TIPS and TRICK

Menjaga Keutuhan Rumah Tangga dengan 11 Jurus

Menjaga Keutuhan Rumah Tangga dengan 11 Jurus merupakan tulisan jawaban dari sebuah challenge bertema “Menjaga keutuhan Pernikahan” yang diadakan oleh salah satu sahabat Dewi, bernama Emmy Herlina.

Beliau adalah seorang wanita karir dengan segudang karya dan juga sebagai manager area Sumatera pada penerbit indie Rumedia.

Tema yang diangkat tersebut dalam rangka anniversarry pernikahan yang ke-11. Masya Allah, selamat ya mbak Emmy, semoga rumah tangganya selalu harmonis, Sakinah, Mawadah dan Warohmah, Amiiiiin….

Apalah Dewi yang masih seumur jagung menguraikan tips tentang keutuhan Pernikahan. Namun, jangan salah. Melewati lima tahun pertama dalam rumah tangga adalah masa penentu untuk membina hubungan kita selanjutnya.

Sebelum kita membahas 11 jurus untuk menjaga keutuhan rumah tangga, yuk kita pahami dahulu. Sebenarnya ada apa sih dengan lima tahun pertama dalam pernikahan?

Lima tahun pernikahan pertama

Sejak seorang wanita dan pria memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan, mereka harus membagi perannya terdahulu. Mereka memegang peran baru yaitu pasutri (pasangan suami istri).

Peran baru sebagai pasutri bukan hanya sekadar menemukan jodoh dan memenuhi kebutuhan biologis. Namun, mereka mulai menghadapi banyak penyesuaian baik dalam pasangan itu sendiri dan juga keluarga pasangan.

Ketidaksesuaian kebiasaan, keras kepala, bahkan tidak saling menghargai dan menghormati pasangan dan juga keluarga besarnya, cukup riskan dalam menjaga keutuhan pernikahan.

Pasutri tentu memiliki harapan-harapan baru seperti memiliki buah hati dalam keseharian mereka. Sesekali mereka bisa merasa berdebar dengan keberadaan calon buah hati mereka, yang bisa hadir tanpa diduga.

Adanya buah hati tentu membuat aktivitas baru bagi pasutri. Tak jarang rutinitas merajai dan membuat keduanya lupa pentingnya menjaga hubungan pernikahan mereka. Keadaan ini membuka peluang besar terjadinya perceraian.

Menurut Dr.Lawrence A.Kurdek (Psikolog Wright State University di Ohio) yang dilansir pada laman id.theasianparent, ia menjelaskan keinginan perceraian pada tahun pernikahan ini disebabkan beberapa hal.

Dua hal yang paling umum biasanya adalah penurunan fase “bulan madu” dan kehadiran anak-anak, sehingga beberapa pasangan lebih memprioritaskan kebutuhan mereka dari pada hubungan pernikahan.

Dilansir dari laman orami.co.id yakni psikolog Liza Djaprie juga membenarkan. Bahwa selama lima tahun pertama pernikahan adalah periode sulit dalam hubungan pernikahan. Hal ini bisa disebabkan karena dari pihak suami / istri yang mencoba menghindari konflik.

“Walaupun memang tidak semua pasangan akan tampak kesulitan, ini karena banyak individu dengan tipikal avoidance conflict. Mereka merasa ada kesulitan, tapi karena menghindari dan menekan konflik, mengakibatkan dari luar tampak harmonis, padahal sebenarnya bermasalah,” jelas Liza.

Tentu keadaan ini tidak diinginkan oleh semua pasutri yang tetap menginginkan keluarganya harmonis bukan?

Ayuk kita segera tengok “menjaga keutuhan rumah tangga dengan 11 jurus.” Beberapa jurus yang terangkum dari pengalaman pribadi dan juga dari beberapa pengalaman teman-teman sejawat yang telah melalui lima tahun pernikahannya.

Menjaga keutuhan rumah tangga dengan 11 jurus:

1. Menyadari bahwa setiap pernikahan itu tidak ada yang sempurna

Kita berasal dari keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda. Tak dipungkiri pula dengan ‘masalah’ yang berbeda. Tidak ada manusia yang sempurna, maka bisa dipastikan pula tidak ada pernikahan yang sempurna.

