Kenangan Darimu – Oleh Cha

Rabu, 17 Juni 2015.

Malang, Terminal Landungsari.

Matahari baru saja meninggalkan peraduanya, menyisakan semburat jingga di langit malam. Angkutan kota baru saja memasuki terminal, membawa calon penumpang bus, entah menuju Jombang, Kediri atau mungkin Tuban, yang jelas mereka ingin segera menaiki bis tujuannya. Termasuk aku salah satunya.

Kulangkahkan kaki menuju tempat pemberangkatan bus, begitu angkutan kota yang berhenti. Kuedarkan netra, mencari sosok yang tak kunjung tertangkap netra. Duh, mana ya? Kok nggak ada?

“Jombang,” jawabku singkat pada kenek-kenek bus yang menanyai tujuanku, berharap aku dapat menjadi penumpang mereka.

Samar terdengar derum suara bus, meski belum tahu tujuan kemana yang datang, para calon penumpang segera berlari ke arah bus yang baru saja berhenti. Bak semut berebut gula.

“Kediri, Kediri, Kediri ….” teriak kenek dari dalam bus. Beberapa penumpang berhenti berlari, saat mendengar teriakan kenek. Beberapa langsung merapat ke badan bus, yang berlum berhenti sempurna. Menghalangi penumpang yang ingin turun, pun mereka yang ingin naik.

“Wah … wah … wah …. ngawur arek-arek iki. Mbok yo, ngenteni bis e mandek sek. Ora ngerubung koyok ngunu, engkok lek luka-luka, nyalahno bis e,1” ucap bapak tua penjual gorengan.

Yo maklum ae pak, jenenge arek enom …. 2” balas pemuda yang tengah memilih gorengan, sekedar untuk mengganjal perutnya.

Tak kudengarkan lagi percakapan bapak tua itu. Pada akhirnya seseorang yang sedari tadi kucari telah menampakkan diri.

“Oi, Nin, busnya belum dapet juga?” tanya Merry, teman seperantauan di Kota Malang. “Eh, tuh ada yang dateng lagi busnya.”

Kuarahkan netra menuju kedatangan bus, terpampang tulisan “Kediri-Malang” di bagian kepala bus.

“Duh, Kediri mulu yang dateng. Jurusan Jombang pada kemana sih?!” gerutuku. “Masak iya, aku balik ke kosan lagi …. ”

“Yee … jangan dong, gue udah pamitan sama anak-anak kos. Malesin banget nggak sih …. ”

Jam di layar gawai pintar menunjukkan pukul 06.55 PM. Sudah satu jam lebih aku menunggu, tapi bus jurusan Jombang belum datang juga. Yang paling sering jurusan Kediri. Sesekali jurusan Tuban tiba di terminal. Sebenarnya, bisa sih kalau naik bus jurusan Tuban, karena bus melewati tempat pemberhentianku. Tapi kenek bus mengutamakan penumpang yang akan turun di teminal Tuban.

Di tengah penantian bus, netraku menangkap sosok yang sangat familiar, menaiki bus Jurusan Kediri. Sosok yang telah lama menghuni hati, tapi tak pernah disadarinya. Samar terdengar suara yang tak asing. Ia mampu menyemarakkan hati yang tengah kelabu, saat masa putih abu-abu. Mengukirkan bulan sabit, ketika sendu menghias wajah. Dulu. Ternyata, ia masih bisa mengusik hati yang telah lama tenang.

Merry masih terus mengajakku berbicara, tapi hanya berlalu begitu saja. Karena netra terpaku padanya, mengalikan seluruh panca indera. Mungkinkah dia orang yang sama? Atau hanya mirip saja? Apa dia punya kembaran?

“Nin, itu bus jurusan Jombang dateng. Nyok, keburu penuh lagi. Sudah jam segini nih …. ” Merry menarik tanganku, membuyarkan lamunan.

Berkat Merry, akhirnya aku bisa dapat kursi. Tapi hatiku masih belum tenang, teringat sosok itu. Haruskah aku masuk busnya, sekedar memastikan sosok yang tengah netra rindu?

Sejenak, mamang kulangkahkan kaki. Tak siap rasanya, jika memang benar itu dia. Tak tahu pula, apa yang harus kulakukan. Jika itu benar-benar dia. Tapi …

“Mau kemana Nin?” tanya Merry bingung, melihatku berdiri.

Kuhiraukan Merry dan buru-buru keluar dari bus. Hendak kulangkahkan kaki, tapi bus yang ia tumpangi perlahan meninggalkan terminal.

Tanpa kusadari, setetes air mata turun begitu saja.

Bagaimana mungkin hati ini siap, jika telah lama ia tenang dan menghilang. Datang tiba-tiba, mengusik warna merah jambu yang tak pernah disadarinya.

Bagaimana pula, dalam hati ini masih tersisa puing-puing kenangan. Jika perlahan ia mulai memudar.

Hei, sosok yang tertinggal, bisakah kau beri aku sebuah jawab?

——–

Catatan:

1(Sembarangan anak-anak ini. Harusnya, nunggu busnya berhenti dulu. Bukannya mengelilingi seperti itu, nanti kalau luka-luka, menyalahkan busnya.)

2(Ya maklumin saja pak, namanya juga anak muda.)

Mojokerto, 06 Oktober 2020

Salam hangat

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan