Cara menghadapi orang yang mengalami depresi – Pernah enggak sih sahabat mengalami kepala cenut-cenut?

Saat mengalami permasalahan, kebiasaan sehari-hari kita menjadi terganggu. Bisa mengalami susah tidur, makan lebih banyak dari porsi biasanya, emosi yang meledak-ledak bahkan merasa tidak punya tujuan, dan kehilangan konsentrasi.

Apakah ini namanya beban pikiran? Enggak hanya sebuah beban, terkadang kita sendiri merasa kebingungan bagaimana menghadapi masalah tersebut. Apalagi di masa pandemi dan perubahan zaman yang besar-besaran saat ini.

Kalau fisik terluka jelas terlihat bentuknya, kalau mental kita yang terusik jelas tidak terlihat. Itulah mengapa, kita harus banyak memahami keadaan diri kita bahkan orang-orang di lingkungan sekitar kita.

Beberapa orang yang keliru memahami orang lain, cukup berisiko dalam menangapi permasalahan orang lain. Walau pun sebenarnya kita sendiri bisa khilaf melakukan kesalahan yang sama. Namun, seseorang yang mengalami depresi akan mengalami kebingungan dalam menyelesaikan masalahnya.

Ada yang menyalahkan dirinya sendiri atas situasi yang terjadi. Ada pula yang menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Tuhan Sang Pencipta.

Depresi yang berat berisiko seseorang ingin melakukan bunuh diri. Perlu kita ketahui, sebagian orang kurang memahami bagaimana menangani seseorang yang sedang mengalami depresi berat. Sehingga bukan membaik, justru membuat seseorang lebih depresi dan merasa tidak menemukan jalan keluar.

Berdasarkan dari laman health.kompas.com ada beberapa ciri orang yang mengalami keinginan bunuh diri adalah sebagai berikut:

  • menarik diri dari teman atau keluarga
  • merasa kehilangan harapan
  • membicarakan kematian
  • kehilangan minat pada aktivitas kegemarannya
  • mengalami perubahan mood ekstrem
  • menunjukan tanda-tanda kecemasan
  • mudah kesal pada hal-hal kecil

Dengan kita mengetahui tanda-tanda ini, kita menjadi lebih sadar perilaku kerabat terdekat kita. Jangan sampai kita terlupa karena kesibukan atau kebiasaan dia sebelumnya yang memang sering menyendiri.

Hal-hal yang perlu kita lakukan saat menemui seseorang yang berisiko bunuh diri:

Dengarkan

Kita tidak perlu menggurui saat orang atau kerabat sedang menyampaikan keluh kesah. Bahkan saat dia menyampaikan kata-kata yang terkesan ingin menjauh dari kita. Mendengarkan butuh keahlian untuk menahan meberikan tanggapan-tanggapan atas pembicaraannya yang merupakan permasalahan hidupnya.

Walau mungkin kita merasa permasalahan itu sepele, usahakan untuk tetap tahan ucapan untuk hanya mendengar saja. Menjadi pendengar yang baik akan membuat lawan bicara melepaskan beban pikiran. Mereka akan merasa ada seseorang yang ada di sebelahnya.

Tunjukkan bahwa dirimu ada, tanpa memberikan tuduhan atau pun pendapat miring tentang permasalahannya.

Jangan mengecilkan perasaannya

Saat kita mendengarkan, jangan sampai kita memberikan penilaian negatif terhadap dirinya. Kita berusaha berempati dan menempatkan posisi kita bagai dirinya.

Kita pun tidak perlu memberi nasehat yang pada akhirnya malah membuat dirinya merasa dikecilkan atau permasalahannya dianggap sepele. Ingat bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing atas hidupnya. Mungkin permasalahan yang dialaminya memang dirasa berat bagi dirinya dibandingkan kita.

Kita bisa berempati dengan memberikan semangat atau meyakinkan bahwa dirinya pasti mampu menyelesaikan, berikan penguat dan yakinkan bahwa dirinya itu hebat telah mampu mengahadapi masalah tersebut.

Dewi ingat ada seseorang yang pernah Dewi sampaikan, “Hebat, tidak semua orang mengalaminya, Allah telah memilihmu karena percaya bahwa kau mampu melaluinya. Kalau butuh apa-apa bilang saja padaku.”

Tunjukkan diri kita selalu ada untuknya

Sesekali kita harus menunjukkan kita ada di dekatnya, dengan menyapa atau menyampaikan bahwa kita selalu ada di dekatnya. Perlahan saat ia mulai bisa sedikit bercerita, maka dengarkanlah seperti tips sebelumnya.

Mendukung mendapatkan bantuan secara profesional

Beberapa waktu lalu Dewi membaca sebuah artikel tentang pelatihan berbicara efektif demi melakukan pencegahan bunuh diri terhadap orang disekitarnya. Salut banget dengan adanya pelatihan ini.

Pada laman kompas menyebutkan bahwa Psikiatri RSUD Wonosari Ida Rochmawati mengatakan, pihaknya bersama Pemkab Gunungkidul memberikan pelatihan kepada 100-an ibu-ibu dari seluruh kecamatan untuk menjadi kader pencegahan bunuh diri.

Sebelumnya, dalam pelatihan pertama mereka diberikan wawasan tentang gangguan jiwa dan faktor risiko bunuh diri. Pelatihan mereka diajarkan berkomunikasi jika ditengah masyarakat ditemukan orang berisiko bunuh diri”. Materi yang diberikan adalah komunikasi efektif, konseling dan komunikasi khusus.

Materi komunikasi efektif diberikan agar peserta memahami dan mengerti apa yang dimaksud dalam pikiran. Mereka diajarkan juga tentang cara bertanya tentang kematian, di situ ada beberapa model, kalau ada orang yang punya risiko kita bisa tanya apakah kamu pengen mati, atau dengan cara bertanya tidak langsung (seperti: apakah kamu pengen pergi jauh).

Seringkali orang lain menanggapi permasalahan orang lain dengan sikap menyepelekan, menggurui bahkan menyalahkan seseorang tersebut. Hal-hal ini justru akan memperburuk kondisi orang tersebut.

Selain melakukan hal-hal di atas, ada kalanya kita perlu memberikan dukungan pada yang bersangkutan untuk mendapatkan bantuan dari orang yang profesional. Keinginan bunuh diri tak hanya timbul mendadak, ada pula yang sudah dalam keinginan yang cukup lama pada diri seseorang tersebut. Adanya bantuan profesional akan membantu mengantisipasi jika terjadi keinginan tersebut muncul lagi.

Baca juga: VONIS

Cara mendukung dengan bantuan profesional pun jangan sampai membuat ia merasa tersinggung. Sebaiknya kita lebih banyak mendengar dan menginformasikan bahwa masalah yang ia hadapi mungkin saja dialami orang lain juga. Dengan bantuan orang yang profesional, setidaknya akan mendapatkan pilihan cara terbaik atas permasalahan yang sedang dihadapinya. Yakinkan bahwa saat ini, mengunjungi seorang profesional yang bergerak dalam kesehatan mental adalah hal yang lumrah.

Sebisa mungkin kita mengajak seseorang yang ingin bunuh diri untuk banyak berpikir, menggunakan logikanya agar ia bisa tetap menyadari bahwa permasalahan akan selalu mendapatkan jalan keluar.

Yakinkan selalu bahwa ia tidak sendiri. Ada diri kita di dekatnya dan ada juga Yang Kuasa Yang Maha Mengetahui, bahwa ujian seseorang itu tidak akan diluar batas kemampuannya.

Subhanallah, semoga kita termasuk orang-orang yang selalu mengingat bahwa pertolongan Allah akan selalu hadir melalui para sahabat dan kerabat. Semoga kita senantiasa berubah menjadi lebih baik dari pada diri kita sebelumnya.

“Selamat hari Kesehatan Mental Sedunia”

Salam,

Dewi Adikara

Referensi:

Ariska Puspita Anggraini,  Kompas. Hal yang Harus Dilakukan untuk Mencegah Tindakan Bunuh Diri. https://health.kompas.com/read/2020/09/11/120400068/hal-yang-harus-dilakukan-untuk-mencegah-tindakan-bunuh-diri diakses pada oktober 2020.

Kontributor Yogyakarta: Markus Yuwono, Kompas. Cegah Bunuh Diri, Ibu-ibu Dilatih Cara Tepat Dengar “Curhat” Tetangga”. https://regional.kompas.com/read/2019/06/27/16481151/cegah-bunuh-diri-ibu-ibu-dilatih-cara-tepat-dengar-curhat-tetangga diakses pada oktober 2020.

0Shares

1 thought on “Cara menghadapi orang yang mengalami depresi

Tinggalkan Balasan