Jangan Jadikan Aku Sephia

Hinggar binggar suasana di kafe, tak menyurutkan jermariku asik menari diatas keyboard, yang terhubung dengan gawai pintar melalui bluetooth. Tiba-tiba pandangan netraku berubah menjadi gelap, karena tertutup tangan jahil.

Si empunya? Sudah jelas aku tahu siapa dia.

“Coba tebak, siapa hayo … ” pinta si pemilik tangan yang tengah menutupi kedua netraku.

“Apaan sih Mas, jangan jahil deh.” Kulepas tangannya dari netra. Ugh! senyummu Mas. Bisa-bisa aku diabetes nih.

“Udah lama nunggunya?” tanyanya.

“Belum kok, baru jadi satu bab buat calon novelku,” jawabku, sementara fokusku kembali pada layar kecil gawai pintar.

Mas Andra, laki-laki yang tengah duduk di depanku itu, tahu betul kebiasaanku saat sedang berada di depan gawai, dengan keyboard mini yang terkoneksi. Maka, ia akan duduk manis dan diam menatapku. Mengamati setiap gerak-gerikku, seolah aku adalah hewan buruannya.

Oh, oke. Aku sedikit jengah, saat Mas Andra terdiam mengamati. Fokusku menuliskan cerita, menguap sudah.

“Lho, sudah selesai nulisnya?” tanya Andra.

“Udah, lanjutin ntar aja,” kumasukkan keyboard ke dalam tas. “Mmm … oh ya Mas, kita kan udah jalan bareng setahun lebih. Dan … Mas juga udah janji ke Indri …. “

Kutundukkan kepala, menyembunyikan rona di pipi. Ada sedikit ragu, melanjutkan tanya itu. Tapi, kalau nggak sekarang, kapan lagi? Toh, Mas Andra selalu menghindar, kalau ditanya soal itu.

“Jadi … kapan Mas mau ngelamar?” tanyaku sembari mengaduk-aduk minuman yang hampir separuh gelas kuminum. “Aku mau kok Mas, kalau seandainya …. “

Tulilulit tulilulit tulilulit.

Dering suara gawai Andra memotong ucapan Indri. Membuat garis-garis cemberut di raut wajahnya.

“Sebentar ya sayang … ” dibelainya punggung tangan kiri Indri, yang sedari tadi digenggamnya. Lantas Andra bangkit dan sedikit menjauh, mengangkat panggilan telepon.

“Kenapa Mas? Telepon dari siapa?”

Andra kembali dengan raut wajah cemas.

“Sayang, maaf ya … aku harus pulang sekarang. Demam Putra belum turun juga sejak siang tadi. Maaf ya sayang … “

“Tapi Mas … “

Andra mengecup puncak kepala Indri, lantas bergegas menuju tempat parkir.

Ada amarah yang tertahan, saat Indri menatap punggung Andra. Tapi ia juga tahu, bahwa posisinya juga salah. Meski rasa diantara keduanya sama.

Aku mencintaimu, tapi aku lelah jadi Sephia-mu Mas ….
***
“Ndri, lu kan cantik, banyak yang naksir. Duit juga, nggak kekurangan. Tapi kenapa sih, lu kok mau-maunya jadi Sephia?” tanya Nia, sahabatku. Sekaligus satu-satunya orang yang tahu hubunganku dengan Mas Andra. “Masak sih, nggak ada lelaki single yang lu taksir? Harus banget Andra, yang udah punya anak bini?”

Andra mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Indri. Membuyarkan lamunannya.

“Kenapa sayang? Kamu lagi sakit?” disentuhnya dahi Indri. “Hmm, nggak panas kok. Atau lagi ada deadline tulisan? Mau dibantu?”

Ditepisnya tangan Andra. “Enggak kok Mas …. “

Sayup-sayup, nada lagu Sephia mulai mengalun.

“Oh iya, sebagai permintaan maaf kemarin lusa, aku punya sesuatu untuk kesayanganku,” Andra menyodorkan kotak kecil berwarna merah. Dibukanya pelan kotak itu.

Saat kotak terbuka, dibagian tutup terdapat tulisan will u merry me? Sementara dibagian dalam cincin bermata biru itu, terdapat ukiran endless love.

“Gimana? Suka nggak sayang?” tanya Andra.

Indri terdiam menatap cincin itu. Kenapa? Bukankah harusnya aku senang? Karena pada akhirnya orang yang kusukai melamarku? Tapi kenapa hati terasa janggal?

“Sayang?”

“Mas … yakin mau … menikah denganku?”

“Hei … kamu kenapa sayang? Bukannya ini yang kita mau?” Andra menggenggam jemari Indri.

“Tapi … Mbak Kenanga gimana? Apa … apa dia … setuju?” Indri merasa detak jantungnya berdebar lebih cepat, membuat napasnya tercekat. Netranya terasa berkunang-kunang.

“Sayang … kamu nggak apa-apa?”

“Mas, kita pulang sekarang ya … ” pinta Indri.

Melihat kondisi Indri, tanpa membantah ia menuruti pintanya.

Sepanjang perjalanan, Indri mencoba memejamkan netranya. Istirahat barang sejenak. Hanya deru mesin mobil yang terdengar.
***
Sebulan sudah sejak saat itu, Indri memilih untuk berjarak dengan Andra. Ia meminta waktu dan ruang untuk dirinya merenung. Sebelum memutuskan, apakah sebaikknya mereka meneruskan hubungan atau menyudahinya.

Selama itu pula, Indri diam-diam melihat tumbuh-kembang jagoan Andra.

“Ndri, sebelum lu terima itu lamaran si Andra geblek, coba deh lu jawab pertanyaan gue. Gue nggak mau nasehatin atau ngelarang, karena yang tahu pasti cuma diri lu sendiri. Jadi, cukup jawab dalam hati aja,” ujar Nia.

“Lu yakin, Andra masih bisa jadi sosok yang baik buat anak dari istri pertamanya? Lu tahu kan, gimana rasanya tumbuh tanpa sosok seorang ayah? Apa lu tega, ngebiarin, seandainya apa yang lu alamin, terjadi sama anaknya si geblek?

Satu lagi, apa lu masih dendam sama orang itu?”

Ada bola sepak yang menggelinding di kaki Indri, cukup membuyarkan lamunannya tentang obrolan dengan sahabatnya itu. Netra Indri yang cukup awas, menangkap sosok bocah laki-laki tengah berlari ke arahnya.

“Kak, aku minta maaf, kalau bolaku mengenai kaki kakak. Tapi … apa boleh aku minta kembali bolanya?” tanya sopan. “Soalnya … itu kado ulang tahunku dari ayah kak. Jadi, please ….”

Indri tersenyum mendengar ucapan bocah laki-laki itu. Lantas ia menyodorkan bolanya.

“Terima kasih Kak!” teriak bocah itu sambil membungkuk, dan segera berlari meninggalkan Indri.

“Sama-sama …. “

Indri mengambil gawainya, mencari kontak nama dan diketiknya sebuah pesan singkat.

“Mas, jangan jadikan aku Sephiamu. Bye!”

Jombang, 02 Nopember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan