Ucapanmu adalah sebuah doa. Maka ucapkanlah yang baik-baik saja. Agar kelak bila Allah mendengar ucapanmu dan mengabulkannya, maka kamu akan mengerti bahwa Allah tak pernah mengingkari janji-Nya untuk mengabulkan doa hamba-Nya.

Demikianlah yang kurasakan saat ini. Dulu aku pernah membayangkan alangkah senangnya jika aku bisa naik pesawat Garuda dan mengunjungi berbagai tempat wisata di Jakarta. Itulah impianku. Jujur aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Jakarta. Ingin rasanya bisa berkunjung ke Jakarta, melihat monas atau tempat wisata lainnya.

Kenangan saat diundang ke Jakarta dan bertemu blogger se Indonesia

Ternyata impianku menjadi nyata. Beberapa bulan kemudian aku mendapat undangan bersama tiga orang teman blogger Bali untuk menghadiri acara di Jakarta. Kami bertemu dengan para blogger dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti sebuah acara selama tiga hari. Berbagai fasilitas pun kudapatkan, mulai dari tiket pesawat pulang pergi dengan jenis pesawat yang kuidam-idamkan, menginap di hotel berbintang, mengunjungi berbagai tempat wisata terkenal di Jakarta dan mendapatkan uang saku.

Bukan hanya itu. Setiap membayangkan sesuatu yang kuinginkan, hampir semua yang ada dalam bayangan menjadi nyata. Membayangkan ingin merasakan kue bolu buatan tetangga, beberapa hari kemudian tetangga datang ke rumah mengantar sekotak kue bolu buatannya.

Begitupun  dengan suami. Pernah suatu hari dia mengutarakan keinginannya untuk memiliki sepeda balap. Mataku tiba-tiba terbelalak.

“Sepeda balap?”

“Uang dari mana untuk membeli sepeda balap dengan merek terkenal?”

Ingin rasanya membahagiakan suami dengan membelikan sesuatu yang menjadi impiannya. Namun aku belum sanggup. Tabungan yang dari dulu kukumpulkan tak juga bisa terkumpul karena berbagai hal. Kalau tiba-tiba saat ini suami menginginkan sebuah sepeda balap dengan merek terkenal, dari mana aku mendapatkan uang untuk membeli sepeda balap itu?

Hampir setiap hari aku mencari cara mendapatkan uang. Namun tak juga kutemukan solusinya. Hanya Allah-lah tempatku berkeluh kesah sambil membayangkan alangkah senangnya suami andai aku bisa membelikannya sebuah sepeda balap impiannya.

Masyaallah, lagi-lagi impian dan ucapan itu akhirnya nyata. Suatu hari suami menceritakan jika ada rekan kerjanya yang akan menghadiahkan sebuah sepeda balap impiannya. Keesokan harinya sepeda itu nyata diantar ke rumah tepat di hari ulang tahun suami.  Sungguh aku terharu melihat sebuah kenyataan yang ada didepan mata. Ucapan itu bisa saja didengar Allah dan kelak Allah akan mengabulkannya. Makanya jangan sekali-kali mengumpat, memaki atau menyumpahi orang lain dengan kata-kata yang kurang baik. Kalau umpatan itu tidak berubah menjadi kenyataaan tidaklah masalah. Namun jika umpatan itu didengar Allah dan nyatanya terkabul, sungguh kita akan menyesal.

Demikianlah yang kuajarkan kepada Fawaz, anak semata wayangku. Namanya anak, tanpa memandang status sosial, hampir semuanya memiliki keinginan yang sama. Kalau melihat temannya memiliki sesuatu yang menarik, maka dia juga ingin memilikinya. Dengan rengekannya, dia minta dibelikan sesuatu yang mirip seperti milik temannya. Tak peduli apakah orang tuanya mempunyai cukup dana untuk membelikannya atau tidak.

Jika kita tidak memberikan pengertian sambil menunjukkan contoh nyata kepada anak, maka sang anak akan terus menuntut tanpa peduli apakah orang tuanya sanggup memenuhi permintaannya atau tidak. Hal inilah yang terus kutanamkan kepada Fawaz. Bahwa roda dunia ini berputar. Tak selamanya kehidupan akan berada diatas. Ada kalanya ia akan terpuruk dan berada dibawah. Seperti roda sepeda yang berputar bila dikayuh, demikianlah kehidupan manusia.

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Dia bisa berubah menjadi musibah bila orang tua tidak mendidiknya sembari membekalinya dengan ilmu agama. Disinilah pentingnya doa orang tua yang tak pernah putus dan ucapan baik kepada sang anak yang dapat membentuk karakter anak itu sendiri.

Coba kita ingat-ingat, pernahkah menyumpahi anak ketika dia berbuat yang tidak kita kehendaki, meski ucapan itu keluar spontan karena kekesalan kita? Atau pernahkah memaki anak ketika dia mendapatkan nilai jelek di sekolahnya, meski itu hanya gertak sambal semata?

Kalau pernah, ucapkanlah “astagfirullahaladzim” berulangkali seraya memohon ampun kepada Allah. Ingatlah bahwa orang tua ikut andil dalam membentuk karakter anak. Bila di rumah anak sering dimaki, dihardik atau dimarahi, niscaya ucapan orang tua bisa jadi didengar Allah dan berubah menjadi kenyataan.

Bukankah kita ingin anak kita nantinya tumbuh menjadi anak yang sukses kebanggaan orang tua? Kalau “iya” mulai sekarang rubahlah cara mendidik anak dengan menanamkan kasih sayang dalam berbagai suasana. Jangan lagi mengucapkan kalimat yang kurang baik jika anak kita berbuat kesalahan. Setiap kesalahan yang diperbuat sang anak tentu ada penyebabnya. Jalan satu-satunya ajaklah anak untuk berdamai dengan masalah. Jadilah pendengar dan teman yang baik untuk anak. Dengan begitu anak pun akan menganggap orang tua sebagai teman berkeluh kesah.

Demikianlah yang kulakukan kepada Fawaz. Aku bukanlah ibu yang baik buatnya. Namun aku belajar dari pengalaman yang telah lalu. Dulu aku pernah marah ketika dia berbuat diluar harapanku. Nilai ulangannya jelek aku marah. Dia main terlalu lama aku marah. Namun dengan meluapkan kemarahan rupanya tak membuat Fawaz berubah. Ketika aku melarang, seolah laranganku malah membuatnya untuk berbuat sesuatu yang kularang. Dari situlah akhirnya aku menemukan solusinya. Bahwa anak butuh kasih sayang, butuh pendekatan dan kesabaran.

Ketika Fawaz melakukan kesalahan, kudekati dia dan kutanyakan mengapa berbuat seperti itu. Lama kelamaan Fawaz pun sering terbuka kepadaku. Bahkan menganggapku sebagai temannya bercerita dan meminta pendapat. Dari sinilah akhirnya aku mengerti bahwa anak tidak suka dimarahi. Namun dia butuh kasih sayang dan tempat sandaran untuk mencurahkan keluh kesahnya.

Begitupun dengan keinginan-keinginannya yang belum kupenuhi. Awalnya dia ngotot minta henpon baru. Setelah kuhitung-hitung harganya cukup mahal. Belum lagi aku harus menyiapkan dana untuk pendaftaran masuk SMA nanti. Tentunya prioritas utamaku adalah biaya pendidikan bukan henpon. Dengan memberikan alasan yang masuk akal akhirnya Fawaz mau menyadari bahwa permintaannya terlalu tinggi dan tidak harus dipenuhi saat ini.

Dan lagi-lagi tentang impian serta doa. Beberapa bulan sebelum corona mewabah, aku sempat membayangkan bagaimana hasil ujian akhir Fawaz, sementara persiapannya belum matang. Berapa nilai NEM-nya, lalu dimana dia akan melanjutkan sekolah? Aku seringkali dihinggapi rasa gusar dan ragu. Takut seandainya hasil ujian Fawaz tidak sesuai harapan. Lalu tiba-tiba corona mewabah dan aktivitas sekolah termasuk ujian akhir diganti secara online. Disitulah akhirnya aku merasakan mukjizat Allah yang luar biasa. Meski Indonesia dinyatakan pandemi corona yang membahayakan setidaknya ada hikmat yang bisa kudapatkan. Fawaz bisa mengikuti ujian sekolah secara online dengan hasil yang memuaskan jauh dari keraguanku sebelumnya.

Jadi, libatkanlah Allah dalam mendidik anak. Doakan yang baik-baik saja untuk anak. Anak adalah amanah dan titipan dari Allah yang harus kita jaga dan rawat sebaik mungkin. Kelak bila anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, niscaya dia akan menjadi pembuka pintu surga bagi kita orang tuanya. Sekali lagi jangan mengucapkan hal-hal yang kurang baik kepada anak disaat dia berbuat kesalahan, karena ucapanmu itu bisa berubah menjadi doa yang terkabul. Lebih baik ucapkan yang baik saja, kelak bila ucapan itu terkabul, maka kebahagianlah yang kita dapatkan.

0Shares

Tinggalkan Balasan