Jawaban atas doaku

“Benar, kamu sudah yakin sama dia?”

            Ibu memandangiku yang sedang duduk menghadap cermin. Akupun balik memandang Ibu yang sedang duduk diatas ranjangku dan tersenyum tanpa membalikkan badan didepan cermin. Aku berkenalan dengan mas Rava setahun yang lalu, saat aku melakukan pelatihan yang diselenggarakan oleh kantor untuk meningkatkan kualitas karyawannya di kota tempat tinggal mas Rava. Kebetulan teman pelatihanku, mbak Dian adalah teman satu sekolah mas Rava. Saat ketemuan dengan mas Rava,  mbak Dian memintaku untuk menemaninya agar tidak timbul fitnah karena mbak Dian sudah menikah dan mempunyai sepasang anak kembar.

            Mbak Dian memperkenalkan aku dengan mas Rava, kami saling memperkenalkan diri, dan akhirnya aku hanya diam karena tidak tahu apa yang dibicarakan antara Mbak Dian dan mas Rava sewaktu mereka sekolah menengah.

            Mbak Dian begitu terkejut mendengar kisah mas Rava bahwa dia telah bercerai tanpa memiliki keturunan karena mantan istrinya kembali kepada mantan pacarnya sewaktu kuliah. Mbak Dian menyayangkan bahwa pernikahan mas Rava hanya seumur jagung dan itu membuat trauma tersendiri bagi Rava karena mantan istrinya adalah cinta pertamanya saat SMU.

            Waktupun sudah menunjukkan pukul 7 malam, kamipun berpisah. Mbak Dian dan aku harus kembali ke penginapan, sedangkan mas Rava harus membeli susu untuk ibunya.

            Setelah pertemuan kami yang singkat itu, kami tak pernah bertukar nomor handphone dan saling berkomunikasi. Namun, Allah mempunyai skenario yang sangat terduga. Saat aku sedang diopname dirumah sakit karena kista endodermis yang harus dilakukan tindakan operasi. Mas Rava tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan bahwa dia ingin melakukan ta’aruf kepadaku.

Aku yang saat itu sedang terpuruk karena saat aku harus berjuang melakukan operasi, mantan tunanganku meminta kami untuk putus. Aku menangis mendengar permintaan mas Rava

“Kamu menangis? kenapa? Apa aku salah ya?” tanya mas Rava diseberang telepon

Akupun menceritakan secara jujur bahwa saat ini aku sebagai perempuan tidak lagi sempurna karena operasi yang telah aku lakukan. Dan kemungkinan untuk mendapat keturunan sangat kecil bila melihat dari riwayat kesehatanku.

“tidak  apa-apa. Aku hanya ingin menyempurnakan agamaku bersama kamu. Kamu dirumah sakit mana? Aku akan kesana, dan langsung bertemu dengan kamu serta walimu”

Mas Rava menanyakan tempatku dirawat dan terus meyakinkan aku. Aku pun memberitahu tempatku dirawat. Antara percaya dan tidak bahwa mas Rava akan datang menjengukku.

Setelah dua hari, mas Rava belum menunjukkan tanda-tanda akan datang menjenguk. Sehingga aku harus mengikhlaskan bahwa omongan mas Rava hanya penghiburku saat aku sedih.

Saat aku membuka mataku dari tidur siang, aku mendengar suara lelaki yang kukenal sedang mengobrol dengan ibu. Antara yakin dan tidak aku menoleh ke sumber suara. Aku begitu terkejut, mas Rava datang dan langsung menyampaikan niat ta’aruf kepada ibu dan saudara laki-lakiku sebagai wali karena Ayah telah meninggal dunia 14 tahun yang lalu.

Aku hanya merasa bahwa Allah telah menunjukkan kekuasaanNya. Saat aku memohon petunjuk atas lelaki yang menjadi imamku. Allah memberikan keputusan untuk memisahkan aku dan mantan tunanganku. Dan langsung mendatangkan mas Rava untuk menjawab doa-doa yang ku panjatkan.

            “InsyaAllah yakin bu, aku sudah melakukan istikharah dan tahajud memohon petunjuk kepada Allah. Dan hanya dia yang tetap bertahan walau sudah tahu kekuranganku bu”jawabku dengan penuh keyakinan.

            Dan ibupun membimbingku ketempat ijab kabul, dimana Mas Rava telah menunggu bersama penghulu dan tamu undangan yang hadir.

Oleh Sukma

0Shares

Tinggalkan Balasan