MARI MENGENAL PSIKOPAT

Assalamualaikum sahabat curhat … tema ini berawal dari pembicaraan Dewi bersama dengan salah satu kerabat, bernama mbak Dian. Beliau yang kerap membuat jantung Dewi berhenti berdetak sedetik-dua detik.

Bukan karena beliau arogan atau judes, justru orangnya baik banget dan humble. Namun, karena naskah yang ditulisnya bikin merinding disko bergenre horor (dasar sayanya yang penakut, wkwkw).

Pada akhirnya pembicaraan kita berujung pada tema psikopat. Disaat yang sama Dewi memberi tantangan pada para psikolog curhat anak sekarang yang bersedia mengulas materi tentang Psikopat. Alhamdulillah, di tengah kesibukan agenda mereka sebagai psikolog, pada akhirnya muncullah artikel perdana ini bertema ‘psikopat’.

Artikel ini dibuat untuk diambil sisi positifnya ya sahabat curhat! karena tidak dipungkiri masih banyak hal yang terjadi terkait dengan tema ini. Semoga adanya artikel ini dapat menurunkan kecenderungan psikopat, menambah pengetahuan kita untuk menjadi pribadi yang lebih mawas diri dalam bergaul.

Yuk, mari membaca tulisan perdana Ratna Yunita Setiyani Subardjo, M.Psi, Psikolog di curhatanaksekarang.com

MARI MENGENAL JOKER DAN PSIKOPAT

Secara eksplisit, psikopat adalah bahasa yang masih pro kontra digunakan dalam istilah diagnose. Namun, ‘psikopat’ sangat familiar kita dengar dan kenali di masyarakat. Definisi dan penyebab psikopat masih diperdebatkan di kalangan ilmiah.

Masih ingat dengan film Joker?

Ditengarai Joker sebagai tokoh yang psikopat. Atau mungkin generasi lama pernah mendengar kasus Rian jago jagal dari Jombang, ini juga diberi julukan Psikopat. Atau kasus terbaru seorang anak remaja yang membunuh anak kecil dan dimasukkan dalam lemari setelah sebelumnya dibenamkan ke dalam air di ember, ini juga disebut-sebut sebagai Psikopat.

Jadi sebenarnya apa yang dimaksud dengan psikopat, menularkah?

Dan apakah secara genetik bisa diturunkan?

Yuk kita pelajari bersama. Sebab ini penting untuk kita menjaga diri dan keluarga kita dari predator-predator yang mengarah pada merugikan diri dan keluarga. Kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi?

Berbagai pendapat para ahli menyebutkan bahwa penyebab psikopat dapat mencakup faktor genetika. Penyebab genetika yang dimaksud adalah dapat melalui keturunan. Hal ini bisa dilihat dari kehidupan awal dan tanda-tanda dan gejala psikopat biasanya terlihat sebelum seseorang menginjak usia dewasa awal (19 tahun).

Menurut Society for the Scientific Study of Psychopathy, Psikopat adalah; “Sebuah konstelasi sifat yang terdiri dari fitur afektif, fitur interpersonal, serta perilaku impulsif dan antisosial.”

Fitur afektif termasuk kurangnya rasa bersalah, empati, dan ikatan emosional yang mendalam dengan orang lain; fitur interpersonal termasuk narsisme dan pesona dangkal; dan impulsif dan perilaku antisosial termasuk ketidakjujuran, memanipulasi, dan pengambilan risiko yang ceroboh.

Meskipun psikopat merupakan faktor risiko untuk agresi fisik, itu tidak berarti sama dengan itu. Berbeda dengan individu dengan gangguan psikotik, kebanyakan psikopat berhubungan dengan kenyataan dan tampaknya rasional. Individu psikopat sering ditemukan di penjara, tetapi dapat ditemukan di lingkungan masyarakat juga.”

Sejauh ini, penyebab psikopat masih banyak menjadi perdebatan. Begitu juga dengan diagnose psikopat, tetapi dapat menjadi kemungkinan berasal dari kombinasi faktor genetika, lingkungan dan interpersonal.

Pola asuh yang buruk, pola asuh yang berfokus pada hukuman (bukan hadiah) dan pola asuh yang tidak konsisten tampaknya membantu menyebabkan sifat psikopat.

genggam

Ramai tentang psikopat, ramai pula orang memperbincangkan tentang Joker.

Kita mengenal hadirnya figure Joker secara kental sebagai sesuatu yang “berbeda” dalam kehidupan nyata. Joker sebelumnya dikenal sebagai sebuah simbol dalam sebuah kartu. Pemaknaan masyarakat sekarang. Joker diangkat sebagai sosok dengan figure yang mengerikan.

Banyak yang memberikan stigma bahwa Joker adalah simbol figur bermasalah yang mengerikan dan mengalami psikopat.

Disiplin ilmu psikologi yang berhubungan dengan analisa pelacakan terhadap motif seseorang melakukan kejahatan dikenal dengan sebuah cabang baru dalam psikologi yaitu psikologi forensik.

Psikologi forensik muncul sebagai sebuah tuntutan kebutuhan akan adanya campur tangan psikologi dalam penuntasan kasus-kasus kejahatan terutama yang ada di kepolisian.

Menilik pada analisa film Joker, apakah film ini bagus?

Bu Reni Kusumowardani, Ketua APSIFOR alias Asosiasis Psikologi Forensik Indonesia tergelitik untuk secara khusus mebahas film ini bagi khalayak, karena film ini cukup dianggap membahayakan bagi generasi muda.

Mari ita simak apa yang beliau sampaikan. Menurut beliau film ini disajikan dengan pemeran & sutradara yg mampu memvisualisasi situasi psikologis Arthur Joker dengan begitu gamblangnya sehingga mampu mengaduk kognitif dan emosi penontonnya.

Untuk dalam lingkup pembelajar psikologi, film ini sangat oke, namun film ini sangat penuh risiko jika dilihat oleh orang-orang dengan kondisi psikologis yg tidak stabil. Sebaiknya anak-anak atau remaja tidak atau dilarang menontonnya.

Butuh pertimbangan waras tingkat tinggi untuk tidak terpengaruh oleh film ini. Berbagai perilaku maladaptif akibat perjalanan hidup Joker, yang berujung pada keputusan perilaku antisosial yang sangat sadis, diperkuat oleh gangguan halusinasi dan delusinya dari sudut pandang psikologi forensik menjadi sangat kompleks.

Pada saat diagnosis multi axial menunjukkan: Terpenuhinya aksis 1 (gang delusional psikotik), dan aksis 2: gangguan kepribadian disosial/psikopat dan aksis 4: problem ekonomi, social & family support.

Apakah kemudian Joker dapat dinilai memiliki kompetensi mempertanggungjawabkan tindak pidanya? Bisa jadi psikolog akan menyatakan tidak. Namun demikian pemeriksaan psikologi forensik tidak dapat berhenti sampai disini.

Ada risiko keberbahayaan homicidal yang tinggi. Sehingga rekomendasi hospitality perlu disertai catatan pengawasan ketat. Super maximum security. Itu sebabnya sebaiknya tidak menonton film ini dan lebih memilih untuk memberikan tawaran lain yang bisa mengajak anak-anak kita, baik anak maupun remaja untuk bisa lebih bijak dalam menentukan bahan tuntunan yang baik bagi anak.

Peran orang tua sangat besar.

Pengaruh film dapat memberikan sugesti karena dalam adegan film seringkali ditampilkan adegan-adegan yang justru memunculkan stimulasi tertentu. Bagi kita dengan kondisi yang baik dan kuat, tontonan itu bisa jadi tidak akan besar pengaruhnya pada kondisi mental kita, namun berbeda dengan mereka yang sedang dalam kondisi yang kurang baik, luka batin yang menganga, traumatis, dendam, hingga masalah putus asa dan konflik yang tak pernah selesai.

Justru ada bagian dari film yang menjadi inspirasi penonton untuk melakukan suatu kejagatan atau menyakitri diri sendiri.

Mengenal Psikopat

Psychopath tidak sama dengan paranoid atau skizofrenia, karena psikopat sepenuhnya menyadari tindakannya. Gejala itu sendiri sering disebut sebagai psikopati. Korban sering disebut orang gila (baca: Orang dengan Gangguan Jiwa), tetapi tanpa gangguan mental.

Menurut penelitian, sekitar 1% dari total populasi dunia menderita psikopati. Orang yang menderita psikopati sulit dideteksi, karena 80% lebih banyak bergerak di luar, daripada di penjara atau rumah sakit jiwa, dan juga sangat sulit untuk merawat korban.

