Cara menyelesaikan masalah dan terpilihnya naskah terbaik pada salah satu buku kisah inspiratif – Assalamualaikum sahabat curhat!

Kali ini Dewi mau bilang bahwa cara menyelesaikan masalah setiap orang itu bisa berbeda. Mengapa bisa begitu?

Setiap orang nih punya kepribadian yang berbeda. Punya latar pendidikan, budaya, keluarga yang berbeda. Kita melakukan sikap yang sama pada permasalahan yang sama, namun respon yang di dapat bisa berbeda. Lantas harus bagaimana kita harus bersikap?

Semua tips atau kisah tidak bisa kita pukul rata, atau ditelan mentah-mentah. Kita sendiri, pemilik masalah (hadeuh … kok pemilik masalah sih, hihihi ….) harus paham benar kondisi diri dan permasalahan yang kita hadapi. Kalau dirasa diri tidak mampu, kita bisa menghubungi keluarga/orang terpercaya atau psikolog dalam membantu permasalahan yang sedang kita hadapi.

Kalau kalian sendiri mampu, kenapa tidak coba menyelesaikannya?

Simak cara mengatasi masalah dari sahabat curhat.

1.Menjadi Sadar.

Lah emang selama ini kita enggak sadar ya? Bukan begitu sahabat, hihihi.

Jadi nih, sehari-hari nih kita sudah sadar. Cuma, saat kita sedang dirundung masalah tuh seringkali ‘perasaan’ kita mendominasi. Sampai orang bisa bilang kita “baperan” lah, “sensitif” lah, atau dibilang “lagi datang bulan ya?”

Sadar di sini adalah kita mengembalikan diri kita menjadi seorang peneliti yang bisa obyektif. Cara yang paling sering Dewi lakukan adalah mengotak-atik memori. Kalau sahabat mengalami kesulitan dalam membayangkan, kita bisa menggunakan bantuan pensil dan kertas. Gambarkan permasalahan itu.

Contoh permasalahan: Suami yang selalu pulang larut malam, kita tidak tahu dia kemana. Kalau ditanya dia selalu marah.

Petakan:

Suami Marah –>akibat ditanya –> koreksi diri dengan 5W1H yaitu What Why Who When Where. Haduh begini aja pakai pemetaan. Iya serius. Saat kita kebanyakan mikir pemetaan, bapernya tuh bakal ilang hahahaha ….

5W1H adalah sebuah metode untuk mendapatkan jawaban atas informasi lebih kaya dan mendalam. Pada konteks ini kita fokus pada permasalahan kita.

Capcus kita buka satu-satu. Masih bisa bersabar untuk membaca?

Hebat!

What: Apa yang terjadi

Sepenting apakah pertanyaan kita. Apa kita hanya ingin tahu mengapa suami pulang larut malam, atau ingin tahu kemana ia pergi? pahami dulu sebenarnya apa sih yang mengganggu pikiranmu sehingga begitu ingin mendapat jawaban dari suami.

Terkadang pertanyaan kita tidak harus to the poin untuk mendapatkan jawaban yang sesungguhnya. Pertanyaan ini bisa diganti dengan “Mas, pasti capek ya hari ini, pulangnya sampai malam. Sini adek pijetin,” lanjut mesra dong, eh salah. Lanjut ke pertanyaan berikutnya. Hehehe.

“Ada kendala ya mas? kalau bisa adek bantu, cerita aja enggak papa,” walau hati sebenarnya deg-degan *waduh bantuin apa ya!?

Who: Siapa yang terlibat dari peristiwa tersebut

Pada case ini adalah diri sendiri dan suami. Kita perlu tahu, siapa yang menyulut emosi terlebih dahulu. Apakah kita yang bertanya sambil marah? Atau suami tiba-tiba marah karena pertanyaan kita? Atau suami sudah pasang wajah marah duluan saat datang tadi?

Why: Mengapa itu bisa terjadi

Mengapa dia menjadi marah saat ditanya. Coba koreksi kosakata kata kita atau intonasi kita saat bertanya.

Hem … masih bersabar untuk membaca berikutnya?

Yuk lanjut! Berdamai dengan masalah.

When: Kapan saat dia marah.

Kita perlu tahu saat bagaimana dia marah. Apakah saat kita bertanya langsung sesaat setelah dia membuka pintu rumah? atau kita membidik pertanyaan bertubi-tubi. Apakah ada pertanyaan kita yang menuduhnya atau terkesan menuduh?

Where: Dimana dia marah?

Serius nih, dimana tuh penting banget loh! Saat masalah itu muncul apa setelah kita tanyakan sepulang kerja? atau bahkan saat dia sudah senang dan santai kita bertanya dan dia menjadi marah? kalau poin kedua kayaknya perlu kita perdalam lagi nih ada apa gerangan si belahan hati marah. Apa ada hal yang tidak ingin kita ketahui? jangan su’udzon dulu, siapatau dia lagi buat surprice!

How: Bagaimana dia marah?

Apakah marah seperti sikapnya yang sehari-hari ia marah atau sebaliknya? Bisa jadi rasa lelah sepulang kerja pun memicu amarah yang lebih besar.

2.Mendekatkan diri dengan Yang Kuasa

Saat kita semakin dekat dengan Yang Kuasa, insyaAllah rasa sabar lebih menyelimuti. Namun, jangan sampai salah kaprah. Saat orang sedang dalam masalah bukan berarti dia tidak dengan dengan Yang Kuasa. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang telah bersabar bertahun-tahun, atau selalu berbisik doa kepada-Nya.

Seseorang yang sedang mengalami masalah, sedang mengalami kondisi psikis yang lagi down. Sama halnya orang yang mengalami sakit panas, bukan berarti langsung dituduh karena kebanyakan minum es atau penyebab lainnya. Bisa jadi saat itu karena daya tahan tubuhya sedang turun.

Seseorang yang sedang mengalami masalah cenderung ingin mendapatkan empati dan penerimaan diri apa adanya dari lingkungan sekitarnya.

Saat mental dalam keadaan sakit, kita benar-benar melepaskan judgment, memaksa superego untuk berfungsi normal (kamu enggak boleh begini, kamu enggak boleh begitu) dan yang terutama adalah memperbesar empati dan penerimaan.

Rizki Dawanti M.Psi, Psikolog,

Yang bisa kita lakukan pada seseorang yang sedang mengalami masalahnya adalah dengan berempati dan menyebutkan kalimat-kalimat tayyibah agar yang bersangkutan secara tidak langsung mengingat kembali pada Yang Kuasa. Saat kondisi dia telah membaik, barulah kita bisa mengajaknya kembali bersimpuh dan berdoa kepada Yang Kuasa.

3.Memperkaya Wawasan Kisah Inspiratif

Saat kita mengalami masalah, bukan terlambat untuk memperbanyak wacana untuk menemukan pemecahan permasalahan kita. Carilah sumber referensi kisah inspiratif agar bisa membantu memperkaya sudut pandang kita.

Walaupun setiap permasalahan orang itu berbeda, dengan memperkaya wawasan bisa memperluas cara berpikir kita terhadap suatu masalah. Bahwa setiap permasalahan itu selalu didampingi dengan penerimaan diri dan kesabaran. Bahkan saat kita mampu melewatinya tak jarang akan mendatangkan sebuah hikmah yang luar biasa.

Salah satu buku Kisah Inspiratif berjudul Berdamai dengan Masalah dari penerbit Rumedia alhamdulillah sudah terbit. Yeay …!

“Berdamai dengan Masalah” bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk dilalui.

Temukan berbagai kisah inspiratif, beserta penyelesaian dari permasalahan tersebut pada Buku antologi: Berdamai dengan Masalah.

Adanya buku ini, dengan harapan menjadi salah satu penguat untuk melangkah lebih baik bagi banyak orang baik yang terlibat langsung atau tidak langsung dengan permasalahan.

Penerbit Rumedia telah menelurkan berbagai karya, dimana di setiap bukunya terdapat salah satu Naskah terbaik pilihan dari seleksi tim rumedia. Pemilihan Naskah terbaik juga berasal dari Founder Rumedia yaitu bapak Ilham Alfafa.

Siapa kah kira-kira pemilik naskah terbaik dari buku ini?

Berikut kutipan cerita dari naskah terbaik buku antologi “Berdamai dengan Masalah”:

Life happens. Sh*t happens. And it happens a lot. To a lot of people.” (Collen Hoover)
*
Pernahkah kamu mengalami sebuah momen yang enggak banget?

Well, I do. Maksudku, aku benar-benar mengalaminya saat ini.
Kucoba tekan lagi tombol power pada gawai dalam genggamanku, untuk yang ke sekian kalinya.

“Dmn!” Lagi-lagi tak berpengaruh apa-apa. Ponsel yang belum ada hitungan bulan kumiliki itu masih juga tak mau hidup, juga tak mau mati. Alias “nge-hang”.

Kalau saja, ponsel ini bukan merk Xiaomi yang tak bisa dilepas baterainya. (“When Sht Happens” oleh Emmy Herlina)

Selamat mbak Emmy Herlina terpilih sebagai Naskah terbaik pada buku antologi Berdamai dengan Masalah!

Salam Literasi!

Semoga bermanfaat ya sahabat, jika menginginkan buku ini silahkan email Dewi ya di sini kontak

Salam,

Dewi Adikara

0Shares

1 thought on “Cara menyelesaikan Masalah

Tinggalkan Balasan