Akan lebih baik jika kita membangun pernikahan kita dengan saling menutupi kekurangan satu sama lain. Kita mungkin tidak bisa menjadi pasangan yang sempurna, tapi kita bisa menjadi pasangan yang kompak. Tentu kompak dalam kebaikan ya:)

2. Menjaga komunikasi dengan pasangan

Sebuah kata yang sering kita dengar. “Komunikasi”. Namun, bagaimana cara menjaganya? Apalagi ada juga pasangan yang biasanya sangat fleksibel, tidak rapi, tidak mampu mengungkapkan rasa, dan sebagainya.

Menjaga komunikasi disini adalah dengan memahami cara berkomunikasi pasangan dan juga cara berkomunikasi diri kita. Jangan sampai kita merasa cara komunikasi kita jauh lebih baik dari pasangan.

Terkadang kita perlu juga bercermin dengan mencoba cara berkomunikasi pasangan kita, untuk memahami lebih dalam, apa sih yang dibutuhkan bagi kalian berdua.

3. Menyiapkan ruang privasi untuk pasangan.

Kita sudah mandiri. Kita sudah besar. Namun, tak jarang, saat kita menikah, mendadak kita memiliki ketergantungan luar biasa dengan pasangan. Semacam manis-manis manja, hihihi….

Kita boleh gelayutan ke pasangan, tapi sebisa mungkin berikan waktu pada pasangan untuk memiliki waktu sendiri. Kadang dengan kesendirian akan menghasilkan intropeksi yang lebih banyak, rasa kangen yang membuncah, bahkan kepuasan akan menghabiskan waktu me-time mereka.

Jangan lupa, pastikan dahulu ruang privasi tersebut memang untuk dirinya, bukan untuk orang ketiga dalam rumah tangga ya. Hihihi…

4. Berkata Jujur pada setiap permasalahan

Menikah itu ibarat kita sedang menaiki kapal dan melaju bersama. Seandainya kapal itu ada yang pecah disalah satu sisi, kita perlu mengkomunikasikannya.

Sebuah kejujuran dalam rumah tangga akan membangun kepercayaan pada kedua pasangan. Dewi pun berprinsip dengan suami, jika kita memiliki kesalahan atau permasalahan, lebih baik mengutarakan secepatnya pada pasangan. Tentu pasangan akan tidak nyaman, jika permasalahan itu justru diketahuinya dari orang lain, bukan?

5. Menghindari sikap dan ucapan menuduh

Saat kita berada dalam kegelisahan, saat itu seringkali kita menghalalkan cara untuk bersikap bahkan berucap ‘menuduh’ pada pasangan. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri kita sendiri.

Posisikan diri kita sebagai pasangan, lalu ajukan pertanyaan yang muncul pada diri sendiri. Apakah pertanyaan itu terasa menyudutkan?

Selalu kroscek secara matang sebelum kita menentukan sikap dan ucapan pada pasangan. Hal ini akan meurunkan pula kegelisahan yang berasal dari dalam diri.

Pelajari juga, apakah kegelisahan itu benar-benar dari diri, atau hanya sekadar dari tontonan yang masuk ke dalam memori kita, atau berasal dari ghibah orang lain. Ya, lingkungan sangat berpengaruh loh, baik kita sadari atau tidak.

6. Mengucapkan “Terima kasih”

Jangan pernah malu mengucapkan “terima kasih.”

Kata ini adalah kata mujarab yang bisa membuat orang lain merasa dihargai. Sebuah bentuk apresiasi bagi pasangan kita. Mengucapkan ‘terima kasih’ juga perlu keahlian loh.

Intonasi suara dan juga ketulusan harus melekat di kata ini. Hindari mengucap kata mujarab ini dengan memberi buntut bahwa kau bisa mampu melakukannya sendiri. Hal ini berpeluang akan menghentikan perbuatan baik pasangan.

Misalnya: “Terima kasih, aku bisa jemur kok” (saat pasangan membantu menjemur). Siap-siap kalau dia mundur teratur. Kalau kita sendiri sebenarnya masih pingin dibantu ntar malah dongkol.

Ih, kok bantunya berenti sih! ” ucapmu dalam hati.

Padahal kita sendiri yang menghentikan langkahnya tadi.

7. Mengucapkan kata “Maaf”

Saat kita berbuat kesalahan, wajar mengucapkan kata “maaf”. Tapi nyatanya, tidak semua mampu mengucapkan kata mujarab ini saat gengsi lebih diutamakan.

8. Memuji pasangan di hadapan anak atau keluarga

“Makasih ya dek, sudah buatkan masakan enak,” ucap pasangan saat berada di rumah mertua. Cieee…. semacam memberi rona pipi dan energi baru deh!

Begitulah rasanya saat kita dipuji di depan orang lain. Menjadi lebih dan lebih. Dewi ingat sekali saat memuji suami di depan anak-anak. Terliha senyum mengembang walau itu tipis di raut wajahnya. Rasa itu membuat pasangan kita senang dan tentu membuat ia menyayangi kita lebih dari sebelumnya.

Memuji pasangan itu sangat penting untuk membina hubungan lebih harmonis. Dengan memuji kita menjadi lebih peka pada apa kebaikan yang dilakukan pasangan. Selain itu juga menguatkan sikap baik pasangan, sehingga sikap positif itu pun bisa kembali diulang.

9. Memberikan perhatian orang-orang terdekatnya, khususnya keluarga

Pernah dengar istilah: dekati sahabatnya, jauhi musuhnya?

Begitu yang seharusnya kita lakukan untuk membina hubungan baik dengan pasangan. Adakalanya kita menemukan hal mengganjal pada lingkungan sosialnya. Pastikan kita tidak langsung melarang pasangan untuk berbaur dengan lingkungannya.

Terkadang ada sebuah celah yang tidak kita pahami, sebelum kita mengkomunikasikan dengan pasangan. Pastikan kita bertanya atau mencari tahu sebaik-baiknya pada pasangan tanpa menghakimi atau menyudutkannya.

Saat sahabat dekat keluarganya, tentu kita akan menjadi spesial di matanya. Sebuah kedekatan yang jarang diberikan pada orang lain adalah saat kita mampu mrmbaur dengan keluarganya.

Pastikan pasangan kita pun selaras dengan keluarganya.

10. Menjalani Me-time

Tidak hanya memberi kesempatan me-time pada pasangan. Namun, kita sendiri juga harus menjalani me-time. Kegiatan ini cukup bisa merelaksasikan pikiran.

Baca juga: Me-Time, siapa mau?

Selain itu, dari me time, seringkali kita menemukan wacana-wacana baru yang memungkinkan kita memandang pasangan kita sebagai partner yang juga membutuhkan me-time.

11. Mengikhlaskan

Ada saatnya kita harus mengikhlaskan bahwa pasangan kita tidak pandai menerapkan kesepuluh hal di atas. Tidak perlu menuntut pasangan, kita pun sebenarnya juga bisa khilaf, bukan?

Cara yang paling tepat adalah memberikan sikap tauladan pada pasangan. Sebuah perilaku seringkali lebih efektif dipelajari dengan cara memberikan contoh dari pada berupa ucapan yang tampak bagai menggurui.

Baca kisah salah satu pasangan yuk: Secangkir teh untuk paksu oleh Ade Tauhid

Nah sahabat, 11 jurus sudah diuraikan, kalian sudah melakukan yang mana?

– Dewi Adikara

Perlu diingat bahwa setiap usia pernikahan memiliki tantangan yang berbeda. Pernikahan saat anak sudah di masa puber, pasti berbeda dengan pernikahan yang anaknya berada pada masa berkarir.

Jangan lupa disesuaikan dengan kondisi teman-teman ya. Goal-nya adalah membuat hubungan pernikahan menjadi lebih harmonis, dan membangun kepercayaan pada pasangan.

Baca juga: Pilar-pilar dalam Perkawinan

Semoga pernikahan kita selalu Sakinah, