Kesehatan Mental dan Pencegahan Bunuh Diri Selama Masa Pandemi Covid-19. Dewasa ini WHO (World Health Organization) telah menetapkan wabah pandemik virus Covid-19 sebagai pandemik Global. Indonesia termasuk negara terbanyak terinfeksi virus ini. Dimana dewasa ini angka korban terus meningkat dengan penyebaran dan penularan yang makin cepat dan meluas. Virus ini pertama masuk di Indonesia tepat pada tanggal 2 maret 2020. Presiden Joko Widodo saat itu mengumumkan langsung dengan adanya kasus dua orang terinfeksi virus Corona.

Perkembangan virus ini sangat pesat sampai kasus orang yang positif setiap harinya bertambah. Entah itu dari banyaknya jumlah hingga meluasnya daerah yang terkena. Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di beberapa daerah. Namun, tetap saja kasus Covid-19 ini masih meningkat.


Kita tak perlu menyalahkan satu sama lain, tanpa adanya kesadaran dan solusi dari diri kita sendiri. Maka dari itu disinilah saya rasa kolaborasi semua elemen masyarakat bisa bersatu. Secara kolektif, agar mampu memutus penyebaran rantai covid-19 ini.

Peranan Kaum Muda

Salah satunya ialah kaum muda yang mempunyai peran. Entah itu dalam peran penyadaran, sampai peran berkontribusi dalam gerakan perubahan sebagai sosok muda yang dinamis, bersinergi dan optimis.

Baca juga yuk:

Peran kaum muda juga tidak hanya diukur dalam bentuk memberikan penyadaran kesehatan fisik saja. Namun juga soal kesehatan mental sangat dibutuhkan dalam situasi dan kondisi seperti ini.

Paradigma

Seringkali paradigma orang tentang sehat selalu dari segi fisik, padahal sehat juga termasuk dalam kesehatan jiwa.

Sayangnya sampai saat ini khususnya di Indonesia persoalan kesehatan jiwa masih di anggap sebagai hal tabu meski sudah banyak orang yang menganggapnya penting.

Perlu kita ketahui bahwa semakin berkembangnya peradaban semakin rentan manusia terkena gangguan mental. Terlebih lagi adalah generasi muda merupakan waktu dimana banyak perubahan dan menyesuaikan terjadi entah itu secara psikologis, emosional bahkan finansial.

Selain itu, teknologi juga turut berkontribusi terhadap kesehatan mental generasi muda. Salah satunya adalah penggunaan medsos (media sosial) dimana diam-diam media sosial juga menjadi masalah dalam menjaga kesehatan mental.

Peranan Media Sosial

Kebanyakan dari kita menciptakan gaya hidup idealnya sendiri yang sebenarnya tidak seindah kenyataan saat sedang bermedsos. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan bahkan beban pikiran pada pengguna dan penikmat medsos yang kebanyakan adalah remaja. Ditambah lagi dengan wabah pandemi seperti ini. Dimana remaja sebagai generasi muda harus bisa mengontrol dirinya agar tidak terjerambah stres yang mendalam karna terbatas oleh ruang dan waktu.

Influencer (orang yang memberikan pengaruh) bahkan media sering sekali membahas soal kesehatan mental. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa kesehatan mental sangat kita perlukan dalam situasi dan kondisi seperti dewasa ini.

Di tengah wabah seperti ini, kita mesti memutar otak agar kejenuhan bisa kita minimalisir. Misalnya, mencari kegiatan yang produktif dan kreatif agar hidup kita berjalan optimal, walaupun dibatasi oleh ruang dan waktu.

Berikut salah satu kutipan dari blogger mengenai bijak menggunakan media sosial:

Media sosial dapat kita gunakan untuk mencari inspirasi kegiatan produktif dan kreatif. Dengan mengamati dan mencoba kegiatan kreatif itu kita akan mendapatkan karya bahkan bisa mendapatkan ladang rezeki baru dari apa yang kita ciptakan.

Dewi Adikara

Ciri sehat secara mental

Kita bisa dikatakan sehat secara mental adalah:

Pertama, seseorang yang menyadari potensi dirinya.

Kedua, seseorang yang mampu menghadapi tekanan atau stres yang wajar pada permasalahan sehari-hari.

Ketiga, seseorang yang bisa bergerak secara produktif.

Keempat, seseorang yang mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Pada intinya adalah sehat mental dimana kita dapat menjalani hidup secara optimal.


