Assalamualaikum sahabat! Kali ini Dewi mau spoiler “Chicken soup ala nubar jilid 1”

Siapa nih yang pernah baca buku “Chicken Soup”? Buku yang beredar di era tahun 1990-an ini sukses menarik minat membaca bagi para remaja bahkan dewasa saat itu. Dewi adalah salah satu remaja yang terkagum-kagum.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari cerita-cerita inspiratif para penulisnya. Alhamdulillah, setelah bertahun-tahun Dewi berkesempatan membuat topik ini untuk berbagi kisah inspiratif bertujuan untuk menebar kebaikan kepada pembaca yang sudah menikah, bahkan untuk kawula muda dalam memandang pernikahannya di masa depan.

Chicken Soup ala Nubar jilid 1, berisi kisah-kisah inspiratif romantika dalam rumah tangga. Bukan hanya kisah romantis, namun berbagai kisah romantika yang tujuan akhirnya membawa diri untuk bersikap lebih baik untuk pasangan rumah tangga kita.

Rumah tangga berawal dari dua sejoli yang mengikat janji untuk sehidup semati hingga akhir hayat memisahkan, namun terkadang mereka terlupa untuk ‘berpegangan bahkan saling memandang’ karena terlalu mengejar target dan rutinitas. Akibatnya, pernikahan menjadi hambar bahkan jenuh. Percaya kah, ada juga akibat kejenuhan ini berakibat yang sangat fatal jika dilanjutkan?

Romantisme tidak datang tiba-tiba …! Adanya buku ini, semoga menjadi pembelajaran dalam dan wacana dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Yuk kita intip siapa pemegang naskah terbaik di Chicken Soup ala nubar jilid 1.

Suamiku ini pendiam dan tak pernah punya banyak kata-kata manis. Beberapa tahun kami bersama, jarang sekali ada untaian kata romantis yang ditujukan kepadaku. Sebelum menikah, aku sering bertanya-tanya, apakah dia benar-benar mencintaiku?

Kenapa ya, dia tidak pernah memberi kejutan atau sekadar memberi setangkai bunga untukku? Waktu terus melaju dan pertanyaanku mulai terjawab satu persatu. Ternyata, begitu banyak bahasa cinta selain kata-kata dan setangkai bunga.

Hari semakin siang, kami berjalan perlahan menuju air terjun. Ia menuntunku langkah demi langkah, menyingkirkan ranting-ranting dan bebatuan yang berpotensi membuatku terpeleset.

Meski tengah hamil lima bulan, Rogger mengabulkan permintaanku untuk berlibur di kaki gunung. Keinginanku ini memang merepotkan.

Tapi lagi-lagi, tanpa banyak bicara, ia mempersiapkan segalanya agar aku bisa tetap nyaman dan hangat meski harus tidur di dalam tenda. Kami berdua memang menyukai alam bebas. Di tahun-tahun pertama kami bersama, aku kerap mendaki gunung bersamanya.

Dialah yang mengenalkan aku dengan indahnya lautan awan di puncak-puncak gunung. Dia membawaku ke padang bunga verbena di Semeru, melihat edelweis di Surya Kencana, dan membiarkan aku berlama-lama menikmati hamparan bunga daisy di puncak Prau.

Ia telah memberiku lebih dari setangkai bunga.
“Akhirnya kita sampai,” suaranya membuyarkan lamunanku. Rogger menuntunku duduk di batu besar dekat air terjun. Kami makan sepotong roti berlapis telur dadar sambil mencelupkan kaki ke air yang dingin. Bayiku menendang-nendang seolah turut merasakan kebahagiaan ini.
“Terima kasih, sayang, sudah menemani aku ke sini. Aku senang,” ucapku.

Ia hanya tersenyum dan menggenggam tanganku. Aku memandangnya dan seketika rasa syukur membanjiri hatiku. Laki-laki ini memang tak memiliki sifat romantis yang kubayangkan sebelumnya. Namun, segala tindakannya menunjukkan cinta kasih yang tulus. Aku teringat bagaimana ia selalu menyiapkan sebotol air minum di samping tempat tidurku.

Bersambung – Beli bukunya untuk tahu lebih banyak kisah inspiratif lainnya ya:D

Chicken soup ala NuBar jilid 1

Senangnya dengan buku antologi, kita bisa membaca banyak kisah inspiratif. Semangat selalu mengisi ruang hati dengan hal yang baik yuk teman-teman.

Salam,

Dewi Adikara.

Baca juga yuk:

0Shares

Tinggalkan Balasan