Kehilangan Pohon Bidara 2 (Dialog Senja Dua Bersaudara) – Oleh: Neni Nuraeni.

Ditengah keheranan saya dan kebingungan kakak, beginilah dialog senja yang terjadi di ruang keluarga kami.

Saya : “Inget-inget lagi Kak, barangkali tertinggal di tempat kerja” sambil memegang secangkir teh manis yang baru saja diseduh dan masih panas, sambil sesekali dikipas dengan menggunakan kartu udangan yang tak terpakai.
Kakak : “Kan kemaren kakak ngambil pohonnya pulang kerja, trus langsung pulang ke kontrakan, jadi tebakannya salah ya” sambil senyum.
Saya : “O iyaya … langsung ke kontarakan ya Kak? Kalau gitu nyimpennya di mana, jangan-jangan nyimpennya di luar deket pembuangan sampah, jadi disangka sampah oleh petugas kebersihan” masih samil mengipas-ngipas teh yang masih saja panas untuk diminum
Kakak : “Nggak sembarangan dong kakak nyimpen pohon itu, di teras, depan rumah, adikku sayang” sambil mengerlingkna matanya.
Saya : “Kalau begitu, sama bibi yang suka beres-beres rumah, mungkin” kali ini teh sedikit ku seruput
Kakak : “Bi Karsih maksudmu De? Sambil mengeryitkan alisnya.
Saya : “Yups, betul-betul-betul” Upin Ipin mode on.
Kakak : “Nggak mungkin, karena seminggu ini Bibi nggak ke kontakan, suaminya sakit” kakakku mempertegas ketidakmungkinan Bi Karsih yang mengambil pohon itu.
Saya : “Ooo..begitu ya” sambil menyeruput teh manis hangat yang sedari tadi menunggu untuk dieksekusi mengingat suhu tehnya sudah cukup untuk dihabiskan.
Kakak : “ Kenapa sih De, kayaknya kamu tidak bisa menerima kalau pohon bidara itu hilang oleh jin? Keheranan.
Saya : “ Kakakku sayang, setahu Ade pekerjaan yang berat bagi jin untuk sekedar menampakkan diri kepada kita, apalagi sampai menghilangkan suatu benda”
Kakak : “Jadi menurut kamu pohon itu hilang karena diambil oleh manusia?” sambil memainkan ponselnya, padahal tak ada bunyi notifikasi.
Saya : “Yups, betul-betul-betul” Upin Ipin mde on
Kakak : “Sebentar, jangan-jangan…” kata kakakku terputus
Saya : “Apa kak, teringat sesuatu?” tanyaku.
Kakak : “Tapi, kakak gak mau suudzon” sambil mengeryitkan dahinya.
Saya : “Adakah seseorang yang menjadi tersangka pengambilnya?” memastikan.
Kakak : “Iya”
Saya : “Siapa kak?” buruku
Kakak : “Siapa lagi yang dalam seminggu ini punya akses ke kontrakan kalau sahabatku”
Saya : “Hmmm…Mas Ilham?” sergahku
Kakak : “Iya, siapa lagi kalau bukan dia”
Saya : “Wait, Mas Ilham? Yang waktu Kita sekeluarga nganter Kakak bada isya dia lagi tadarus di mushala? Masa sih dia mengambil pohon punya kakak? Maasih tak percaya dengan analisa kakakku.
Kakak : “Iya juga ya, dia kan lebih faham tentang agama, masa mengambil milik oang lain tanpa izin”
Saya : “Memangnya kakak tak bercerita tentang kakak membeli pohon bidara?”
Kakak : “Kakak nggak sempet cerita De, karena belakangan ini dia lembur, dan pulang ke kontarakan selalu larut, tepatnya ketika kakak sudah mendahuluinya ke pulau kapuk” kakakku sambil tersenyum malu
Saya : “Ketahuan tidurnya cepet, berburu tahajud ya Kak?” sambil tersenyum ke arah kakakku.
Kakak : “Tapi gak jadi tahajudnya De, bablas, capek banget kakakmu ini” sambil garuk kepalanya yang tak gatal
Saya : “Ah itu mah niatnya aja yang kurang kuat” ledekku.
Kakak : “Sok tahu adikku ini” sambil melempar bantal kursi ke arahku.
Saya : “Atau jangan-jangan takut buat mengambilair wudhu ke toiletnya?” candaku
Kakak : “Sejujurnya itu dia De, kalau sudah tengah malam tak berani ke toilet” akunya
Saya : “Ha..ha..ha..” ledekku puas “Back to laptop, btw, coba inget-inget lagi selain Bi Karsih, Mas Ilam dan Kakak, siapa lagi yang puya akses untuk memasuki ke rumah kontrakan kakak? Pemilik rumah, mungkin? Tebakku.
Kakak : “Pak Antonio, maksudmu De? Tanya kakak.
Saya : “Iya, mungkin” sahutku.
Kakak : “Tidak, cuma kami bertiga, karena Pak Antonio mempercayakan urusan rumah kontarakan kepada Bi Karsih saja, mengingat Bi Karsih sudah lama bekerja pada Pak Antonio dan menjadi orang kepercayaannya”
Saya : “Hmmm…begitu ya? bisa begitu bisa jadi Mas Ilham yang mengambil pohon kakak”
Kakak : “Nggak mungkin De” kakak tetap membela sahabatnya itu.
Hening sejenak, kami terdiam, sibuk dengan persepsi masing-masing dengan ditingkahi dengan suara sayup adzan isya.
Saya : “Yuk ah, shalat isya dulu, siapa tahu ada pencerahan setelahnya, berjamaah ya Kakakku yang ganteng” candaku.
Kakak : “ Ashiapp, Adikku yang cantik” membalas candaanku.
Kamipun sepakat untuk menunaikan shalat isya dan melanjutkan analisis pengambil pohon bidara setelah menunaikan shalat isya.
(Bersambung)

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan