Kehilangan pohon Bidara 4 (Masih Menuju Tabayun)

‘Tak boleh mengintip ke dalam rumah orang lain, kecuali dipersilakan masuk oleh pemiliknya’

Ahad pagi menciptakan ritual yang sama untuk kebanyakan manusia di muka bumi. Baik itu emak, bapak, kakak, ade dengan berbagai latar belakang, diantarnya ibu rumah tangga, karayawan, mahasiswa, pelajar, pedagang, penyedia jasa transportasi umum, dan latar belakang lainnya yang tak termasuk pada kategori tersebut. Salah satu ritual yang pasti tak terlewatkan adalah mencuci dan beres-beres atau sebagian mungkin refreshing dengan bercengkrama bersama keluarga dan sahabat dekat, atau mungkin berolahraga di area “car free day” dan fasilitas umum lainnya yang biasanya menjadi incaran di hari minggu.

Mengapa menjadi tempat tersebut menjadi incaran?karena ada hal yang spesial. Ada yang barangkali tahu? Yupz betul betul betul, di sana ada kemacetan. Eh salah, maksudnya pasar kaget, banyak barang maupun makanan yang dijajakan disana dengan kualitas lumayan dan harga yang terjangkau.

Mulai dari perintilan dapur keperluan emak, hingga keperluan bengkel bapak, pun keperluan fashion kakak Ade dan anak muda, pokoknya dijamin lengkap. Cara penyajiannya pun unik, para penjual biasanya menjajakan barang atau makanan di standnya masing-masing.

Penjual barang biasanya lebih simpel dalam menjajakan dagangannya, ada yang di atas meja, lesehan dan ada yang di mobilnya. Lain halnya dengan penjual makanan yang biasanya menggunakan tenda dengan barang dagangan di gerobak dan ada yang menyediakan meja dan kursi, tapi ada juga yang lesehan untuk menyantapnya. Pun ada yang menjajakan makanannya saja tanpa menyediakan tempat untuk menyantapnya.

Mungkin itu yang menjadikan area “car free day” atau fasilitas umum yang disulap menjadi pasar kaget dan menciptakan kemacetan. Kegiatan pembukaan fasilitas umum dan “car free day” dengan aktivitas pasar kaget merupakan wahana untuk mendongkrak usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Kembali lagi ke laptop yuk.

Saya dan kak husen membuka ahad pagi dengan air hangat sebelum mandi dan mengambil air wudu kemudian shalat subuh. Setelah itu kami menyeruput teh manis hangat sebagai penghangat tubuh sebelum melakukan aktivitas masing-masing. Saya mencuci pakaian dan Kak Husen mencuci motornya. Tak berselang berapa lama sang kapten alias Bapak dan asprinya alias Ibu, pulang dari rumah kakak. Setelah bercengkrama sebentar dengan keduanya akhirnya kami memutuskan pamit menuju ke “car free day” dan kontrakan kak Husen, dengan tujuan untuk mencari barang keperluan untuk di kontrakan Kak Husen dan menciptakan sentuhan perempuan di kontrakannya, alias membantunya berberes.

Singkat cerita, setelah sarapan di area “car free day” dan mendapatkan barang keperluan Kak Husen, kami menuju kontrakannya untuk berberes. Sebelum prosesi berberes dimulai saya menggantung kerudung praktis yang tadi dipakai ke “car free day” di kursi, karena udara masih terasa panas. Ketika kami sedang berberes tetiba ada teriakan “Paket” dari luar, saya dan kakak saling berpandangan.
Saya: “Order sesuatu, Kak?”
Kakak: “Seinget kakak sih nggak” sambil berjalan menuju ruang tamu sejurus kemudian menuju halaman untuk menemui pengantar paket
Pengantar Paket :”Atas Nama Ilham Hamdani” sambil menyerahkan karton paket.
Kakak :”Oh…iya, itu teman saya” seru kakak
Pengantar Paket :”Mohon tanda tangan di sini sebagai penerima” sambil menunjukkan tempat untuk ditandatangani
Kakak :”Oh…Ok!” Kakak mengangguk sambil menandatangani aplikasi yang disodorkan pengantar Paket
Pengantar Paket : “Terima kasih” sambil menganggukkan kepala dan tersenyum
Kakak :”Sama-sama”sambil membalas senyum pengantar Paket

Kemudian kakak menghampiriku dengan membawa paketnya.
Kakak :” Paket buat mas Ilham”
Saya :”Oh…”
Kakak :”Apa ya isinya? Kok sepertinya berat?”
Saya :”Kepo deh, nggak boleh dibuka, itu punya mas Ilham, privasi, ntar dosa lho” tegasku
Kakak :”Iya…tahu…worry banget nih adikku sayang”
Saya :”Rasulullah pernah bilang: ‘Tak boleh mengintip ke dalam rumah orang lain, kecuali dipersilakan masuk oleh pemiliknya’ Pun begitu dengan sesuatu milik orang lain yang tertutup kita tak boleh mengintipnya”
Kakak :”Tapi membaca keterangan ekspedisinya mah boleh mungkin ya?” Kerling matanya genit, antara bercanda dan kepo
Saya :”Nggak boleh kak, ntar malah semakin kepo dan ingin membukanya” cegahku
Kakak :”Baiklah…adikku sayang” sambil beranjak menyimpan paket mas Ilham di depan kamarnya

Kamipun kembali ke kesibukan semula, berberes.

Tak berselang lama dari situ, ada seseorang yang memencet bel dan mengucapkan salam dari luar “Assalamualaikum” berdua serempak menjawabnya “Wa’alaikumsalam” terjadi dialog kami.

Kakak :”Sebentar…” jawab kakak, sambil berbicara ke arahku “Sepertinya suara Mas Ilham, cepat kamu pakai kerudungmu” pinta kakak.
Saya :”Ashiapppp” sambil menyambar kerudung yang sedari tergantung di kursi. Sambil memastikan saya telah sempurna menggunakan kerudung, barulah kakak membuka pintu.

(Bersambung)

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan