Kehilangan Pohon Bidara – Suatu ketika kakakku meminta untuk dicarikan pohon untuk mengobati gatal-gatal, karena kami sekeluarga bertekad untuk mengurangi obat-obatan medis kami mengupayakan untuk mengikhtiari kesembuhan melalui cara herbal. Ketika berkonsultasi dengan beberapa orang herbalis tersebutlah pohon bidara sebagai obatnya. Salah satu pohon yang disebutkan dalam salah satu hadist nabi, bahwa barangsiapa yang menebang pohon Bidara, maka wajahnya akan dihadapkan kepada api neraka.

Bersamaan dengan itu kakakku baru pindah kontrakan agar bisa lebih dekat dengan tempat kerjanya, ternyata ada sisi lain dari kontrakan kakakku yang tidak diketahui olehnya. Kontrakan itu merupakan bangunan lama masa penjajahan Belanda yang sudah dipugar dengan sedikit sentuhan modern pada beberapa sisinya, walaupun sudah dipugar tetapi tetap saja rumah itu menyisakan aura angker. Karena bagaimana tidak terpancar aura angkernya, rumah itu jarang ditempati oleh pemiliknya dengan kata lain jarang terjamah oleh manusia, hanya sebatas dibersihkan saja.

Sebagai umat Islam kita diajarkan bahwa kita di dunia ini hidup berdampingan dengan mahluk lain yang berbeda dimensi dengan kita, jin. Atas ketetapan dari Allah, manusia dan jin memiliki tugas yang sama, yaitu sama-sama mengabdi kepada Allah (QS:51:56). Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa jin terbagi menjadi dua jenis yaitu jin Islam dan jin kafir. Jin Islam akan bersama-sama dengan kita manakala kita beribadah kepada Allah, contohnya ketika shalat mereka menjadi makmum kita, sedangkan jin kafir akan menghalangi kita untuk beribadah, atau dengan kata lain akan mengganggu kita dengan melakukan hal-hal yang menakutkan kepada manusia, misalnya melakukan penampakan dan hal lainnya. Seperti yang dialami oleh kakakku, menurut kakakku sering terjadi keanehan di kontrakan itu. Menurutnya jin yang menghuni kontrakan itu banyak, mungkin karena terkadang terdengar suara benda-benda yang digeser seakan sedang ada yang berberes-beres dan terkadang ada riuh percakapan bahasa Belanda dan bahkan bahasa mandarin yang padahal jelas-jelas disana kosong tak ada orang. Terkadang mereka melakukan penampakan berupa orang-orang Eropa yang berperawakan tinggi besar dan ada juga orang Asia dengan tinggi seperti orang Indonesia tapi bermata sipit.

Mengingat mencari tempat tinggal yang strategis berada di tengah kota yang dekat dengan tempat kerja dengan air yang bagus dan akses kendaraan umum 24 jam sangat jarang, maka kakakku bertekad untuk sementara waktu menempati kontrakan tersebut sampai menemukan pengganti. Setelah kakakku bercerita kepada sahabatnya yang juga bekerja di tempat yang sama dengan kakakku tentang kondisi kontrakannya yang angker, akhirnya sahabatnya bersedia menemani kakakku untuk menempatinya. Ternyata dua sahabat ini sama-sama berinisiatif untuk mengurangi gangguan jin dan mengikhtiarinya dengan pohon bidara, tetapi mereka tidak mengkomunikasikan satu sama lain tentang niat baiknya tersebut. Pendek kata mereka sama-sama mencari pohon Bidara.

Kakakku meminta bantuanku sekalian untuk mengobati gatal-gatalnya sedangkan sahabatnya mencari melalui “market place” dan ajaibnya jumlah yang mereka pesankan itu sama, masing-masing membeli 10 pohon bidara. Singkat cerita aku membelikan kakakku 10 pohon Bidara dan kemudian kakakku mengambilnya ke rumah setelah pulang kerja dan disimpan di kontrakannya. Sedangkan sahabat kakakku yang membeli pohon Bidara di “market place” pun menanti kiriman pohon Bidara yang menurut hari estimasi pemgirimannya pada minggu-minggu yang sama.

Weekend ini selepas kerja kakakku pulang ke rumah karena sahabatnya mudik ke kampung halamannya dan pulang cepat dari tempat kerjanya, tapi sebelumnya dia mampir ke kontrakan untuk menyalakan lampu dan menutup gordeng. Seperti biasa dia bercerita tentang banyak hal terkait pekerjaannya juga tak ketinggalan tentang kekagetannya barusan ketika dia pulang ke kontrakannya yang semakin membuat dia tak kerasan tinggal di kontrakan, karena pohon Bidara yang tempo hari diambil dari rumah dan disimpan di kontrakannya hilang tanpa jejak, maka dia semakin takut untuk pulang ke kontrakannya, karena persepsi jin di kontrakannya sangat tidak suka dengan kehadiran pohon bidara yang dibawanya. Saya termenung, masa jin bisa menghilangkan 10 pohon Bidara? (Bersambung)

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan