Kamu Satu, Selamanya

Semilir angin malam turut menemani lamunan jelang malam. Kuamati lamat-lamat gelap langit malam tak berbintang. Sesekali kuhembuskan asap rokok, yang tengah kuhisap. Tinggal seuprit, ini sudah batang ketiga.

Terbayang-bayang wajah manis Dek Nan, tetangga baru jarak sebelas rumah. Perempuan yang tinggal berdua dengan adeknya itu, masih sendiri. Entah apa alasannya, padahal parasnya sebelas dua belas dengan Lisa Blackpink.

Sapaan setiap pagi dan sorenya, saat membeli lauk di warung. Selalu menjadi perhatian dan rebutan Parmin dan Jono, untuk melayani pesanannya.

Membuatku terpaksa turun tangan, saat Dek Nan datang ke warung. Karena kalau tidak, pembeli lain bisa-bisa pada minggat gegara nggak ada yang ngelayanin.

Kuhisap dalam-dalam rokok yang tinggal sekali hisap. “Haah … “

Asap rokok mengepul dari mulutku.

Sayup terdengar suara motor dari ujung gang. Tak lama, lewat sebuah motor ninja warna hitam. Pengendara yang tengah membonceng mengenakan jaket hitam kulit dan celana jeans, serta helm full face.

Sementara yang dibonceng duduk menyamping adalah seorang perempuan mengenakan pakaian kemeja tanpa lengan dan rok jeans selutut. Helmnya biasa, dengan kaca hitam. Tangannya mengapit tas kecil warna merah.

Meski begitu, aku tahu siapa perempuan yang dibonceng itu. Tetangga baruku.

Lho? Bukannya tadi pagi dia berangkat, pakai baju dinas? Terus, yang nganter pulang, kok beda lagi?

Masak sih?

Gerimis mulai mengguyur, membuat malam semakin dingin. Padahal masih jam 20.00.

“Mas, lagi ngelamun apa?” tanya sebuah suara dari arah pintu.

Perempuan yang mengenakan gamis warna merah maroon, dengan kerudung senada itu membawa sepiring gorengan yang masih menggepulkan uap. Plus, secangkir kopi dan segelas teh anget.

Astaghfirullah … wajah ayu Sri emang masih kalah jauh, kalau dibandingin sama Dek Nan. Tapi dia adalah isteri yang kucintai. Toh, kecantikan bisa memudar saat tua, meski sudah perawatan yang paling mahal sekalipun.

Dek Nan mungkin perempuan yang bisa menarik semua perhatian lelaki. Tapi Sri, selalu mampu membuatku hanya menatapnya. Yah, meski sempat teralihkan.

Dek Nan perempuan yang mandiri, dan mungkin manja pada lelakinya (?). Tapi Sri juga memiliki kedua sisi itu. Mandiri saat di luar, manja saat hanya ada kita berdua. Seperti ini misalnya, kedua tangannya bergelayut sementara disandarkan kepalanya di pundakku.

Ah, Sri. Pesonamu memang tak ada duanya.

Astaghfirullah … astaghfirullah … astaghfirullah …

Semoga kita satu untuk selamanya.

Maafkan aku yang sempat membayangkan perempuan lain Sri ….

-end.
*
Menjaga keutuhan rumah tangga? Kurang tepat rasanya, kalau tanya sama aku yang masih single. Hahaha.

Tapi, satu saja. Jangan pernah membandingkan pasangan kita dengan yang lain. Karena kita ada untuk melengkapinya. Begitupun sebaliknya, dia ada untuk melengkapi kekurangan kita.

Anyway, cerita satu ini kutulis dalam rangka anniversary Mbak Emmy, manager areanya NuBar Sumatera.

Selamat Mbak Emmy dan suami, semoga ke depannya semakin uwuu (kalau kata anak jaman sekarang). Semakin melengkapi, langgeng till jannah, dan semakin terbaik semuanya.

Jombang, 23 Desember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan