Life Is Never Flat

Semenjak corona virus diseas (covid) 19 diputuskan menjadi pandemi oleh otoritas kesehatan dunia, secara otomatis mengubah ritme masyarakat dunia. Emak-emak, Bapak-bapak, kakak-kakak, adik-adik mendadak semuanya dituntut untuk memiliki kebiasaan baru atau disebut juga protokoler kesehatan minimal yang diyakini dapat menghentikan laju kasus covid19 yang kian meroket, yaitu: menjaga jarak, mencuci tangan dan menggunakan masker.

Selain itu juga kita dikejutkan dengan istilah yang kemudian menjadi populer di telinga, yang pada awalnya kadang membuat “keder”, mungkin karena masih penyesuaian, semacam istilah: social distancing, lockdown total, lockdown parcial, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), virus, sel memory, imunitas, vaksin, work from home (WFH), new normal, adaptasi kebiasaan baru (AKB), bekerja/belajar dari rumah (BDR) , “pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan lain sebagainya.

Para pekerja di berbagai sektor pun mengalami imbasnya. Sebagian ada yang masih tetap bekerja dengan menggunakan protokoler kesehatan yang ketat, atau ada juga tetap bekerja tapi dari rumah, ada juga yang mangengalami di rumahkan bahkan ada yang sampai mengalami pemutusan hubungan kerja. Hal itu disebabkan karena kondisi setiap perusahaan yang berbeda.

Sebagai wanita yang berkarier di luar rumah, kondisi pandemi ini membawa perubahan yang signifikan. Karena kebijakan pada sektor yang saya geluti, pendidikan, dimana kebijakannya ialah bekerja dari rumah, walaupun pada hari-hari tertentu harus bekerja di kantor.

Dari titik ini saya merasakan kedataran hidup. Karena kondisi ini membuat saya lebih sering berada di rumah, walaupun saya sudah memanfaatkannya untuk menyelesaikan beberapa “pekerjaan rumah” terkait dengan perkembangan anak-anak saya, tapi masih tetap terasa datar.

Bersamaan dengan itu saya mulai melirik dunia kepenulisan dengan hanya berbekal sisa-sisa membuat tugas akhir berbelas tahun kebelakang, gegara melihat karya teman kuliah yang “kece”, Hendriyani Oktaviani, yang menseret untuk mengikuti antologi “Melepas KDRT jilid 2”. Sebetulnya ketika menyerahkan naskah kepada Melani Pimpom Prita Dewi ada ragu yang menggelayut, sudah betulkah naskah yang diserahkan itu? Sebetulnya saya menunggu komen dari PJ Kece ini.

Sambil menunggu karya publish di grup wa ada pengumuman berupa tawaran writing challenge. Saya berfikir kenapa tidak mencoba, pasti akan mendapatkan banyak belajar dari para “suhu” yang telah malang melintang di dunia kepenulisan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengikutinya dan bertahan sampai saat ini. Alhamdulillah…

Ternyata selama satu bulan mengikuti writing challenge ini banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, tentunya tak hanya tentang dunia kepenulisan saja, tapi juga tentang teknologi. Saya kembali diajak untuk meng-up grade diri terkait teknologi didunia kepenulisan. Pada titik ini saya mulai merasakan hidup tak lagi datar.

Bisa menebak? Ya betul terkait dengan web. Karena bersamaan dengan tawaran mengikuti writing challange ini saya juga memutuskan untuk mengambil tawaran menjadi kontributor di webnya PJ kece, Melani pimpom pryta Dewi. Menulis yang kemudian dipublish paralel di web dan akun Facebook.

Pasca tempo hari saya membuat kekacauan di webnya, saya bertekad untuk terus tenang, sabar dalam belajar tentang kepenulisan itu sendiri tapi tentang teknologinya. Walaupun belajar sesuatu yang baru pada saat ini terasa berbeda ketika masih single. Disini saya benar-benar merasakan hidup tak lagi dan tak pernah datar.

Alhamdulillaahirabbil’alamiin sejak satu bulan yang lalu sampai dengan saat ini masih dimampukan untuk terus menulis. Insya Allah saya akan terus berusaha menyelesaikan tantangan di level 2 pada writing challange ini. Semoga bisa lulus sampai di level selanjutnya. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

0Shares

Tinggalkan Balasan