Ketika Hujan Menyapa Malam

Pukul 21.33 WIB.

Gerimis kini berubah menjadi hujan, hanya tak deras. Tapi cukup untuk menyelimuti malamku, dengan dinginnya.

Yah, setidaknya sepoian angin dapat mengusir malam-malam gerah yang lalu.

Detik terus bergerak, tapi terasa lambat. Lebih lambat dari lari siput.

Malam tak kunjung larut, meski mata sudah menahan kantuk. Terbelai irama katak menyanyi bersahutan, kala hujan menyapa malam.

Tik tik tik.

Kupercepat jemari menari, ingin segera berlalu dalam buaian bunga tidur. Setelah hari-hari lalu, tak pernah lelap dalam tidur.

Tapi kenapa netra tak kunjung terpejam. Barang sejenak, untuk memancing si bunga tidur.

Tik tok tik tok tik tok.

Menit sudah berganti, tapi baru sepuluh menit berlalu? Ah, rasanya malam ini bakal lebih panjang. Meski nyatanya sama, 24 jam kurang.

Ruangan ini masih gelap, meski tak gulita. Ibu pun masih terlelap karena obat. Samar-samar kulihat, ketika gemuruh datang membawa cahaya kilat.

Sesekali tercium aroma tanah yang terbasahi hujan. Aah … sungguh aroma yang menenangkan.

Petir masih saling menyambar, bergantian dengan cahayanya. Dan sepuluh menit kedua, telah berlalu.

Ada sedikit rasa khawatir. Akankah Desember kulalui dengan baik-baik saja?

“Tak apa, kamu bisa melalui ini, hanya sedikit bergadang. Tenang saja, toh akhir bulan tak lama lagi. Si dia pasti akan segera terisi. Libur panjang akan segera menanti.

Tak apa, tak perlu kemana-kemana. Toh, si musim hujan mulai datang. Sedikit menyebalkan bukan, jika saat bepergian justru hujan turut menemani?

Tak apa sayang, tantangan ini akan segera berakhir. Begitu hari berganti, saat hari terakhir Desember.

Tak apa. All is well, kata 3 idots!

Hei sayang, tak apa jika ada tak sesuai dengan yang kau harapkan. Karena inilah kehidupan. Tak selalu kau dapat apa yang kau mau.

Tapi, selama kau berusaha semaksimal mungkin. Takmungkinhasilakan mengkhianatimu. Kecuali adarencanabesar dari-Nya. Yakinlah.

Berhentilah sejenak, jika kau merasa lelah. Atau mungkin merasa jenuh. Hanya saja, jangan lupa untuk bersiap melangkah dan berlari lagi.

Karena mimpimu terlalu indah, jika harus selesai di sini.”

Entah sudah kesekian kali, sepuluh menit berlalu. Hujan tak juga berhenti, masih betah menyirami bumi sepertinya.

Malam beranjak larut, netra pun akhirnya tak kuat menahan kantuk. Ingin segera ia terpejam, tapi masih menunggui jemari yang betah menari bersama gawai pintar.

Tunggu, sedikit lagi. Ia mulai lelah dan lelap.

Aah … akhirnya. Hentikan sejenak segala aktivitas, dan segeralah pergi ke pulau kapuk. Biarkan mereka mendapat haknya, beristirahat yang cukup.

Selamat malam kawan. Jangan begadang dan jaga kesehatan.

Jombang, 02 Desember 2020
Salam Unyu dan Sayang :*

0Shares

Tinggalkan Balasan