Kehilangan Pohon Bidara 5 (Tabayun)

And so the story’ goes…

Mas Ilham: “Apakabar Cen? Tumben agak lama buka pintunya?” Sapa Mas Ilham sambil menjabat tangan kakak dan tersenyum

Kakak : “Alhamdulillah…biasa ada ‘princess’ ku disini, jadi gitu deh agak repot.” balas kakak sambil menunjukkan kehadiranku dengan memonyongkan bibirnya.

Mas Ilham : “O…pantesan” timpalnya sambil tersenyum.

Saya: “Hai Mas Ilham, baru mudik ya? Sapaku sambil menelungkup kan kedua tangan di depan dada, salam sunda.

Kakak : “Kirain nggak pulang hari ini Mas mengingat sebelumnya mas belum ngambil jatah cuti ?”

Mas Ilham: “Iya nih, cuma sebentar, banyak kerjaan di kantor” jawabnya sambil melakukan hal serupa denganku.

Saya: “Emang kerasa mudiknya cuma sebentar gitu mas?” Ceplosku.

Mas Ilham: “Nggak kerasa, masih pengen disana sebenernya.” Balasnya.

Saya :”Dilema ya, jika jadi pekerja tak bisa berlama-lama mudik” sambungku dengan ekspresi sedih.

Mas Ilham : “Apakabar De?tanyanyaSaya :”Alhamdulilah baik mas” balaskuMas Ilham ;”Rajin bener ngebantuin kak Cen… Ih mau-maunya” candanya.

Saya : “Iya nih dipaksa buat rodi disini, padahal rencananya mau santai di rumah” balasku sekenanya sambil pura-pura manyun.

Kakak: “O..jadi gitu? Jadi nggak ikhlas nih” sambil manyunSaya :”Becanda Kak” sambil mengeringkan mata ke arah kakak.

Kakak: “Oiya Mas, ada paket buat Mas disimpan di depan pintu kamar” sambil menunjukkan karton yang tadi diterimanya.

Mas Ilham: “O…begitu ya…paket apa ya? Oiya…saya baru inget, kemarin saya order pohon Bidara sepuluh pohon dan sudah diterima bahkan sudah sampai di kampungku. Saya order lagi sebanyak lima pohon, nah yang itu yang sedang saya tunggu orderannya”

Saya dan kakak saling memandang dan ber “oh ria” sambil tersenyum satu sama lain dan segera menyelesaikan pekerjaan kami yang tinggal sedikit lagi.

Sejurus dengan itu Mas Ilham masuk ke kamarnya untuk menyimpan barang bawaannya dan kembali dengan semangat ke ruang tengah sambil membawa paket dari marketplace untuk memperlihatkan pohon Bidara yang telah diordernya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitu mungkin peribahasa yang mewakili saya dan kakak, mengingat analisa dari diskusi kami tadi malam, tabayun.

Mas Ilham:”Saya order pohon Bidara untuk kita lho” pembukaan obrolan dari Mas Ilham.

Kakak:”O…begitu, terima kasih lho mas” ucap kakak sambil tersenyum.

Mas Ilham:”Kita unboxing paketnya yuk” serunya.

Saya dan kak Husen mengangguk, mengiyakan.

Saya :”Maksud Mas Ilham pohon Bidaranya buat ‘kita’ itu gimana ya?”

Mas Ilham:”Karena disini sering ada gangguan jin alias penampakan, maka saya berkonsultasi dengan ustadz dan disarankan untuk memperbanyak ritual ibadah juga disarankan menggunakan daun pohon Bidara untuk mengusirnya”

Kakak:”Saya juga order pohon Bidara untuk mengatasi gatal-gatal, dan setelah googling saya baru mengetahui manfaat lain pohon ini” sambung kakak.

Dengan cekatan Mas Ilham membuka paketnya, tapi kemudian dia tertegun.

Kakak :”Kenapa Mas, kok kayak yang bingung?”

Mas Ilham :”Pohonnya kebanyakan, saya kemarin order lima pohon, kok sekarang ada sepuluh?” Alisnya mengeryit pertanda bingung.

Saya:”Tadi kan Mas bilang orderan yang pertama sepuluh pohon?” Tanyaku, berusaha untuk melepaskan mas Ilham dari kebingungannya.

Mas Ilham :”Ya, betul” Mas Ilham mengiyakan.

Kakak:”Nah, coba sekarang cek nama toko yang mas order pohon Bidaranya, toko order pertama dan toko order kedua ” pinta kakak sambil tersenyum.