Di tengah wabah pandemi seperti ini saya teringat ucapan seorang tokoh islam bernama Ibnu Sina. Beliau pernah berkata “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan”

Mungkin apa yang dikatakan Ibnu Sina memang benar. Melihat situasi dan kondisi sekarang, kita memang mesti tenang dan tidak panik. Artinya, kita tidak serta merta menentang dan meremehkan wabah Covid-19 tapi juga kita tidak pasrah dengan wabah ini.

Bunuh diri

Diantara dampak dari adanya wabah ini adalah mulai banyak yang mengalami kebosanan. Hingga berujung pada stres, depresi hingga keinginan untuk bunuh diri.

Tempo.com, World Population Review, mencatat, bahwa angka bunuh diri di Indonesia rata-rata sebanyak 3,4 kasus per 100 ribu penduduk. Berdasarkan angka itu, Indonesia berada dalam posisi ke-151 dari 176 negara di dunia atau rendah. Meski berada dalam posisi bawah, namun, kasus bunuh diri di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sebab angka pada 2018 itu menunjukkan peningkatan dibandingkan 2017.

WHO (2017) menempatkan Indonesia di rangking 172 dari 183 negara yang diteliti dengan rata-rata 3 kasus per 100 ribu jiwa. Menurut WHO, bunuh diri adalah fenomena global. Sejak 2016, hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Artinya, ada satu orang yang bunuh diri setiap 40 detik.

WHO menemukan relasi antara tingginya kasus bunuh diri dengan situasi ekonomi. Pada 2016, sebanyak 79% kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2016.

Pencegahan bunuh diri

Bunuh diri merupakan penyebab utama kematian kedua di rentang usia 15-29 tahun secara Global. Banyak masyarakat yang depresi akibat dihimpit masalah ekonomi dan pada akhirnya mereka rela mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Miris, melihat fenomena seperti ini. Penting sekali kita memahami bagaimana pencegahan bunuh diri, dengan memfasilitasi akses pelayanan kesehatan mental bagi masyarakat.

Dari data chanel Youtube 1% ada beberapa masalah yang terjadi khususnya di Indonesia:

Pertama, kurangnya tenaga kesehatan mental (psikolog) hanya 2.500 sampai 2.600 se-Indonesia.

Menurut IPK HIMPSI pada data jumlah Psikolog klinis. Artinya dari data tersebut, dari 2.500 sampai 2.600 Psikolog ini harus menangani 270 juta orang Indonesia. Yang diantaranya 10% sampai 15% mengalami masalah mental yang cukup berat alias sudah gangguan klinis. Ini belum masuk dalam masalah gangguan mental yang ringan.

Kedua, masalah infrastruktur dan support dari pemerintah yang masih kurang. Misal, ketika salah satu dari teman kita yang mengalami gangguan kesehatan mental kita bingung mau pergi kemana. Hal ini karena kurangnya support dan infrastruktur. Tidak ada layanan konsultasi, mentoring dan konseling.

Pendekatan pada subyek yang ingin bunuh diri

Bunuh diri adalah masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan pendekatan. Kesehatan mental dan pencegahan untuk mengurangi angka bunuh diri akibat gangguan mental.

Perlu kita sadari bersama bahwa bunuh diri bukan hanya masalah orang lain, itu adalah tanggung jawab kita secara kolektif. Raih dan rangkul orang yang kita cintai.

Jangan pernah kita menghindar apalagi pergi dari mereka. Sejatinya mereka perlu seseorang untuk mengutarakan semua keluh kesahnya selama dia hidup. Dengan demikian mereka sadar bahwa mereka tidak sendiri melawan arus dan gelombang dunia.

Kita perlu memberikan rasa aman dan nyaman, penuh perhatian. Hal ini sekaligus membantu dimana orang yang berpikir bunuh diri, merasa aman berbagi pikiran dan perasaan mereka kepada kita.

Selain itu kita mesti menghindari sikap menghakimi dan mendikte mereka. Kita harus menormalkan dialektika soal kesehatan mental di antara mereka yang kita cintai. Kita harus meyakinkan mereka bahwa kita bisa memberikan dukungan agar mereka bisa percaya.

Mari bersama kita mencegah bunuh diri!

Selamat Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia, 10 September 2020.

(Tulisan ini merupakan hasil karya mahasiswa UMY, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam angkatan 2016, yang disempurnakan oleh Penulis).

0Shares

Tinggalkan Balasan