Oleh Ratih Paskie

Kado ini untuk Bapak
Lelaki pertama yang menyayangi aku
Meski kadang tak nampak
Tapi doanya selalu ada untukku

Kado ini untuk Bapak
Yang tanpanya, tiadalah aku
Yang matanya pernah basah karenaku
Yang sujudnya panjang mendoakanku

——-

Tak banyak yang bisa kuingat tentang kebersamaan kami. Mungkin karena aku lebih sering menghabiskan waktu bersama kakung dan uti, orang tua Ibu, saat bapak dan ibu mengajar. Lalu mereka juga pernah melanjutkan kuliah ke luar kota, meninggalkan aku dan adikku.

Yang kuingat, panggilanku pada bapak berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Ketika baru belajar bicara, aku hanya bisa memanggil nama, lalu babe, bapak, ayanda (ayahanda) dan akhir-akhir ini kembali memanggil ‘Bapak’.

Kata ibu, aku pernah berlumur oli, karena saat itu aku menangis digigit semut, sedangkan Bapak sedang memperbaiki motor. Reflek tangannya yang penuh oli segera mengangkatku, mengusir semut yang merubungi. Dan akupun jadi terkena oli dari tangan bapak.

Bapakku orangnya humoris tapi juga auranya membuat orang segan bahkan takut. Kalau kata keponakan bapak “Pakde serem banget!”. Tapi, seingatku bapak jarang marah pada kami.

Hari ini tepat 39 tahun usiaku. Dalam rentang waktu itu, mungkin aku belum pernah sekalipun mengucapkan terima kasih. Padahal aku tau begitu banyak pengorbanan bapak untukku.

Aku memang pernah membencinya atas sebuah keputusan yang tak bisa aku terima. Tapi kata Ibu “bagaimanapun beliau tetap Bapakmu”

Perlahan aku sudah bisa memahami, bahkan perasaan pernah terabaikan ketika bapak ibu lebih memilih sibuk kuliah jauh dari kami juga sudah bisa aku terima.

Hari ini, aku menghadiahkan lima buku antologiku untuk bapak. Karena dari dulu bapak yang mendorongku untuk menulis. Walau masih berbentuk buku antologi, Alhamdulillah namaku ada di deretan penulisnya. Semoga karya kecilku ini bisa membuat bapak bahagia. “Terima kasih, Bapak. And, I Love You!’

0Shares

Tinggalkan Balasan