oleh Sukma

“Denny, wanita yang menarik kok tante”sahut seorang laki-laki yang ternyata anak Mak Darmi yang baru pulang kerja, Mas Abimanyu.

“Duh, nak Abi! Jangan dibela terus Denny!” sahut ibu

“Sedari kecil kamu terus yang membela Denny, akhirnya jadi besar kepala nih anak! Mak Darmi juga!” ujar ibu yang sudah duduk di bangku teras.

Mas Abimanyu hanya tersenyum mendengar penuturan ibu lalu menyium tangan Mak Darmi dan permisi masuk kerumah. Mak Darmi tersenyum dan duduk dikursi sebelah ibu. Akupun turut ikut disamping Mak Darmi.

Sejujurnya aku telah lama naksir Mas Abimanyu sejak aku SMP. Saat itu mas Abimanyu kelas 1 SMA dan aku kelas 3 SMP. Ya, kami hanya beda 1 tahun. Saat itu aku pulang sekolah bersama teman-temanku, aku melihat mas Abimanyu mengangkat bakul Mak Darmi tanpa rasa malu masih menggunakan seragam SMUnya. begitu terpesonanya aku saat mas Abimanyu membantu ibunya. Seolah-olah tubuhnya bersinar dibawah matahari Sore.

Mas Abimanyu sejak SD selalu juara umum dan masuk sekolah favorit. Saat bersekolah, untuk bayaran uang sekolah, mas Abimanyu selalu mengandalkan Beasiswa prestasinya. Mak Darmi yang telah ditinggalkan suaminya yang seorang Tentara karena hilang dalam tugas di Aceh, sewaktu Mas Abimanyu umur 5 Tahun.

Sejak saat itu, Mak Darmi membesarkan Mas Abimanyu sendiri. Mak Darmi tidak bisa mengandalkan pensiun janda prajurit. Oleh karena itu, Mak Darmipun berusaha dengan berjualan pecel keliling kampung.

Selain enak, pecel Mak Darmi sangat enak dan bersih. Warga kampung selalu menunggu kedatangan pecel Mak Darmi. Pernah suatu kali Mak Darmi tidak berjualan karena sakit demam.

Pelanggan Mak Darmi yang juga tetangga datang kerumah Mak Darmi untuk menjenguk dan itu membuat janda tantara itu menangis terharu.

Setiap Jumat awal bulan, Mak Darmi selalu menggratiskan pecelnya. Aku pernah menanyakan kenapa Mak Darmi menggratiskan pecelnya padahal mak Darmi sangat butuh uang hasil penjualan. Mak Darmi menjawab bahwa dia ingin sedikit bersedekah walau dengan memberikan pecel gratis. Memang sungguh mulai dan baiknya hati dari mbok Darmi.

Dan Allahpun membalas semua perbuatan baik Mak Darmi dengan kelulusan Mas Abimanyu sebagai Perwira Tentara. Sedangkan aku masih memendam rasa sukaku kepada mas Abimanyu sampai sekarang. Aku tak berani mengutarakannya. Kedekatan aku dan dia itu juga merupakan anugerah bagiku, walaupun mas Abimanyu hanya menganggapku sebagai adiknya karena kami sama-sama anak tunggal.

Mas Abimanyu keluar kembali dengan menggunakan pakaian santainya.

“Ayo Den, kita kumpulkan kembali sawo-sawo yang matang. Kali ini mas saja yang manjat pohonnya ya, sedangkan kamu yang mengumpulkan dibawah pohon” mas Abimanyu mengajakku untuk kembali ke pohon sawo

“astaghfirullah! Abi! Kamu apa gak capek. Pulang kerja langsung mau panjat pohon sawo”seru ibuku kaget mendengar ajakan Mas Abimanyu.

“Gak kok tante, alhamdulillah gak capek kok” jawab mas Abimanyu

“kamu gak makan dulu ndok” tanya Mak darmi

“enggak Bu, hari ini Abi sedang berpuasa” mas Abimanyu pun berlalu menuju pohon sawo yang baru setengah ku panen

Aku hanya mengikuti dari belakang dan melihat punggungnya.

“Betapa beruntungnya aku bisa bersama dan memiliki Mas Abimanyu. Dia pintar, rajin dan sholeh” bisik batin ku sambil terus mengagumi dalam hatiku.

(bersambung)

0Shares
Categories WCR

Tinggalkan Balasan