Lautan yang tenang tidak akan menghasilkan pelaut yang handal

Kata-kata motivasi ini layak kita ingat kembali dalam situasi saat ini. Situasi dimana kita semua menghadapi stresor yang sama yaitu Covid-19. Situasi yang tidak pernah kita sangka apalagi persiapkan. Situasi yang membuat kita semua, masuk dalam tuntutan-tuntutan beragam. Work From Home, School From Home, Pray From Home, Physical Distancing , dan juga Stay at Home yang seringkali menjadi tagar-tagar di media sosial. Situasi yang hingga saat ini, tidak pernah kita tau kapan berakhirnya…

Kenali dulu reaksi normal dan abnormal

Menghadapi situasi-situasi tersebut, sangatlah normal seseorang mengalami stres. Justru kita perlu jujur untuk kembali bertanya kepada diri kita jika kita merasa tidak stres dalam kondisi abnormal seperti ini. Di masa Pandemi Covid-19, stres diperlukan agar seseorang bisa tetap aktif dan waspada. Agar kita yang tadinya tidak memiliki persiapan apapun, menjadi tergerak untuk melakukan hal-hal yang menjadi himbauan pemerintah (memakai masker, mencuci tangan dll) serta berusaha tetap waspada dengan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin bisa terjadi.

Lalu seperti apa yang dikatakan abnormal? yaitu saat dorongan untuk aktif terlalu berlebihan (cth: panic buying membeli masker dan hand sanitizer) dan juga waspada berlebihan yang berujung pada kecemasan berlebih. Ingat ya.. kita belum tau sampai kapan si Covid akan pergi. Betapa lelahnya kita jika terus menerus berada dalam kondisi mental yang seperti itu. Dan perlu diketahui bahwasannya stres yang berkepanjangan dapat berujung pada kondisi distres emosional seperti kecemasan dan depresi (Nevid, 2018).

Pentingnya bahagia di situasi saat ini

Dalam bukunya The Happy Brain, Dean Burnett menggambarkan betapa bahagia itu cukup rumit untuk ditelisik sumbernya. Konsep bahagia menjadi sangat individual difference sehingga kita tidak perlu lagi memperdebatkan kenapa seseorang bisa mengatakan ia tidak bahagia, padahal ia memiliki kehidupan sosial ekonomi yang diimpikan orang lain. Faktanya, banyak sekali faktor yang dikaitkan dengan kemunculan konsep bahagia ini. Kandungan kimiawi di otak seperti neurotransmitter dopamin dan serotonin yang ketiadaannya sering dikaitkan dengan gangguan depresi serta kehadiran hormon endorfin untuk mempertahankan kebahagiaan, adalah salah satu dari sekian banyak faktor yang dapat mempengaruhi kehadiran bahagia.

Berbicara tentang bahagia di situasi saat ini, tentu saja kita perlu untuk tau pentingnya. Mengapa kita perlu untuk merasa lebih bahagia dalam situasi Pandemi ini? Karena kita membutuhkan fisik yang lebih kuat untuk bisa bertahan melawan ancaman Covid-19. Itu alasan utamanya. Penelitian membuktikan bahwa seseorang yang bahagia, memiliki kesehatan fisik yang lebih baik (George Mwinnyaa, dkk, 2018). Alasan lainnya adalah supaya rumah yang menjadi pusat aktivitas kita saat ini, terasa lebih nyaman dan membuat kita bisa tetap produktif. Itulah mengapa kita perlu untuk terus mengupayakan bahagia di tengah situasi Pandemi ini.

Upaya apa saja yang bisa kita lakukan untuk bahagia?

Mengingat konsep bahagia yang berbeda-beda pada masing-masing orang serta sumber pencetusnya yang beragam, beberapa cara berikut adalah sebagian cara yang bisa saya rangkum untuk menghadirkan bahagia:

Pertama, karena kimiawi otak adalah salah sumber kebahagiaan, maka kita perlu untuk menyetting ulang apa yang ada di otak kita jika merasa tidak bahagia. Keluarkan hal-hal negatif yang terlalu menumpuk diotak kita, isi dengan konten-konten yang positif. Mengubah sudut pandang kita ke arah yang positif, akan mendatangkan perasaan tenang. Sebagai contoh, ketika kita mulai berfikir bahwa Pandemi Covid-19 membuat waktu saya terbuang percuma (yang tentu saja akan membuat perasaan Anda tidak nyaman), bisa Anda rubah dengan dengan kondisi ini, saya jadi memiliki banyak waktu dengan keluarga saya yang tidak saya miliki sebelumnya.

Anda juga bisa mencoba melakukan Happiness Meditation (Schiraldi, 2016), dengan mengucapkan 4 kalimat berikut dengan lambat sembari mengatur nafas Anda: Bernafas dalam, saya menenangkan tubuh saya — Hembuskan nafas, saya tersenyum — Berada di situasi saat ini — Saya tau bahwa ini adalah pengalaman yang indah.

Kedua, berbagilah kekhawatiran serta beban yang berlebih pada anggota keluarga dirumah. Anda juga bisa menelpon sanak keluarga untuk mengobati rindu karena belum bisa berjumpa. Bertukar cerita dengan orang lain juga menjadi bentuk dukungan emosional dan jaringan sosial yang dapat membuat adalah merasa lebih baik.

Ketiga, kita perlu belajar dari anak-anak. Betapa mudahnya membuat mereka bahagia. Tersenyum dan tertawalah. Lakukan hal-hal yang menyenangkan hati Anda. Bahagia itu mampu dirasa sehingga Anda perlu aware dengan apa yang Anda rasakan. Lakukan hobi-hobi yang sempat Anda lupakan. Jika sangat lelah melakoni banyak tanggung jawab dirumah, rehat sejenak jika diperlukan akan membantu Anda untuk tidak terus-menerus tegang. Jangan menuntut diri Anda berlebih, belajarlah memaafkan diri Anda ketika sesuatu hal tidak berjalan semestinya atau tidak seperti biasanya. Karena memang kondisi saat ini luar biasa.

Keempat, kembalilah pada Sang Pemilik Hati. Berdoalah setiap saat agar terhindar dari rasa was-was. Kita tidak akan sampai pada kondisi ini jika bukan atas ijinNya. Kondisi Pray From Home dapat kita jadikan momentum untuk meningkatkan keimanan kita bersama-sama keluarga. Seperti kalimat motivasi yang saya kutip diatas, mudah-mudahan kita semua dapat mengilhami bahwa Pandemi Covid-19 ini adalah cara Tuhan untuk membuat kita lebih kuat mengarungi tantangan-tantangan hidup kedepannya.

Referensi:

  • Burnett, D. (2018). The Happy Brain. Jakarta: Penerbit Gemilang.
  • Mwinnyaa, G., et.al. (2018). The Association Between Happiness and Self-Rated Physical Health of African American Men: A Population-Based Cross-Sectional Study. Am J Mens Health, September, Vol. 12(5), 1615–1620.
  • Nevid, J.S., Rathus, S.A., Greene, B. (2018). Psikologi Abnormal: Di Dunia Yang Terus Berubah. Jakarta: Erlangga.
  • Schiraldi, G.R., (2016). The Post-Traumatic Stress Disorder Sourcebook. New York: Mc Graw Hill Education.

 

Iklan
0Shares

1 thought on “Mengupayakan Bahagia di tengah Pandemi

Tinggalkan Balasan