“Huaaaaaaaa. Jauhiinnnn.. Jauhiiiinnn” teriakku sambil menangis.

“Hahahha… Hahahaha…” kudengar suara gelak tawa di sekitarku.

Pagi itu kelas heboh oleh teriakanku. Salah seorang teman sengaja mengikat kaki cicak dengan tali lalu dilemparnya ke arahku, ditarik lalu dilemparnya lagi, begitu terus. Aku menangis histeris diiringi gelak tawa beberapa orang teman. Aku tak begitu ingat siapa-siapa yang ikut tertawa, tapi aku bisa mengingat dengan jelas siapa pelakunya.

Namanya Candra, kami satu kelas di SMP. Entah bagaimana dia bisa mengetahui bahwa aku phobia cicak dan sengaja mengusili aku. Untung ada salah seorang teman yang inisiatif memanggil Bu Damai, guru BP.

Bu Damai menghentikan tingkah usil mereka dan segera memelukku yang masih menangis ketakutan.

“Sudah.. sudah…nggak apa-apa ya. Cicaknya sudah di depanbuang.” Suara Bu Damai menenangkan.
Aku di bawa ke ruang BP dan menenangkan diri di sana.

Waktu berlalu, namun kejadian itu menetap lama dalam ingatan.

Rasa takutku pada cicak ini bisa dibilang turunan. Eyang Kakung takut cicak, Ibuku juga takut cicak, jadi aku pikir wajar kalau aku takut cicak. Kejadian demi kejadian semakin memperparah rasa takutku.

Jauh sebelum kejadian di SMP, kira-kira aku usia TK, aku pernah mimpi kejatuhan ratusan cicak. Mimpi yang terasa nyata, sampai-sampai aku menangis teriak-teriak memanggil Kak Suli, salah seorang anak angkat bapak untuk mengusir ratusan cicak itu.
Kak Suli menggendong dan membantuku mengusir cicak yang aku rasa ada di kepala dan badanku.

“Nggak ada cicaknya lho. Dek Uung cuma mimpi tuh. Nggak ada satu pun cicak di kepalanya Dek Uung” katanya heran.

“Ada, Kaaaakkk. Banyaakk!” jawabku masih sambil terisak.

“Nggak ada, beneran deh. Cuma mimpi, Dek. Tunggu di sini, Kak Suli ambilin minum ya. Dek Uung minum dulu biar tenang.” Kak Suli masih mencoba meyakinkanku bahwa aku cuma mimpi.

Memang benar, aku cuma mimpi, Tak ada seekor cicak pun di kepalaku. Tapi kejadian itu sering membuatku bergidik ngeri bila melihat cicak bahkan hanya mendengar suaranya saja aku merinding.

Sungguh sangat tidak nyaman memiliki phobia ini. Menghambat gerak dan langkah. Aku pernah mengurungkan niat ke kamar mandi hanya karena ada cicak bertengger di plafon dekat lampu. Selalu merasa was-was bila mau mengambil panci atau wajan yang tergantung di dinding.

Bahkan, aku pernah nyaris ketumpahan air panas saat mengangkat termos yang ternyata ada cicaknya. Beruntung Eyang Uti melihat cicak tersebut dan menyuruhku meletakkan termos itu pelan-pelan. Setelah termosnya kuletakkan di meja -dengan tampang bingung- baru lah Eyang memberi tau bahwa ada cicak di termos yang kontan langsung membuatku melompat mundur.

Lama kubiarkan rasa takut ini, tak berusaha menghilangkannya dan menjalar juga ke anak keduaku. Hingga suatu waktu, aku berkesempatan mengikuti sebuah kelas pengembangan diri oleh Coach Muhammad Hujairin yang memperkenalkan aku dengan dunia NLP atau Neuro-Linguistic Programming.

Di kelas tersebut aku belajar bahwa apa yang terjadi di diri kita sekarang adalah hasil pemikiran, pengalaman dan sikap kita sebelumnya. Termasuk phobia ku. Lingkungan keluarga yang takut akan cicak, pengalaman mimpi buruk, dan kawan yang usil semakin membuat rasa takut itu tertanam.
Apalagi selama ini tidak ada niat untuk mengatasinya, bahkan kepikiran pun tidak. Rasa takutnya di pelihara.

Di kelas, saat Coach meminta salah seorang untuk maju dan disembuhkan phobianya, aku mengajukan diri. Lalu aku diminta bercerita tentang rasa takutku, asal mulanya dan pemicunya.

Aku mulai bercerita tentang anggota keluarga yang juga takut cicak, mimpi kejatuhan ratusan cicak dan sampailah aku pada cerita keusilan teman-teman SMP ku. Di situ, Coach Hujairin menanyakan apa aku ingat siapa nama teman yang mengusili aku. Tentu saja aku ingat dan kusebutkanlah nama si Candra.

Coach menanyakan padaku, bagian mana pada cicak yang membuatku takut. Aku bilang, ekornya. Ekornya yang bila terlepas meliuk-liuk itu membuatku geli, jijik bahkan takut -saat itu pun aku langsung merinding dan tak sanggup membayangkan seekor cicak-.
Lalu Coach meyakinkanku bahwa cicak itu hanyalah makhluk kecil yang sebenarnya tidak bersalah dan hanya sebagai media atas keusilan temanku.

Kemudian, Coach memintaku membayangkan jika si Candra ada di hadapanku, apa yang akan aku lakukan atau aku katakan. Dengan media sebuah spidol yang diibaratkan sebagai Candra, aku diminta meluapkan perasaanku lalu setelah menguapkan oerasaanku, aku diarahkan untuk memaafkan kelakuan si Candra.

Iya! Itu dia! Pengampunan untuk orang lain adalah kunci ketenangan jiwa kita sendiri.
Selama ini aku memendam rasa marah, kesal pada si Candra yang memang tak pernah meminta pengampunan dariku, dan ternyata secara tidak sadar hal tersebut membuat phobiaku bersemayam lama.

Coach Hujairin terus membimbing agar aku menerima diriku yang takut cicak, memaafkan si Candra dan berusaha memberdayakan kemampuan pikiranku untuk melepaskan rasa takut.

Terakhir, Coach Hujairin bercerita tentang si Tommy yang kemudian secara ajaib men’switch’ pikiranku yang dulu takut melihat cicak, sekarang malah jadi terbahak-bahak karena cerita si Tommy.
Ketika di grup alumni dikirim gambar Cicak, aku kembali tertawa terbahak-bahak.

See, kekuatan kata-kata, kekuatan pikiran bisa memberdayakan bisa juga tidak memberdayakan. Jangan salah menggunakan kata-kata dan hati-hati jika bermain dengan pikiran,
Jangan biarkan kata-kata dan pikiran menyengsarakan, terlebih jika menyengsarakan orang lain.

Terima kasih Coach Muhammad Hujairin, kini, aku bisa tertawa melihat cicak, walau belum sepenuhnya sembuh, setidaknya aku tidak histeris ketika beberapa pekan lalu seekor cicak jatuh dan bergelayut manja di bahuku.

HariKesehatanMentalDunia

NubarSumatera

RatihPaskie

0Shares

Tinggalkan Balasan