MEMOTIVASI DIRI BEKERJA SAAT TANGGAP DARURAT COVID  19

Dunia seperti a Beautiful Princess yang baru terbangun dari tidur panjangnya,  tertegun karena virus COVID 19 yang menjadi pandemik yang menyebarkan rasa takut di seluruh warga dunia. Terlebih di Indonesia yang semakin hari semakin meningkat jumlah pasien positifnya. Tentu bukan sebuah sikon yang kondunshif.

Krbijakan yang diambil Pemerintah terkait penanganan COVID 19 adalah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan sasaran kota atau kabupaten yang dinilai memenuhi persyaratan untuk dilaksanakan PSBB. Kebijakan ini sebagai tindak lanjut anjuran Pemerintah untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah. Hal ini diperlukan dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus yang menular dari individu ke individu lainya secara cepat.

Idealnya dengan langkah-langkah yang telah diambil Pemerintah adalah kita menghentikan semua kegiatan bersekolah/kuliah, bekerja dan beribadah. Karena smua dapat dilakukan di rumah. Anak-anak dapat mengerjakan tugas yang diberikan sekolah melalui Whatshapp Grup  Orang Tua dan Guru. Mahasisawa bisa kuliah melalui sistem online. Bapak /Ibu yang bekerja dapat bekerja dari rumah dengan   fasilitas gadget, email, aplikasi vidcon atau Zoom  meeting. Beribadahpun bisa dilakukan di rumah bersama keluarga. Intinya adalah pembatasa sosial karena virus ini dengan mudahnya dapat menyebar dari satu individu ke individu lainnya sehingga dengan membatasi seminimal mungkin kontak atau kebersamaan antar individu diharapkan akan memutus rantai penularan. Kebijakan PSBB juga membatasi secara kualitas mauun kuantitas dari transportasi publik. Kemudian berkanjut pada kendaraan pribadi dan ojol. 

Lalu bagaimana dengan individu yang masih harus bekerja saat masa tanggap darurat COVID 19 ini?

Fakta    menunjukkan masih banyaknya para pekerja di daerah DKI Jakarta yang tetap harus datang ke kantor. Meski secara kuantitas sudah berkurang, namun masih banyak kantor yang buka dan mengharuskan pegawainya atau karyawannya untuk masuk bekerja.  Jujur hal ini sangat berat sekali. Saya pribadi termasuk mereka yang masih harus bekerja 3(tiga) kali seminggu. Sesuai jadwal   yang telah disusun dan kerja tim.  Sebagai Aparatur Negera adalah sebuah kewajiban bagi kami untuk menaati peraturan dan ketentuan yang berlaku dalam organisasi. Namun sebagai individu sangatlah berat mengingat terbatasnya transportasi publik yang dapat digunakan.

Saya sudah tidak bisa naik ojol. Naik MRT pun tidak bisa karena tidak berhenti di stasiun dekat kantor saya. Naik KRL pun menjadi suit karena jarak anatar rumah dengan stasiun terdekat tidak bisa ditempuh dengan ojol. Akhirnya saya terpaksa menggunakan GoCar atau Taxi. Bisa dibayangkan dong betapa beratnya yang harus saya hadapi? Bukan  sekedar rupiah tapi juga rasa kekhawatiran saya menjadi pembawa virus dan menulari keluarga di rumah. Di rumah saya ada anak  kecil dan ada orang tua yang sudah manual. Tentu setiap  hari selalu ada rasa takut itu.

But The show must go on. Bagaimanpun juga saya tetap harus bisa ke kantor karena rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan lebih mendorong saya untuk tetap ke kantor bukan sekedar kewajiban absen belaka. So pertanyaannya sekarang bagaimana saya dapat memotivasi diri saya untuk tetap berangkat ke kantor pagi hari jam  06.30 WIB dan pulang sore hari? .

Pertanyaan itu saya jawab dengan mengembalikan pada tujuan saya bekerja. Karena hanya dengan  flash back kepada apa yang menjadi tujuan kita bekerja akan memberikan dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu.  Setiap  orang  pasti memiliki tujuan dalam bekerja. Bisa karena uang, bisa karena mencintaian pekerjaan, ataupun karena kebutuhan hidup. Tidak akan sama setiap orang namun setidaknya bila menyitir dari Jansen Sinamo[1] mengenai 8 (delapan) etos kerja professional yaitu:

  1. Kerja adalah  rahmat, maka aku bekerja tulus penuh rasa syukur
  2. Kerja adalah Amanah maka aku bekerja  benar penuh tanggung jawab
  3. Kerja adalah pnggilan maka aku bekerja tuntas penuh integritas
  4. Kerja adalah aktualisasi diri maka aku bekerja kereas penuh semangat
  5. Kerja adalah Ibadah maka aku bekerja dengan oenuh kecintaan
  6. Kerja adalah seni maka aku bekerja cerdas penuh kreativitas
  7. Kerja adalah kehirmatan maka aku bekerja tekun penuh keunggulan
  8. Kerja adaah pelayanan maka aku bekerja paripurna dengan penuh kerendahan hati

Setiap individu pasti memiliki tujuan yang berbeda tapi secara umum pastnya melingkupi 8 (delapa) etos kerja menurut Janssen Sinamo. Silahkan dari kita kembali untuk merenungi apa tujuan kita dalam bekerja sehingga kita akan termotivasi untuk tetap berjuang berangkat bekerja ke kantor di tangah masa tanggap darurat COVID 19  ini.  Yakinlah bahwa wabah ini akan berakhir karena Allah selalu bersama hambaNya,  tidak akan meninggalkan kita karena selalu ada hikmah dibalik karang ketidakpastian hidup.

Yakuza. Yakin Usaha Zampai….:)


Sumber referenc: [1] Janssen  H.  Sinamo, 8 Etos Kerja Profesional. Jakarta: PT Spirit Mahardika, 2005

Iklan
0Shares

Tinggalkan Balasan