“Astaghfirullah! ini kan pernah aku alami! Tapi aku lupa dimana?”

“lho, orang ini pernah berkata demikian! Tapi aku pertama kali bertemu dengannya.”

“Sepertinya ini sama seperti yang pernah aku mimpi deh. Tapi aku lupa kapan mimpinya”

Pernahkah kita dalam hidup kita mengalami demikian?

Padahal ini baru pertama kali kita lakukan, tapi kita merasa perbuatan itu pernah kita lakukan atau pernah terjadi.

Atau kita pernah merasa berada atau familiar dengan tempat yang anda datangi.

Dan itu disebut dengan Dejavu.

Dejavu Dejavu atau “déjà vu” berasal dari bahasa Prancis yang artinya “sudah pernah melihat”. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh Émile Boirac, seorang filosofis dan ilmuwan asal Prancis pada tahun 1876.

Déjà vu, Pengucapan Prancis: de.3a.vy dari Bahasa Prancis, secara harfiah “pernah dilihat”, adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu. Déjà vu adalah suatu perasaan telah mengetahui dan déjà vécu (perasaan “pernah hidup melalui” sesuatu) adalah sebuah perasaan mengingat kembali.

Pendekatan ilmiah menolak penjelasan bahwa déjà vu adalah “prekognis” atau “ramalan”. Pendekatan ilmiah menjelaskan bahwa déjà vu adalah anomali ingatan, yang membuat kesan berbeda bahwa suatu pengalaman “diingat kembali”. Penjelasan ini didukung oleh fakta bahwa arti dari “mengingat” pada waktu itu sangat kuat dalam banyak kasus, tetapi keadaan pengalaman “sebelumnya” (kapan, di mana, dan bagaimana pengalaman sebelumnya terjadi) tidak pasti atau diyakini tidak mungkin. Dua jenis déjà vu yang diperkirakan ada adalah jenis patologis dari déjà vu yang biasanya berhubungan dengan epilepsi dan non-patologis yang merupakan sebuah karakteristik dari orang yang sehat dan fenomena psikologis.

Banyak psikolog dan psikiater lain yang mencoba menjelaskan penyebab terjadinya dejavu. Menurut Sigmund Freud, terjadinya fenomena ini berhubungan dengan keinginan seseorang yang terpendam. Sedangkan Carl Jung mengatakan, déjà vu terjadi karena ada sesuatu yang memicu alam bawah sadar seseorang.

Kejadian dejavu dialami oleh 60 – 80% orang dan berlangsung singkat, sekitar 10 sampai 30 detik. Fenomena ini terjadi secara acak, artinya tidak ada yang tahu siapa dan kapan fenomena déjà vu akan berlangsung. Selain itu, sebanyak 96% orang mengatakan mereka mengalami dejavu lebih dari sekali.

Pengalaman déjà vu yang terjadi berkepanjangan atau sering (merupakan hal yang tidak umum), atau berhubungan dengan gejala lain, seperti halusinasi, mungkin menjadi indikator penyakit neurologis atau psikiatris.

Para ilmuwan percaya bahwa dejavu terjadi saat hipokampus—bagian dari otak besar yang mengolah memori—mengaktifkan 2 sirkuit saraf berbeda secara bersamaan. Keduanya memiliki peran yang berbeda; satu sirkuit mencerna pengalaman yang seseorang alami saat itu dan sirkuit kedua mencari memori. Hal inilah yang memicu rasa familiar terhadap sesuatu.

Para peneliti awalnya  mencoba membangun hubungan antara déjà vu dan gangguan mental, seperti kecemasan, gangguan kepribadian terpecah dan skizofrenia. Tetapi mereka gagal menemukan korelasi penilaian diagnosis. Tidak terlihat hubungan istimewa antara déjà vu dan ganggu mental.  

Beberapa penelitian menemukan sejumlah teori yang bisa menjelaskan mengapa dejavu terjadi, antara lain Kejang di lobus temporal, Gangguan sirkuit otak, dan Aktivasi rhinal cortex (Bagian otak yang berperan dalam mendeteksi rasa familiar).

Kebanyakan orang mengalami kejadian-kejadian epileptik ringan (non-patologi) secara teratur (misalnya suatu sentakan hipnagogik, sentakan tiba-tiba yang sering, tetapi tidak selalu, terjadi sesaat sebelum tertidur), sehingga diduga kelainan neurologis (ringan) yang serupa terjadi saat mengalami déjà vu, menyebabkan sensasi ingatan yang keliru.

Para ilmuwan bahkan telah meneliti genetika saat mempelajari déjà vu. Meskipun saat ini tidak ada gen yang terkait dengan déjà vu, gen LGII pada kromosom 10 sedang diteliti lebih lanjut yang mungkin ada hubungannya. Beberapa bentuk tertentu dari gen berhubungan dengan epilepsi ringan, meskipun tidak pasti, déjà vu terjadi cukup sering selama kejang, sehingga para peneliti memiliki alasan untuk mencurigai adanya keterkaitan.

0Shares

Tinggalkan Balasan