(Jawaban atas Doaku)

 oleh Sukma

Saat aku membuka mataku dari tidur siang, aku mendengar suara lelaki yang kukenal sedang mengobrol dengan ibu. Antara yakin dan tidak aku menoleh ke sumber suara. Aku begitu terkejut, mas Rava datang dan langsung menyampaikan niat ta’aruf kepada ibu dan saudara laki-lakiku sebagai wali karena Ayah telah meninggal dunia 14 tahun yang lalu.

            Aku hanya merasa bahwa Allah telah menunjukkan kekuasaanNya. Saat aku memohon petunjuk atas lelaki yang menjadi imamku. Allah memberikan keputusan untuk memisahkan aku dan mantan tunanganku. Dan langsung mendatangkan mas Rava untuk menjawab doa-doa yang ku panjatkan.

            “InsyaAllah yakin bu, aku sudah melakukan istikharah dan tahajud memohon petunjuk kepada Allah. Dan hanya dia yang tetap bertahan walau sudah tahu kekuranganku bu”jawabku dengan penuh keyakinan.

            Dan ibupun membimbingku ketempat ijab kabul, dimana Mas Rava telah menunggu bersama penghulu dan tamu undangan yang hadir. Aku menunduk kepala dan melirik sekilas ke arah mas Rava yang telah duduk lebih dahulu.

            Lalu proses ijab Kabul pun berlangsung, aku tahu mas Rava gugup seperti halnya diriku. Namun, lafal ijab Kabul hanya satu kali di ucapkan mas Rava, setelah itu pak penghulu memimpin untuk kami dan diaamiini oleh para tamu undangan yang hadir.

            Kami memang tidak melalukan resepsi secara besar-besaran seperti orang-orang pada umumnya. Itu adalah kesepakatan kami, bahwa ingin melakukan pernikahan ini secara sederhana dan khidmat.

            Aku melirik lagi ke arah mas Rava yang duduk disebelahku, apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku saat ini. Bagaimana jantung ini berdetak lebih kencang dari biasanya. Sejak aku keluar dari kamarku sampai dia selesai mengucapkan ijab Kabul.

            “Tahukah kamu mas, bahkan aku berdoa dalam hati bahwa kamu akan lancar mengucapkan ijab Kabul” bisik batinku sambal melirik kearah mas Rava, tapi ternyata mata kami bertemu. Membuat wajah kami bersemu malu. Mungkin orang-orang sedang memperhatikan kami yang sedang duduk dipelaminan.

            “Kamu telah sah menjadi istriku Dek”bisik Mas Rava ditelingaku membuatku makin menunduk malu. Dan mas Rava menggenggam tanganku, aku merasakan kehangatan yang mengalir disana. Namun, genggaman itu tidak lama karena para tamu undangan hendak menyalami kami memberikan selamat atas pernikahan kami.

            Setelah tamu-tamu yang bersalaman dengan kami sudah pergi, kami kembali duduk. Aku mendengar mas Rava seperti bersenandung pelan. Aku menatap mas Rava dan mas Rava balas menatapku sambal terus bersenandung, aku tersenyum dan menunduk malu.

22 Januari kita berjanji
Coba saling mengerti apa didalam hati
22 Januari tidak sendiri
Aku berteman iblis yang baik hati
Jalan berdampingan
Tak pernah ada tujuan
Membelah malam
Mendung yang selalu datang
Ku dekap erat
Ku pandang senyummu
Dengan sorot mata
Yang keduanya buta
Lalu kubisikan sebaris kata-kata
Putus asa sebentar lagi hujan
Dua buku teori kau pinjamkan aku
Tebal tidak berdebu kubaca slalu
Empat lembar fotomu dalam lemari kayu
Kupandang dan kujaga sampai kita jemu 


0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan