Memaknai Belajar Sebagai Proses Yang Tak Pernah Berhenti

Assalamualaikum Sobat Curhat,

Sobat Curhat masih ingat tidak kalau pada bulan Mei ini bangsa Indonesia, tidak saja memperingati Hari Buruh namun juga  Hari Pendidikan Nasional atau biasa kita menyebutnya Hardiknas. Saya masih ingat saat Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas, pada tanggal 2 Mei harus mengikuti upacara bendera di sekolah bahkan terkadang di lapangan Walikota. Saya dan teman-teman akan berbaris membawa bendera merah putih kecil dan menyanyikan lagu Hymne Guru sebagai bukti rasa terima kasih kita kepada para Bapak/Ibu Guru yang teah mendidik .

Sobat Curhat,  Setiap Guru dapat mengajar namun mendidik membutuhkan suatu keahlian tersendiri. Terlebih pada masa sekarang,  generasi milenial yang seperti memiliki dunia tersendiri yang tidak terjangkau oleh kita para orang tua dan Guru.  Sehingga mendorong para Guru dan Orang Tua untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan/wawasannya agar saat ditanya oleh anak-anak terutama terkait pelajaran disekolah, kita mampu menjawabnya. Setidaknya memberikan jawabn yang pada akhirnya akan dicarikan bersama

Sebagai orang tua atau guru, kita  tidak boleh terlalu sering tersinggung dengan pemikiran-pemikiran atau kata tanya yang dilontarkan anak-anak karena  mereka justru tengah memberikan kesempatan untuk kita beajar memahami sesuatu. Dan belajar adalah sebuah proses yang tak pernah berhenti.

Kita mungkin berpikir bahwa belajar adalah produk dari lembaga Pendidikan.  Kita yang menganggap diri kita adalah barisan orang yang dewasa, tidak memerlukan lagi belajar. Belajar itu cukup  di sekolah. Mungkin dari kita pernah melontarkan kata-kata itu.

Sobat Curhat,

Belajar sebagaimana dikemukan oleh Rivai (2009)[1] adalah suatu proses penting perubahan perilaku setiap orang yang mencakup perkembangan, kebiasaan, sikap, keyakinan, tujuan, keprbadian bahkan persepsi seseorang.

Dari pengertian menurut ahli diatas dapat kita petik beberap hal yaitu:

  1. belajar adalah sebuah proses
  2. output dari belajar adalah perubahan perilaku
  3. belajar tidak mengenal batasan waktu.

Belajar merupakan sebuah proses karena dalam belajar kita mengalami tahapan yang berkelanjutan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjad mengerti, dari tidak bisa menjadi bisa.

Perubahan perilaku menjadi output dari belajar karena dengan kita belajar, cara kita mengungkapkan pemikiran kita akan berubah, perilaku kita pada orang tua dan guru akan berubah setelah kita belajar. Sekecil apapun perubahan yang terjadi itu adalah output dari belajar.

Belajar juga disebut tidak mengenai batas waktu karena setiap hari adalah waktu kita untuk belajar. Sepanjang usia kita tidak akan lepas  untuk belajar


Sobat Curhat

Mungkin sobat pernah memperhatikan bagaimana seorang bayi mulai belajar. Bayi belajar untuk berbicara, belajar merangkak, belajar berdiri dan berjalan. Saat sang bayi memasuki usia sekolah, ia akan  belajar berinteraksi dengan teman-temannya, belajar bernyanyi, belajar mengucap kata salam dan belajar hal-hal yang diajarkan di sekolah.  Saat kita beranjak dewasa, kita belajar beradaptasi dengan orang dan lingkungan sekitar . Kita belajar menjalani peran yang kita miliki, dari seorang anak, seorang kakak atau adik, seorang sahabat, kekasih, seorang suami/istri, kakek/nenek, Om/tante, warga RT,  staf atau atasan di kantor, warga negara,  dan warga dunia. Banyak peran yang kita jalani dan tampa sadar kita semua tengah belajar.  Belajar tidak mengenai batas waktu. Bahkan sepanjang hidup kita adalah proses belajar yang tak pernah terhenti.

Sobat Curhat,

Jadi dalam rangka memperingati Hardiknas, mari kita tidak saja mengingat pada bagaimana pola Pendidikan di Lembaga Pendidikan di negara kita dan apakah kita semua sudah berpendidikan? namun lebih kepada bagaimana kita mulai memaknai belajar sebagai prosess yang tidak tak pernah berhenti.  Belajar dari hal yang sederhana, mulai dari diri kita dan sekarang!.

Tulisan ini hanya suatu curhat saja kepada sobat curhat .

[1] Rivai Veitzal, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Perusahaan dari teori ke praktek. Jakarta : PT Raja Grafindo Perkasa, 2009 hal 82

0Shares

2 thoughts on “Memaknai Belajar Sebagai Proses Yang Tak Pernah Berhenti

Tinggalkan Balasan