DIMANAKAH RUMAH YANG NYAMAN BAGI ANAK? – Rumah adalah sebuah bangunan tempat tinggal tempat untuk kita pulang, bercengkerama, berkumpul dengan keluarga. Rumah memang sejatinya menjadi tempat yang nyaman bagi siapapun, baik anak, orang tua maupun seluruh anggota keluarga. Namun, sudahkah rumah kita menjadi tempat yang paling aman dan menyenangkan bagi anak dan seluruh anggota keluarga? Bagaimana menciptakan rumah yang nyaman yang sesuai dengan ungkapan home sweet home?

Mestinya keluarga membuat rumah tak sekadar bangunan, tetapi kondisi nyaman yang dirasakan orang-orang saat berada di dalamnya menjadi penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan menyejahterakan psikologis seluruh anggota keluarga.


Menjawab pertanyaan di atas, kita akan punya jawaban berbeda-beda. Berdasarkan mini survei yang dilakukan penulis pada mahasiswa, ada yang menjawab iya dan banyak yang menjawab tidak. Hal ini dikarenakan orang tua ataupun anak justru lebih merasa nyaman di luar rumah. Itu pula sebabnya banyak anak lebih suka menghabiskan waktu di luar atau di rumah teman karena tak lagi merasakan kehangatan atau menjadi diri sendiri saat berada di rumah.
Bagi anak dengan tahapan proses masih bertumbuh dan berkembang, fungsi rumah tidak hanya sekedar tempat pulang, tetapi lebih dari itu.

Rumah tempat anak berproses dalam segala keadaan

Selain untuk tempat bermain, rumah juga merupakan tempat untuk anak berproses dalam tumbuh kembang dengan segala keadaannya. Oleh karena itu, rumah yang nyaman dan aman menjadi modal utama bagi tumbuh kembang optimal anak. Rumah yang nyaman adalah rumah yang ramah anak. Lantas siapakah anak-anak itu?


Menurut Convention on The Right Of the Child, anak adalah siapapun yang berusia di bawah 18 tahun. Hal ini diratifikasi melalui Keppres Nomor 39 Tahun 1990. Menurut ilmu psikologi, anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia bermain/oddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5), usia sekolah (5-11 tahun) hingga remaja (11-18 tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang lain mengingat latar belakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat.


Dua hal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

Dalam tumbuh dan kembang ada dua hal yang mempengaruhi yaitu faktor internal dan eksternal. Rumah yang nyaman adalah bagian dari faktor eksternal anak. Tumbuh kembang sendiri tentunya melibatkan sebuah proses belajar dan kemajuan. Seorang anak hanya dapat belajar bila ada yang lainnya yang mendukung proses belajarnya, seperti orang tua, saudara-saudara dan guru. Orang tua sebaiknya tidak membiarkan anak tumbuh sendiri. Mereka harus selalu didampingi selama masa tumbuh kembang mereka. Sebagai usaha, anak dapat diberikan stimulasi dari hal-hal yang sederhana yang ada di sekitar kita.

Contoh stimulus sederhana tersebut misalnya menyapa anak, mengajaknya bercerita, mengajak jalan-jalan, menyanyikan lagu-lagu sederhana, mengenalkan benda-benda lafal jelas.


Dunia anak adalah bermain, maka segala sesuatu sebagai proses belajar anak mestinya dilakukan dengan bermain. Sehingga prioritas orang tua mestinya lebih untuk anak dibandingkan orang dewasa di skeitarnya. Karena selain sebagai tempat beristirahat, rumah seharusnya mampu menjamin keamanan seluruh penghuni yang ada di dalamnya.

Berubahnya prioritas orang tua dalam mendukung proses tumbuh dan kembang anak sangat terkait dnegan penataan interior rumah. Orang tua hendaknya tidak lagi hanya memikirkan kenyamanan dan selera pribadi saja, akan tetapi mestinya juga memikirkan faktor keamanan dan kenyamanan anak-anak kita.


Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kemanan dan kenyamanan tata ruang dan interior rumah adalah: memastikan stop kontak berada dalam tempat yang tersembunyi, menyembunyikan detergen dan atau zat beracun lainnya dari pandangan anak, memilih perabot yang aman dan nyaman bagi anak (tidak mudah pecah, lebih lentur, tidak lancip, kasar, dan tidak terlalu besar), mengunci pintu saat orang tua sedang beraktivitas di dalam rumah, memastikan tangga rumah aman (tidak kasap, tidak terlalu lebar, menggunakan tekik pewarnaan yang dapat membuat anak bisa belajar mengenal warna, tidak tajam/licin, dan tidak terlalu curam), memberi pelindung bagi sudut tajam yang ada di rumah (dengan karet dan atau menggeser sudut tajam ke tempat yang jarang dijangkau anak, serta tidak banyak memasang gambar atau hiasan rumah yang terbuat dari barang pecah belah yang mudah dijangkau anak.
Piring dan gelas yang digunakan anak saat makan juga dapat disediakan berwarna-warni dnegan gambar yang ramah anak. Hal ini memudahkan anak mengenal konsep warna.

Selain itu perlu dipikirkan lebar piring atau perkakas makan tidak terlalu besar dan tidak terlalu lebar, untuk emjudahkan anak memegang dnegan baik tanpa mudah terjatuh. Ergonomis masing-masing perkakas dan perabot di dalam rumah perlu sangat dipikirkan oleh orang tua. Hal lain yang bisa dilakukan juga dalam proses makan ini adalah belajar menghitung banyaknya benda yang ada serta belajar menyusun benda-benda tersebut sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Tempat menaruh mainan anak juga dapat difungsikan sebagai sarana belajar anak, misalnya dari bentuknya, warnanya, tempat menaruhnya di bagian rumah yang sebelah mana, serta besaran tempatnya. Hal ini dapat mendorong anak untuk mengenal konsep warna, bentuk, luas/volume benda dengan familiar melalui alat-alat rumah tangga yang ada di sekitar rumah. Sehingga sebelum mementukan apa yang akan dipakai untuk sesuatu, orang tua dapat terlebih dahulu memikirkan kegunaan/fungsi, keamanan, kenyaman dan manfaatnya bagi anak. Stimulasi bagi anak memang perlu diusahakan, sehingga kemampuan anak juga dapat dioptimalkan. Makin banyak stimulasi, maka perkembangannya makin baik. Sehingga anak-anak tidak hanya disibukkan dengan sebuah alat yang kita kenal dengan gadget.

Gadget membuat anak malas untuk kemana-mana, malas melakukan aktivitas dan malas untuk eksplorasi alam. Hal ini akan mematikan kreativitas anak dan gerakj anak menjadi terbatas, maka muncullah anak dnegan obesitas misalnya dan anak yang bossy, sebagaio akibat dari penggunaan gadget yang sudah dilakukan oleh anak-anak.
Dalam mengatur dan membrikan aturan main di rumah, orang tua perlu juga belajar dunia anak. Sebab anak bukan manusia dewasa mini. Kecenderungan sikap orang tua seringkali lupa bahwa diri mereka pernah menjadi anak, sedangkan anak belum pernah merasakan menjadi orang tua. Orang tua sebagai orang dewasa selalu lupa bahwa yang dialami oleh anaknya juga pernah dirasakannya dulu. Karena itu, orang tua perlu duduk sama rendah dan menyamakan frekuensi dengan anak. Sekali lagi kita bertumpu pada skala prioritas.

0Shares

Tinggalkan Balasan