Haiii Sobat Curhat..

Masih inget curhatan si Umi tentang donat gagal tempo hari? Iyeess, yang donatnya keras, bentuknya ancuurr, hahaha. Lupakanlah yaa.

Naah, kemarin si Umi kembali mencoba membuat donat. Si Umi udah yakin donatnya lembut, menul-menul, bentuknya cakep, dan white ringnya muncul. Soalnya, si Umi sudah mengikuti step-step pembuatan donat yang pernah dishare teman si Umi. Selain itu, udah punya alat tempur yang memadai, yaitu mixer yang berkapasitas besar dan mampu mengadon donat.

Namun, apa daya, saat proses pembuatan donat belum selesai, si Umi sudah harus antar Mamas Ihan daftar sekolah. Padahal waktunya sudah diperkirakan pas lho, donat siap dihidangkan, si Umi baru antar mamas. Ternyata, meleset, Sobat Curhat. Sepertinya si Umi salah menghitung waktu mengadon. Alhasil, adonan yang baru separuh jalan itu si Umi serahkan pada Mbak Naya untuk melanjutkan prosesnya. Tinggal nunggu proofing, membentuk pakai cetakan donat, proofing kedua, lalu goreng. Seingat si Umi, semua step sudah diajarkan secara kilat.

Di jalan, si Umi masih kepikiran soal donat, Sobat Curhat. Kepikiran, gimana proses proofing-nya, apakah sempurna, atau malah over proofing. Mana si Umi lupa memberi tahu pada saat menggoreng donat, hanya boleh dibalik satu kali, agar matangnya sempurna dan tidak menyerap banyak minyak. Makin kepikiranlah jadinya. Hufft!

Untungnya, urusan daftar sekolah nggak memakan waktu yang lama. Jadi bisa cepat pulang. Sampai di rumah, ternyata Mbak Naya udah selesai membuat donatnya. Setelah cuci tangan menggunakan sabun, si Umi mencomot donat dan menaburkan gula halus. Alhamdulillah, donatnya enak, empuk, wangi, Sobat Curhat! Yaa, walaupun bentuknya belum mulus dan white ring belum muncul, setidaknya nggak keras seperti tempo hari, hahaha.

Siang menjelang sore, si Umi mencoba membuat donat lagi. Kali ini menggunakan resep yang di dapat dari pembelian mixer. Setelah membaca resepnya (si Umi baca resep dari awal sampai akhir, Sobat Curhat. Soalnya tempo hari ketika mengeksekusi sebuah resep, si Umi malas membaca, akibatnya ada bahan yang terlewat tidak dimasukkan ke adonan, hahaha), ternyata step-stepnya mirip dengan step pembutan donat teman si Umi. Yaitu, pemisahan semua bahan kering, bahan basah, butter dan garam. Cuuuzz, langsung eksekusi.

Alhamdulillah hasilnya kali ini lebih lembut, rasanya lebih enak dan menul-menul, tapiii tetap saja white ring-nya masih malu menampakkan diri. Huufftt! Dan teman si Umi bilang, white ring tidak muncul karena adonan belum kalis elastis sempurna. Hmmm, butuh kesabaran yang luar biasa dalam membuat donat. Mending buat pempek deh, hihihi.

Karena penasaran, si Umi kembali mengadon donat. Kali ini mencoba resep seorang selebgram plus penulis buku resep. Katanya, itu resep anti gagal, baiklah mari kita coba.

Awalnya, si Umi masih semangat, Sobat Curhat. Tapi lama-kelamaan si Umi merasa capek. Jadi, tanpa menunggu adonan kalis elastis, langsung proofing. Waktu proofing pun dipangkas, sehingga adonan belum mengembang sempurna. Alhasil, pembuatan donat yang terakhir ini lebih berantakan dari sebelumnya. Baik soal rasa maupun bentuk. Yaa, walau tidak separah donat tempo hari, hahaha.

Jadi nih ya, Sobat Curhat, ada beberapa pelajaran penting yang bisa si Umi ambil dari seluruh proses hari ini. Yaitu, yang pertama, bagus untuk mencoba dan mencoba lagi, tidak langsung menyerah. Namun, tetap ukur kapasitas diri, jangan ‘ngoyo’, karena hasilnya pun tak akan maksimal.

Lalu yang kedua, walau resep anti gagal sekalipun, jika membuatnya tak sepenuh hati dan dalam kondisi sudah capek, hasilnya tidak akan memuaskan. Jadi balik lagi, jangan ‘ngoyo’ dan tau kapan harus berhenti sejenak. Nanti boleh dicoba lagi, tapi jangan nekad langsung harus bisa menaklukan hari itu juga. Yang ada mah bisa stress. Duh! Jangan sampai yaa.

Yang ketiga, alat yang canggih tidak ujug-ujug jadi jaminan hasilnya akan sempurna. Tetap harus paham dulu pakemnya, lakukan step-step dengan benar dan sabar. Jika tidak, ya percuma punya alat canggih, nggak maksimal juga hasilnya.

Yang terakhir, support orang-orang tersayang itu sangat penting. Bagaimanapun bentuk dan rasanya, ketika ada penerimaan dari mereka, semua lelah terbayarkan. Jadi jangan pernah mencela masakan seseorang. Beri apresiasi, jangan pelit pujian. Dan jika ingin memberi masukan, sampaikan dengan baik dan santun, tidak dengan celaan. Alhamdulillah, anggota keluarga 7R mah saling support, walau ada yang gosong sekalipun, tetap aja dimakan walau sambil meringis, hihihi. Kan si Umi nggak jadi baper. Dan masih punya semangat untuk mencoba lagi besok-besok.

Iyap, si Umi masih penasaran nih, Sobat Curhat. InsyaaAllah, nanti si Umi mau mencoba lagi, belajar lagi. Sampai berhasil. Demi bisa menyajikan donat terenak untuk kesayangan. Wish me luck ya, Sobat Curhat. 🤗🤗🤗

Sampai jumpa di curhatan si Umi berikutnya. 🥰🥰🥰

0Shares

Tinggalkan Balasan