanfaatkan atau mengelolanya. Inilah sebabnya mengapa semakin besar gaji seseorang semakin besar pula pengeluarannya. Ini artinya berapapun gaji yang diterima, niscaya akan habis pula bila tidak dikelola dengan baik. Tak jarang orang yang bergaji besar masih saja berhutang demi memuaskan keinginannya. Lalu bagaimana dengan masa depannya bila keuangannya tidak diatur dengan baik?

Meski THR ini hanya setahun sekali cairnya, hendaknya kita harus pandai mengelolanya. Pasti kita sudah tahu berapa besarnya THR yang kita terima. Dari situ kita akan berangan mau dikemanakan THR yang kita terima nanti?

Nah, agar tunjangan hari raya yang kita terima tidak cepat habis, ada baiknya kita memperhatikan beberapa hal dibawah ini:

💟Tunjangan hari raya biasanya cair menjelang hari raya. Bagi orang tua yang mempunyai anak sekolah tentunya ada hal yang harus dipikirkan setelah hari raya usai, yaitu kenaikan kelas, masuk sekolah baru, biaya pendaftaran atau membeli peralatan sekolah. Usahakan sekian persen dari THR itu sisihkan untuk biaya pendidikan anak.

💟Jangan mudah tergoda dengan diskon, atau trend masa kini baik pakaian atau barang elektronik, karena trend itu selalu berkembang dengan cepat, kita membeli barang terbaru, baru satu bulan muncul barang baru lagi, demikian seterusnya. Bila kita ikuti trend masa kini, bisa-bisa keuangan kita akan amburadul karena menurutkan hawa nafsu.

💟Sisihkan sebagian THR itu untuk bersedekah. Momen hari raya adalah momen yang pas untuk berbagi, niatkan secara ikhlas agar ibadah kita bermakna, karena sedekah itu tak akan mengurangi harta kita.

💟Pergunakan uang THR ini untuk membeli keperluan hari raya, namun jangan terlalu mewah, sewajarnya saja. Usahakan ada sisa dari uang THR ini untuk ditabung.

💟Intinya ketika menerima sejumlah uang THR, lekaslah berhitung dan kalkulasikan untuk pos-pos kebutuhan yang sekiranya bermanfaat.

Barangkali itulah tips memanfaatkan uang THR dengan baik. Sekali lagi ketika menerima THR jangan langsung kalap. Melihat diskon berseliweran langsung tergiur, misalnya dengan menumpuk sembako atau membeli sesuatu yang bukan menjadi prioritas.

Kehidupan ini masih berjalan terus, setelah hari raya masih banyak kebutuhan menanti. Jangan sekali-kali berharap hutang karena ada yang bisa dijaminkan. Misalnya seorang pegawai negeri yang beranggapan bisa berhutang karena gajinya dapat dijaminkan dan sebagainya.

Apalagi dalam situasi pandemi seperti saat ini. Tidak semua pegawai mendapatkan THR, karena pemerintah tengah mengalihkan anggaran THR untuk sebagian pegawai di tingkat Eselon I dan II guna menanggulangi kasus Covid-19 yang makin bertambah. Bahkan mudik pun juga dilarang. Bisa jadi saat lebaran nanti tidak ada perayaan seperti tahun lalu. Tradisi saling berkunjung ke rumah kerabat dan handai taulan agaknya juga dilarang demi mengurangi penyebaran wabah Covid-19.

Semoga THR yang rencananya akan dibagikan maksimal H-10 lebaran nantinya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Terutama untuk memenuhi kebutuhan yang sifatnya mendesak. Lebih baik kita menabung demi masa depan daripada menurutkan keinginan sesaat.

Iklan
0Shares

Tinggalkan Balasan