Dalam kasus kriminal, psikopat diidentifikasi sebagai pembunuh, pemerkosa dan koruptor, tetapi hanya 15 hingga 20% dari total psikopat. Selebihnya adalah pria/wanita yang berpenampilan sempurna, pandai berbicara, menarik, memiliki pesona luar biasa, dan menyenangkan.

Psikopat di sini merujuk tidak hanya kepada orang-orang yang melakukan pembunuhan secara kejam saja, tetapi juga dapat diartikan sebagai mereka yang berusaha memenuhi kebutuhan dengan mengorbankan orang lain tanpa rasa bersalah dalam dirinya.

***

Subhanallah, Dewi sampai tidak bisa berkata-kata. Semoga kita terhindar dari orang-orang yang menderita psikopati. Semoga mereka yang menderita psikopati bisa segera menemukan kebaikan dan menjadi pribadi yang terbebas dari perilaku psikopati.

Baca juga yuk:

Terimakasih Ratna Yunita Setiyani Subardjo, M.Psi, Psikolog untuk ulasanannya sangat membantu dan membuat kami bisa lebih mawas diri. Semoga bermanfaat ya sahabat curhat.

Salam,

Dewi Adikara.

Iklan
0Shares

4 thoughts on “MARI MENGENAL PSIKOPAT

  1. Film tentang psikopat yang menonjolkan tokoh psikopatnya, menurut saya, harusnya sih film 21 tahun ke atas. Paling tidak secara teori sudah matang mentalnya. Tapi kalau mau memahami benar-benar tentang psikopat, sebenarnya lebih bagus nonton Silence of the Lambs. Itu film serius yang memang menceritakan usaha untuk memahami psikopat.

    1. Terima kasih Bu atas responnya. Betul sekali, pembatasan usia mestinya diberlakukan karena butuh diri yang matang untuk dapat meregulasi efek film Bu. Jika tidak, efek negatif akan membias sementara waktu dan harus penuh dampingan orang tua. Joker lebih booming saya rasa juga karena pengaruh medsos. Film yang iBu rekomendasikan akan menjadi referensi bagus saat kita sudah mengenal lebih awal setidaknya ttg psikopat ini. Ikhtiar untuk meningkatkan keswa kita memang harus dimulai dari diri kita sendiri, semoga referensi film mulai dari yang kita dengar, lihat dan rasakan dapat dengan lebih bijak kita sikapi. Salam tangguh Bu/Mbak Dyah…

  2. Mba Dewi dan Bu Ratna Yunita, maaf saya mau tanya. Jika dulu di usia 12 tahun saya menjepit leher ayam sampai ayamnya mati karena kekesalan memuncak akibat omelan bapak yang tiada henti. jadi saya lampiaskan ke anak ayam milik bapak.

    Setelah kejadian 28 tahun silam sampai saat ini, tanpa rasa penyesalan. Itu termasuk psikopat kah?

  3. Terima kasih kasih satas pertanyaannya mbak Ribka, karena saya hanya mendapatkan informasi sedikit dan belum menyeluruh, mohon maaf saya belum bisa menyimpulkan. Keinginan menyakiti hewan disaat kita baru saja mengalami tekanan akibat stressor serupa/amarah dari Bapak, bisa jadi dilakukan mb Ribka karena Mbak sadar atau tidak sadar sedang meniru perilaku orang lain di sekitar Mbak. Bisa jadi itu adalah model dari yang memberikan pengasuhan selama ini ke Mbak, hasil dari pola asuh, atau bisa jadi karena Mbak melihat perilaku orang lain yang tanpa sadar terinternalisasi dalam diri Mbak, sehingga Mbak melakukannya. Emosi adalah bagian dari diri kita yang akan selalu menyertai kita, bisa negatif bisa positif. Jika berjalan waktu Mbak bisa memanajemen emosi negatif Mbak untuk tidak menjadi timbunan dalam diri Mbak, menurut saya itu wajar. Karena dalam kehidupan sehari-hari, kita semua pasti mengalami masalah dan diikuti dnegan emosi dalam menyikapinya. Yang penting, tidak berlarut-larut Mbak … salam.

Tinggalkan Balasan