TEMA CHALLENGE IDE SEGAR WCR

Deathline Games!

Deathline Games!

Netraku perlahan mengerjap, mencoba  membiasakan dengan cahaya. Meski satu-satunya cahaya yang kutemukan adalah, lampu kuning lima watt. Kepalaku masih terasa nyut-nyutan.

Ini dimana? Sudah berapa lama aku nggak sadar?

Kedua netra sudah mulai terbiasa, melihat dalam remang-remang.

Ruang apa ini? Apa cuma ini aja ruangannya?

Kuraba-raba dinding kokoh yang mengurung. Dingin dan lembab rasanya.

Ceklek!

Pintu!

Ragu, haruskah aku keluar sekarang? Tanpa tahu apa yang ada dibalik pintu ini. Tapi … kenapa rasanya hening? Bukankah sedari tadi terdengar derap langkah kaki?

Bismillah ….

Perlahan kuputar kenop pintu. Gelap. Tak ada apa-apa.

Sepertinya ini lorong.

Terlalu gelap, sampai rasanya aku bisa mendengar degup jantungku sendiri. Kubiarkan kaki melangkah semau mereka. Biar firasat hati saja yang menuntun.

Tiba-tiba terdengar suara seperti radio yang mengalami gangguan gelombang. Semakin lama semakin jelas. Membuat kakiku berhenti melangkah seketika.

“Waktu kalian tinggal 15 menit lagi. Kalau tidaak … you’re die!”

Terdengar tawa keras dari balik pengeras suara, yang entah ada dimana.

Kuangkat tangan kanan menutupi netra, menghadang silau cahaya yang tiba-tiba muncul.

“Hei kamu! Ayo cepat lari. Waktu kita sudah tidak banyak lagi!” Tangan kiriku ditarik si pemilik suara itu, berlari lurus ke depan.

Tampak cahaya yang menyilaukan di ruangan yang ada di depan.

“Kamu siapa? Ini dimana? Kenapa aku ada disini?”

“Nanti kamu juga tahu. Ikuti saja perintahnya kalau ingin selamat.”

Glek!

Aku dan wanita yang tadi menarikku, berhasil sampai tujuan. Di sana sudah ada beberapa orang yang berkumpul. Tak tampak satu wajah pun yang kukenal, semuanya asing.

Brak! Klang klang!

Pintu lorong tempat asalku tadi menutup.

Pet! Semua lampu yang tadinya menyala, mati seketika. Ruangan kembali gelap.

Tawa terbahak-bahak itu kembali terdengar, memenuhi ruangan. Kali ini diikuti suara tepuk tangan. Satu? Tiga? Sepertinya lebih dari tiga orang.

“Hahaha … selamat selamat … selamat untuk kalian yang berhasil lolos.”

“TAPI!!” bentak suara lain. “Ada beberapa dari kalian yang curang! Seperti yang sudah-sudah, kali ini kalian yang akan menerima akibatnya. D-I-E, die!!”

Oh! Tantangan itu! Kenapa jadi begini sih?

“Hai kalian yang berbuat curang … ” bisik suara itu. “Terimalah hukuman kalian!”

Hening.

Meski disekelilingku gelap gulita, tapi masih bisa kurasakan, napas berat dari orang-orang itu. Seolah menanti akhir dari hidup mereka. Mungkin juga, mereka sedang berharap semoga mereka tak ketahuan.

Terdengar pintu yang terbuka, disusul suara teriakan seorang wanita.

“AAARGH!!”

Suara wanita itu perlahan mulai pelan, dan akhirnya hilang.

Hening, sekali lagi. Tapi rasanya kali ini lebih hening dari sebelumnya. Ada aura kengerian yang terasa.

“Nah nah nah … buat kalian yang bertahan hingga sekarang. Selamat, kalian hebat,” kata suara wanita dari balik pengeras suara, kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. “TAPI! Pecahkan petunjuk ini dalam waktu satu jam, jika kalian masih ingin menghembuskan napas,” bisiknya.

Let’s play and let Grim Reaper come to you …. “

Pintu-pintu terbuka, lampu kuning lima watt sepanjang lorong menyala. Sebuah papan menyala, terang. Di sana terdapat waktu yang berjalan mundur, dengan dua kata di atasnya.

Deathline Games!

Jombang, 17 Desember 2020
Salam Unyu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *