Bagi kami, mudik sudah menjadi tradisi menjelang lebaran. Dulu, sewaktu kami masih tinggal di Papua, hampir tidak pernah mudik ke Jawa. Selain jarak yang sangat jauh, untuk mudik ke Jawa sekeluarga kami harus merogoh kocek puluhan juta. Bahkan, setelah mudik kami harus berjuang mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi memulai kembali kehidupan di Papua.

Kini, setelah hampir delapan tahun kami menetap di Bali, mudik lebaran menjadi sebuah keharusan, karena tradisi sungkeman di keluarga besar yang sampai saat ini masih dipertahankan. Tradisi sungkeman biasanya dilaksanakan setelah sholat Ied sebelum tamu berdatangan, dimana orang tua (bapak dan ibu) duduk diatas, sementara para anak, menantu dan cucu berbaris untuk sungkem atau salaman kepada orang tua.

Salaman ini dimulai dari keluarga anak sulung dilanjutkan keluarga anak bungsu. Sementara cara sungkem dengan jalan jongkok dan salaman bersimpuh didepan bapak dan ibu. Intinya dalam sungkeman ini yang muda memohon maaf atas kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja dan memohon doa restu agar kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Inilah sensasi lebaran yang selalu kami rindukan. Tradisi sungkeman membuat kami merasa dekat dengan orang tua dan saudara. Dan inilah cara kami membahagiakan kedua orang tua. Orang tua tidak pernah meminta apapun kepada anaknya, yang mereka inginkan saat lebaran tiba bisa berkumpul dengan anak dan cucunya. Makanya kami selalu menyempatkan diri untuk mudik menjelang lebaran.

Dulu, awal kami pindah ke Bali, mudik seringkali kami lakukan dengan mengendarai motor. Jarak Bali – Blitar sebenarnya sangat jauh, namun kami ingin merasakan sensasi mudik naik motor sekaligus merasakan nikmatnya touring bersama keluarga.

Mengapa tidak naik pesawat terbang, bus atau travel?

Pernah naik pesawat terbang dari Denpasar ke Surabaya. Dari Surabaya kami harus ke terminal Purabaya untuk naik bus jurusan Blitar. Ternyata sepanjang perjalanan Fawaz (anak semata wayang kami) hampir mabuk kendaraan karena kondisi jalan yang berbelok-belok. Bahkan pernah juga naik pesawat terbang dari Denpasar ke Malang. Itupun juga harus mencari kendaraan lagi untuk sampai ke Blitar. Hal yang membuatku menghela nafas adalah harga tiket pesawat yang selalu naik menjelang lebaran. Sudah kebayang sekian juta harus kukeluarkan dana untuk membeli tiket pesawat pulang pergi.

Bila naik bus umum, itu artinya kami menikmati perjalanan malam dalam sebuah bus yang penuh penumpang. Kadang toiletnya kurang bersih, atau rumah makan yang disinggahi bus tidak sesuai keinginan. Akhirnya Fawaz- lah yang merengek sepanjang jalan. Sementara untuk travel, belum ada travel khusus jurusan Denpasar – Blitar. Inilah yang membuat kami memutuskan naik motor bertiga dari Denpasar ke Blitar demi mudik lebaran.

Wuiiih pasti capek! Ya ..perjalanan yang begitu panjang dan lama, kadang anak merengek di jalan karena capek duduk sepanjang perjalanan, kadang hujan yang datang tiba-tiba hingga tubuh kami pernah basah kuyup meski sudah memakai jas hujan. Semua pernah kami lalui. Namun bukan berarti jera untuk mengulanginya kembali, justru inilah yang membuat kami rindu untuk mudik sambil touring.

Kami pernah berangkat dari Denpasar setelah shubuh jam 05.00 wita. Karena jalanan dari Denpasar menuju pelabuhan Gilimanuk tidak semuanya sepi, akhirnya kami sampai di pelabuhan sekitar jam 10.00 wita. Setelah menyeberang dan sampai di Ketapang, kami melanjutkan perjalanan ke Situbondo dan singgah sebentar di rumah seorang teman. Meski saat itu dalam keadaan puasa, namun tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap berpuasa. Setelah sholat dhuhur kamipun melanjutkan perjalanan.

Dari Situbondo menuju ke Probolinggo, Pasuruan, hingga sampailah kami di Lawang – Malang. Ternyata begitu sampai di Lawang, hujan turun dengan derasnya. Terpaksa kami harus memakai jas hujan masing-masing demi melanjutkan perjalanan di malam hari. Sesampai di Malang kami singgah di Mie Dempo demi menghangatkan badan sembari berbuka puasa dan menunggu hujan reda. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan menuju Blitar. Karena malam itu adalah malam menjelang lebaran, maka sepanjang jalan menuju Blitar kami harus terjebak macet. Banyak takbir keliling yang kami jumpai di jalan. Hingga sampailah kami di Blitar pada jam 12 malam.

Demi melihat kami datang naik motor, ibu menangis. Beliau tidak tega melihat Fawaz yang kedinginan.

“Kok ya gak kasihan sama anak. Hujan-hujan gini nekat naik motor. Jauh lagi. Lihat tuh Fawaz sampai menggigil kedinginan!”

Ibu langsung mengisi air di panci dan memanaskannya, agar Fawaz bisa mandi malam itu dan tubuhnya kembali hangat. Itulah yang membuatku meneteskan airmata bila mengingatnya. Bagaimanapun juga seorang ibu selalu was-was melihat anak dan cucunya dalam kondisi basah kuyup serta kedinginan di malam hari. Padahal kami senang menikmati perjalanan yang menantang itu.

Meski libur lebaran hanya dua sampai tiga hari, setelahnya kami harus kembali ke Denpasar, namun sensasinya luar biasa. Kami bisa berjumpa dengan orang tua, kerabat, saudara atau bahkan teman. Kami bisa bersilaturahmi dengan mereka. Maklumlah Fawaz sekolah di sekolah negeri, sementara mayoritas masayarakat Bali beragama Hindu, dan suamipun hanya mendapatkan cuti beberapa hari saja, jadilah mudik lebaran yang singkat sangat berkesan bagi kami.

Begitu waktu libur kami habis, saatnya kami kembali ke Denpasar dengan naik motor. Biasanya setelah sholat dhuhur kami berangkat. Itu artinya shubuh keesokan harinya kami sudah sampai di penyeberangan. Namun mengingat membawa serta anak, kami melakukan perjalanan sesantai mungkin. Hampir tidak pernah kami nekat menerobos malam demi sampai di penyeberangan dini hari. Yang biasa kami lakukan hari ini berangkat esoknya baru sampai. Boleh dibilang perjalanan balik dari Blitar ke Bali selalu kami tempuh selama dua hari.

Biasanya saat sampai di Probolinggo pada jam 11 malam, kami menginap di rumah saudara yang tinggal disana. Namun kami lebih sering menginap di penginapan murah sekitar Probolinggo – Paiton supaya tidak merepotkan saudara.  Sebuah pengalaman menggelikan ketika kami ingin menginap di sebuah cottage yang terletak didekat PLTU Paiton. Saat itu kami dua kali terjebak hujan, hingga membuat tubuh kami terlihat kotor. Bahkan motor pun basah. Demi melihat kondisi kami, satpam penjaga cottage itu meragukan kemampuan kami untuk menginap disitu.

“Pak, Bu, mau nginap disini? Mahal lho harga sewanya!”

“Tidak apa-apa pak, kami mampu bayar”, begitu jawabku menyadari ucapan satpam.

Begitu palang pintu masuk cottage dibuka, dan kami disarankan menuju tempat parkir, disitulah seorang recepsionist menyambut kedatangan kami. Kami ditanya jenis kamar yang ingin kami pesan. Setelah melakukan pembayaran dan menyerahkan KTP maka kami diantarkan ke kamar sesuai pesanan.  Alangkah bahagianya malam itu, bisa rebahan menghilangkan penat selama perjalanan, meski keesokan harinya masih separo perjalanan yang harus kami tempuh hingga sampai Denpasar.

Atau kami pernah nekat melanjutkan perjalanan sampai Situbondo ketika waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Saat melewati PLTU Paiton yang panjang, sepi mulai bergelanyut. Yang kutakutkan adalah begal yang tiba-tiba menghadang. Namun syukur alhamdulillah perjalanan saat itu aman. Hanya suara ban truk yang meletus tiba-tiba yang membuat kami kaget. Lalu akupun membayangkan empuknya kasur yang membuat airmata tiba-tiba menetes. Beruntunglah malam itu Fawaz merengek tidak kuat udara malam. Akhirnya kami berhenti di Situbondo dan menginap di rumah teman.

Itulah pengalaman yang berkesan ketika mudik sambil touring, meski banyak pengalaman menggelikan yang membuatku selalu terkenang. Dan setiap mudik selalu menyisakan kenangan yang tak terlupa. Ingin rasanya selalu mudik disaat lebaran. Namun saat ini, ketika pandemi corona mewabah, dimana pemerintah mengeluarkan aturan larangan mudik demi memutus rantai penyebaran virus covid-19, aku hanya bisa mengenang mudik sambil touring di tahun-tahun sebelumnya.

Kadang ingin seperti mereka yang nekat mudik, ada yang sembunyi-sembunyi, sampai menyewa tronton demi mengangkut mobilnya. Sementara didalam mobil itu banyak penumpang. Namun, mengingat virus covid-19 ini merupakan virus yang tak terlihat tetapi sangat membahayakan, lebih baik aku mengurungkan niat untuk mudik.

Yang kupikirkan adalah keluarga, karena aku sayang mereka. Yang kutakutkan, kedatanganku dari Bali ke Blitar malah membawa virus bagi mereka, demikian sebaliknya. Saat ini penularan virus covid-19 karena transmisi lokal makin bertambah. Inilah yang membuat pemberlakuan PSBB di berbagai daerah agar penyebaran virus covid-19 bisa ditekan.

Dalam kondisi seperti ini, alhamdulillah kami sama-sama mengerti. Andai saat lebaran nanti, wabah corona ini belum berakhir, kami bisa melakukan video call untuk bermaaf-maafan baik kepada orang tua, saudara, kerabat maupun teman. Dengan tidak mudik pastinya akan menghambat penyebaran virus covid-19. Jika sayang saudara, sayang para medis yang saat ini berjuang di garda terdepan dalam menangani berbagai kasus ini, janganlah mudik! Tetaplah di rumah saja, lakukan hidup sehat dan taati anjuran pemerintah. Mari kita sama-sama berdoa semoga wabah ini segera berakhir, kita kembali hidup normal, dan perekonomian kembali membaik.

Iklan
0Shares

Tinggalkan Balasan