Kehilangan Pohon Bidara 3 (Menuju Tabayun)

Seusai shalat Isya, Saya dan kakak berniat melanjutkan diskusi. Karena cacing di perut sudah anarkis minta diisi, akhirnya Saya dan kakak memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu, barangkali efek banyak berasumsi terhadap peristiwa hilangny pohon Bidara kakak dari kontrakannya.

Setelah makan saya bertepekur di ruang keluarga dengan Asus yang terbuka dihadapan dengan jari jemari tengah bersiap untuk menggelitik keyboardnya. Dengan maksud melanjutkan pengerjaan tugas kuliah yang sempat terjeda karena harus dikumpulkan minggu depan. Sementara kakakku duduk di sebrangku dengan tetap memainkan handphonenya.

Oiya..Sedikit bercerita tentang keluargaku, keluarga Pak Hasan Abdurrahman, keluarga ini terdiri dari Pak Hasan dan Bu Marni sebagai nahkoda dan asisten nahkoda, dan terdapat tiga anak buah kapal (ABK), anak pertama Kak Hasni Rahmayanti. Anak kedua, Kak Husen Abdurrahman dan Saya, Hasna Rahmasari.

Saat ini di rumah tersisa kami berdua, yang awalnya berlima. Karena Ibu dan Bapak sedang kangen cucunya, alias menginap di rumah kakak sulungku, jadi kakakku yang baik hati ini pulang ke rumah, dengan alasan menemani adik bungsunya, padahal karena teman sekontrakannya juga mudik.

Beginilah lanjutan dialog dua bersaudara di suatu senja menuju malam. Tetiba kakakku dengan antusias memanggilku.
Kakak : “De, sini deh!” Serunya
Saya : “Ada apa Kak?” Tanyaku sambil mengerutkan kedua alisku
Kakak : “Kakak sedang melihat status WhatsApp seseorang nih” sambil menunjukkan handphonenya.


Saya : “Wow, ‘stalker’ lagi ‘stalking’ siapa nih. Ada apakah? Tampak ada sesuatu yang mengejutkan?” candaku sambil tertawa kecil, dengan menggunakan bahasa formal, dan mendekat ke arahnya.
Kakak : “Serius, sini sebentar, ada yang mau dipastikan” pintanya serius.
Saya :”Baiklah, Ade kesitu” jawabku.


Kakak :”Ini, masih ingat nggak?”
Saya :”Iya, itu pohon Bidara” datar tanpa ekspresi.
Kakak. :”Ada yang aneh nggak?”
Saya :”Nggak ah, sama saja, dimana-mana pohon Bidara kan begitu bentuknya” masih dengan ekspresi datar.
Kakak : “Ah, Adeku ini nggak peka” gerutunya.
Saya :”Hmmm…Apa ya?” Sambil mengamati gambar di handphonenya kakak dan mengerutkan alis.


Kakak :”Yakin nggak kenal?”
Saya :”Iya, nggak kenal”
Kakak : “Coba lihat latar foto pohon Bidara ini!” Kakak menunjukkan foto di handphonenya lagi.
Saya :”Hmmm…” sambil mengerjapkan mata.
Kakak :”Ini kan warna cat rumah kontrakan kakak!” serunya
Saya :”Terus… kenapa? Emangnya pohon Bidara yang di handphone kakak itu foto hasil jepretan siapa?”
Kakak :”Coba tebak ah” candanya sambil menjitak kepalaku.
Saya :”Serius.. bertanya kakakku sayang” memperjelas maksud dari pertanyaanku.


Kakak:”Coba tebak dong, masa nggak ketebak” kerlingnya genit.
Saya :”Hmm..status WhatsAppnya Bi Karsih?” Tebakku sekenanya.
Kakak :”Nop, anda salah” jawabnya ala-ala pembawa acara salah satu kuis di tv swasta nasional.
Saya :”Berarti…” Berusaha menyusun puzzle misteri hilangnya pohon Bidara kakakku.


Kakak :”Yupz…Betul… betul…betul” candanya
Saya :”Mas Ilham” seruku tak percaya
Kakak :”Nggak percaya ya?”
Saya :”Nggak percaya banget” lemas
Kakak :”Terima saja, ini ujian” candanya
Saya :”Jadi, yang mengambil pohon bidaranya kakak adalah Mas Ilham ya?” Berusaha menyimpulkan.


Kakak:”Iya, hasil investigasi sementara begitu, dengan melihat status WhatsAppnya Mas Ilham” menyimpulkan dengan penuh keyakinan.
Saya :”Langkah apa yang akan kakak tempuh selanjutnya?” Tanyaku.
Kakak :”Tabayun, memastikan dari mana Mas Ilham mendapatkan pohon Bidara itu” sambil tersenyum lega.


Saya :”Kok kakak seneng begitu?” Tanyaku sedikit bingung.
Kakak :”Setidaknya aroma horor sedikit berkurang, karena pohon Bidara itu bukan diambil oleh jin di rumah kontrakan itu”
Saya :”Oh..jadi begitu, nggak takut lagi dong sekarang kalau di rumah kontrakan sendirian” Ledekku.
Kakak :”Siapa bilang kakak takut sendirian tidur disana?”
Saya :”Coba jelaskan kenapa kakak nggak berani tidur disana sendirian? Buktinya sekarang menginap disini? Hayoh…” Cecarku.


Kakak :”Kakak menginap disini karena diminta Ibu untuk menemani adik semata wayangku ini” Belanya sambil menjitak ku.
Saya :”Kak, nanti ngobrol sama Mas Ilhamnya secara baik-baik ya” pintaku.
Kakak :”Iya dong…pastinya…don’t worry…kami sahabat tak mungkin menyelesaikan masalah dengan menggunakan otot” kerlingnya.


Saya :”Ade khawatir persahabatan kakak dan Mas Ilham retak hanya gegara pohon Bidara, nggak elit ah alasannya” ungkapku
Kakak :”Tenang saja adikku sayang, kakak pastikan itu tidak akan terjadi”
Saya :”Kapan rencananya kakak akan berbicara dengan Mas Ilham?”
Kakak :”Secepatnya setelah dia kembali lagi dari mudiknya, InshyaAllah”
Saya :”Pastikan suasananya sudah tenang ya, biar tidak panas”
Kakak :”Ashiapppp”

***


(Bersambung)

0Shares

Tinggalkan Balasan