Part 3

tak perlu menjadi orang lain untuk menjadi seseorang yang menarik
cukup menjadi dirimu sendiri.
karena kamu akan terlihat cantik dan menarik
dimata orang yang mencintaimu


***

“Ayo Den, kita kumpulkan kembali sawo-sawo yang matang. Kali ini mas saja yang manjat pohonnya ya, sedangkan kamu yang mengumpulkan dibawah pohon” mas Abimanyu mengajakku untuk kembali ke pohon sawo

“astaghfirullah! Abi! Kamu apa gak capek. Pulang kerja langsung mau panjat pohon sawo”seru ibuku kaget mendengar ajakan Mas Abimanyu.

“Gak kok tante, alhamdulillah gak capek kok” jawab mas Abimanyu.

“kamu gak makan dulu ndok” tanya Mak darmi.

“enggak Bu, hari ini Abi sedang berpuasa” mas Abimanyu pun berlalu menuju pohon sawo yang baru setengah ku panen.

Aku hanya mengikuti dari belakang dan melihat punggungnya.

“Betapa beruntungnya aku bisa bersama dan memiliki Mas Abimanyu. Dia pintar, rajin dan sholeh” bisik batin ku sambil terus mengagumi dalam hatiku.

“Denny, kamu kumpulin ya yang mas petik” mas Abimanyu siap-siap mau manjat pohon sawo.

“Hati-hati mas! Sepertinya masih licin karena hujan semalam” ujarku mengkhawatirkannya.

Mas Abimanyu yang hendak bersiap untuk manjat, menatapku dan tersenyum.

“Terima kasih ya calon istriku”ujar mas Abimanyu lembut dan mengacak lembut rambutku.

Aku terkejut mendengarnya. Aku mematung beberapa saat karena keterkejutan perkataan Mas Abimanyu. Apa aku salah dengar ya. Aku berusaha mencerna.

“Denny, nanti kasih njolokannya ya. Biar mas bisa mengambil dan memberikan kepada kamu”mas Abimanyu pun memanjat.

Aku masih mematung dengan memegang njolokan. Apa aku sedang berhalusinasi.

“Denny…mana njolok nya..”panggil Mas Abimanyu yang sudah berada diatas pohon.

“Eh, iya mas. Ini njolok nya “ akupun memberikan kepada Mas Abi. Dengan tangkasnya dia mengambil buah sawo yang telah matang.

Sedangkan aku sibuk mengumpulkan ke keranjang. Pasukan kecil yang tadi bersamaku sudah tidak kelihatan batang hidungnya.

“Huft, dasar bocah, udah dapat keinginannya. Aku malah ditinggalkan”gerutuku dalam hati.

Setelah selesai memanen sawo, mas Abimanyu turun. Aku masih sibuk mengumpulkan. Mas Abimanyu jongkok disebelahku dan ikut membantuku mengumpulkan sawo. Aku sedikit kaget dan merasa grogi. Aku rasa, mukaku sudah seperti kepiting rebus berdekatan dengan mas Abimanyu.

Aku hendak mengangkat keranjang, tapi segera direbut oleh mas Abimanyu. Katanya perempuan tidak boleh angkat yang berat-berat. Aku merona kembali dengan omongnya. Mas Abimanyu telah berjalan lebih dahulu. Aku segera mengejarnya sambil menbawa njolok.

Ibu dan Mak Darmi masih mengobrol diteras saat kami datang.

“Lihatlah mereka, sepertinya mereka cocok ya. Bagaimana kalau kita jodohkan mereka Bu”ujar Mak Darmi kepada ibu.

Membuatku yang baru datang bersama mas Abimanyu menjadi salah tingkah. Padahal dalam hatiku senang banget kalau aku berjodoh dengan mas Abimanyu.

“Duh, Mak Darmi ini. Apa Abimanyu mau punya calon istri seperti Denny? Tidak menarik sama sekali sebagai cewek. tidak pernah pakai rok, tidak pernah dandan, hobbynya manjat pohon dan main sepeda sama anak-anak kecil. Saya aja kalau sebagai Abimanyu mungkin mencari perempuan yang pantas”ujar ibu kepada Mak Darmi.

Mak Darmi hanya terkekeh mendengar perkataan ibu.

Aku hanya menunduk dan sedikit kesal kenapa punya ibu yang tidak pernah memuji putrinya bahkan menjatuhkan putrinya didepan orang lain apalagi orang itu adalah Mak Darmi dan Mas Abimanyu. Walaupun apa yang dibilang ibu benar apa adanya.

Aku melirik mas Abimanyu yang duduk disebelahku sambil tersenyum mendengar perkataan ibuku. Kenapa aku tidak seperti Sarah teman kuliahku yang cantik dan anggun. Atau Siti tetangga depan rumah kami yang ayu. Kandas sudah harapanku berjodoh dengan mas Abimanyu. Aku kembali menunduk.

“Denny wanita yang menarik kok tante” ujar mas Abimanyu yang membuat bibirku kembali melengkung.

“Menarik apanya Den, kamu jangan suka muji-muji Denny. Nanti tambah besar kepala dia. Dan tidak mau berubah sama sekali”cerocos Ibu kembali.

Dan itu berhasil menghilangkan senyumku yang tadi merekah. Ibu benar banget. Mas Abimanyu patut mendapatkan perempuan yang pantas.

“Denny masih belum menyadarinya saja, kalau dia wanita yang menarik. Nanti sejalannya waktu, Denny akan menjadi pribadi yang menarik” jelas Mas Abimanyu.

“Bahkan Abi berencana mengajak Denny untuk kepelaminan tiga bulan lagi setelah abi pulang dari Pendidikan kejuruan. Itupun kalau Denny bersedia, tante” tutur Abimanyu terus terang.

Aku kaget dan menoleh kepadanya. Ternyata tadi aku tidak salah dengar. Aku menatap mas Abimanyu dengan intens. Mungkin karena sadar dilihati, mas Abimanyu menoleh kearahku dan tersenyum.

“Nah, si Abi udah ngomong sendiri lho Bu. Bagaimana Bu?”tanya Mak Darmi

“Saya mah terserah anak saja Mak”jawab ibu

“Denny, kamu diajak ke pelaminan sama Abimanyu. Mau gak?” ibu menatapku.

Aku menoleh kearah ibu dan kembali menatap mas Abimanyu yang masih menatapku. Aku menunduk menahan malu dan mengangguk.

Dan mukaku kembali merona karena lamaran yang tidak dikategorikan romantis tapi mampu membuat hatiku berbunga-bunga.(End)

0Shares

Tinggalkan Balasan