Hari ini tumben ibu-ibu kompleks sudah pada kumpul dibawah pohon jambu di depan rumah. Setelah merebaknya pandemi, tiga bulan lamanya, warga kompleks taat untuk tetap di rumah saja.

Ada apa ini? Aku mengintip dari pintu. Melongokkan kepalaku sedikit. Ada ibu Santi yang biasa membawa kabar terbaru. Hmmm, sepertinya ada yang hangat nih, pikirku.

“Jeng, jangan melongok aja. Sini gabung. Ada kabar bagus nih di kompleks kita,” salah seorang diantara mereka melihatku.

Antara iya dan tidak. Hatiku masih mendua untuk memutuskan bergabung dalam kumpul sore kali ini. Teringat masih ada virus yang katanya begitu cepat menular, bahkan hanya dengan sentuhan tangan saja. Sementara ibu-ibu yang berkumpul tak satupun yang menggunakan masker dan juga tidak menjaga jarak.

“Jeng Ratmi, ayo sini. Nanti nyesal lo ketinggalan berita.”

Akhirnya aku mendekat. Dengan menggunakan masker dan membawa handsinitizer.

“Halah jeng Ratmi, kagak usah masker-maskeranlah. Kita aman kok. Kan selama ini kita nggak ngemall atau ke pasar. Gak keluar-keluar rumah. Paling beli sayur dengan mang Jejeng doang,” kata bu Santi dengan gayanya yang ceplas-ceplos.

Aku tersenyum.

“Waspada aja, bu San,” jawabku sambil mencari posisi enak untuk mendengar berita terbaru.

“Ada berita apa sih, kok seru amat. Sampai bela-belain keluar rumah segala?”tanyaku.

“Jeng Ratmi tahukan rumah gedong di sudut kompleks? Itu, rumahnya pak Haji Dadang. Orang terkaya di kompleks kita. Katanya usahanya bangkrut. Dan meninggalkan banyak hutang. Apalagi saat ini ada virus Corona kan ya. Makin terpuruk katanya.” cerita bu Santi.

“Terus…?” tanyaku mulai penasaran.

“Selama ini kan kita tidak tahu yang mana istri dan anak-anaknya. Nah, setelah kejadian ini, baru pada keluar tu penghuni rumah. Mulai menyapa tetangga.”

“Bagus, dong,” sahutku.

“Keluar itu karena ada maunya, jeng,” kata bu Pri, tetangga dekatku.

“Mereka itu lagi promosi buka laundry kiloan. Padahal dulu mereka gak pernah menyapa kita-kita. Pas lagi butuh aja, mulai deh baik-baik,” bu Santi menimpali.

“Oiya, dua hari yang lalu ada yang mengantarkan brosur laundry dan meletakkannya di atas meja di teras. Saya belum baca sih, tapi agak aneh juga. Masak sih di komplek terpencil sini ada yang buka laundry,” kataku.

“Nah, itu dia. Maksudnya apa coba. Jangan-jangan hanya kedoknya saja buka laundry,” sambung bu Santi.

“Tapi jangan suudzon dululah, bu San. Meskipun di ujung kompleks yang tidak terlalu ramai, melalui onlinekan bisa to? Ini jadi salah satu peluang juga buat kita. Siapa tahu aja buka lowongan pekerjaan untuk ibu-ibu kompleks.”

“Jeng Ratmi memang brilian. Idenya masuk akal. Besok kita sowan aja ke rumahnya pak Haji. Siapa tahu buka lowongan bagian setrika atau angkat jemuran, hehehe.”canda bu Pri.

“Saya mau jadi langganananya deh. Selama lebaran belum sempat di setrika baju- bajunya. Sudah setinggi gunung. Terimakasih informasinya ya bu San. Juga ibu-ibu yang lain. Jangan lupa panggil aku kalau mau ke tempat pak Haji. Mau sekalian bawa laundry-an,” lanjutku sambil berlalu masuk ke rumah.

Bu Santi manyun. Usahanya untuk menebar gosip tidak berlanjut. Satu persatu ibu-ibu bubar karena hari sudah semakin senja. Dan nyamuk sudah merajalela menyerbu kelaparan.

Baca juga:

Saat aku mampu bertahan dalam positif thinking, akhirnya aku bisa menghindari gosip tersebut, bahkan menghentikannya. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa menebar kebaikan. Jika belum mampu menebar kebaikan pada hiruk pikuk pernyataan yang belum tentu benar, “diam” adalah salah satu cara membuat keadaan lebih baik dari pada memperkeruh suasana.

Iklan
0Shares

2 thoughts on “Laundry

Tinggalkan Balasan