Sejurus dengan itu mas Ilham merogoh handphone dari saku kemejanya.

Mas Ilham :”Wait, kok ini yang keterima orderan dari toko pertama ya? kok bisa ya?” Sambil bergumam.

Saya dan kak Husen saling berpandangan dan bertukar senyum, sedikit demi sedikit mas Ilham mulai menyadari kekeliruannya.

Saya:”Begini mas Ilham, sebetulnya Kak Cen juga minta bantuan saya untuk mencarikan pohon Bidara sebanyak sepuluh pohon, pohonnya saya antarkan hari Sabtu siang” jelasku panjang lebar.

Mas Ilham:”Oh jadi begitu?

Kakak:”Hasna mengantarnya sebelum Mas Ilham mudik, dan disimpan di depan pintu kontrakan, karena dia tidak memegang kunci pintu rumah ini, kebetulan Bi Karsih tidak masuk selama seminggu ini”

Mas Ilham:”Berarti, pohon Bidara yang kemarin saya bawa mudik itu punya mu Cen?”

Kakak:”Iya, betul begitu Mas” sambil tersenyum.

Mas Ilham:”Maafkan saya yang terburu-buru berangkat mudik karena takut ketinggalan travel. Sebetulnya pohon Bidara ini merupakan hasil diskusi saya dengan paman yang berniat untuk membudidayakan pohon Bidara di Kampung sana, jadi ketika ada pohon Bidara di teras, saya tak berfikir panjang langsung mengemasnya. Padahal kalau beli dari marketplace pasti ada catatan di ekspedisinya ya; nama pengorder dan ada nama tokonya?” Sesalnya sambil menepuk jidat dibarengi senyum malu.

Kakak:”Tak apa-apa Mas” sambil tersenyum.

Mas Ilham :”Berarti paket ini saya serahkan ke kamu Cen, sebagai pengganti pohon Bidara milikmu yang kemarin saya bawa mudik ke kampung ya” sambil menyerahkan karton pohon bidara.

Kakak:”Saya terima paket pohon Bidaranya ya Mas” sambil menerima karton yang diberikan oleh Mas Ilham.

Saya :”Sah!” candaku, yang diiringi oleh tawa dari Kakak dan Mas Ilham.

Saya :”Sebetulnya kemarin kami berdua sempat bingung, karena secara misterius pohon Bidara kakak hilang, sehingga menimbulkan banyak asumsi, sampai akhirnya kakak melihat status WhatsApp Mas Ilham” jelasku sambil tersenyum.

Kakak :”Saking hororaya sebelumnya pernah berasumsi pohon ini diambil sama jin, karena jin tidak suka dengan pohon ini. Beruntung saya memiliki partner untuk berdiskusi, princess ku, yang sedikit meng-up grade pengetahuan saya tentang ‘dunia lain’. Bahwa mereka juga hidup dengan kita dan sama-sama memiliki tugas mengabdi kepada Allah dan masing-masing memiliki batasan dan tak boleh saling melanggar.”

Mas Ilham:”Iya, begitulah kira-kira Terima kasih ya Cen dan De Husna, maaf jadi menyusahkan”

Kakak: “Sama-sama, menjadikan kami sering berdiskusi lebih dalam untuk belajar menjadi detektif Conan, latihan menajamkan analisa” sambil tertawa lepas.

Kakak: “Sepertinya kita harus banyak berdiskusi terkait masalah yang saat ini kita hadapi, sehingga dapat mencari solusi yang tepat ya Mas”

Mas Ilham :”Betul sekali. Maafkan saya tak banyak berdiskusi dengan Cen, karena di kantor sedang banyak pekerjaan sehingga sesampai di rumah saya tepar, kecapean” terang Mas Ilham sambil meringgis.

Kakak:”Nggak apa-apa Mas, saya faham kok kondisinya sedang kurang memungkinkan. Oiya…terkait penggunaan pohon Bidara untuk mengusir jin saya serahkan ke Mas saja ya, sepertinya lebih faham dibanding saya yang hanya berbekal mbah google dan belakangan baru berdiskusi saja” sambung kakak.

Mas Ilham :”Ashiapppp” tertawa lebar.

Saya :”Alhamdulillah…Nah, begitu donk, ngobrol biar asyik” sambil tertawa penuh cita, karena semua asumsi tentang pohon bidara telah menemukan kebenarannya sehingga semuanya menjadi terang benderang.

(Tamat)

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan