Irreplaceable

Pada awalnya di rumah hanya ada satu hewan peliharaan saja “Si Motor”. Si Motor adalah panggilan untuk burung perkutut peliharaan Bapak.

Boleh disebut Si Motor ini merupakan burung yang sudah “jadi” suaranya sangat merdu. Ketika Bapak bersiul Si Motor pasti menyahut dengan suaranya yang sangat merdu, sehingga siapapun yang datang kerumah pasti kagum dengan suara Si Motor.

Tak jarang yang berniat meminangnya dengan harga yang fantastis. Tapi Bapak tak pernah memberikannya kepada siapapun. Pendek kata Bapak sangat sayang dengan Si Motor.

Begitulah tentang the first one, Si Motor.

Hingga pada suatu sore sedang hujan datanglah seekor kucing lucu berwarna putih dengan sedikit motif hitam, agak mirip dalmation. Seisi rumah sangat senang karena selain lucu, kucing ini pun unik.

Ekornya tidak panjang seperti kebanyakan kucing lainnya. Ekor Kucing ini pendek sekitar 5 cm dan bentuknya seperti tanda centang. Kami sepakat memanggilnya Entang.

Setiap hari kami secara bergiliran memberinya makan ketika dia pulang dari luar. Atau bahkan ketika kami makan bersama dan dia ada di rumah, maka diapun ikut makan bersama, betapa dia sangat solid dengan keluarga kami.

Oiya, Entang berjenis kelamin perempuan. Dia sangat lucu dan energik, maka saking sayangnya saya dan keluarga kepada Entang ini, tak jarang dia ikut tidur di kasur kami. Bahkan kami kadang berebut untuk tidur bersama Entang.

Pendek kata Entang adalah seekor kucing lucu dan manis yang disayang oleh seisi rumah. Tak terkecuali Bapak.

Kondisi ini berlangsung lumayan lama, sampai suatu ketika Entang membuat Bapak marah dan tak mengizinkan untuk memelihara Entang lagi.

“Duh Entang!” teriak Bapakku.

“Motorku yang malang” rungutnya.

Dua emosi berlawanan yang menyatu, begitulah rasa kehilangan.

Sejurus dengan itu “Miawwwww…” seekor kucing terbirit-birit berlari sekencang-kencangnya, sambil membawa seekor burung yang sudah terkulai.

“Ada apa, Pak?” Tanya ibu kepada bapak diikuti aku keluar dari kamar dengan wajah kaget.

“Lihat, bu!” Tangannya menunjuk ke arah sangkar burung yang sudah kosong.

Saya dan ibu saling lirik, sama-sama terbelalak sambil menutup tangan ke mulut, tak percaya “Waduh gawat…” desisku.

“Si Motor dimakan Si Entang” dengan lunglai bapakku menjawab.

“Nanti kalau ada Entang kesini lagi tak usah dimasukkan ke rumah ya” pintanya.

Saya dan Ibu saling bertatapan dan menganggukkan kepala tanda mengiyakan keinginan Bapak, yang sedang patah hati karena kehilangan Si Motor burung perkutut kesayangannya dan tetiba membenci Si Entang yang memakan Si Motor.

Kami sangat sedih, tapi keputusan Bapak sudah tidak bisa diganggu gugat. Kami tak diizinkan membukakan pintu dan memberi makan Entang lagi. Walaupun Entang selalu berada di sekitar rumah. Bapak mengetahui akan hal itu.

Sebulan berlalu dari kejadian itu.

Sore yang cerah mengantarkan saya untuk menanyakan keputusan Bapak tentang Entang. Bapak sedang duduk santai di beranda rumah. Berharap cerahnya sore dapat membuat Bapak berkeputusan yang baik terkait Entang.

“Pak, bolehkah Entang tinggal disini lagi?” Pintaku kepada Bapak.

“Belum untuk saat ini” Jawabnya pendek dan berlalu dari hadapanku.

Begitulah rasa sayang yang mendalam terhadap sesuatu dapat mengubah rasa sayang menjadi benci. Juga menimbulkan rasa kehilangan yang menyakitkan.

Sayup terdengar lagu Letto terdengar “Rasa kehilangan hanya akan ada, jika kau pernah memilikinya”

Mungkin suatu saat luka kehilangan itu akan sembuh sehingga Bapak mengizinkan kami untuk bisa memelihara Entang yang lain. Semoga!

0Shares

Tinggalkan Balasan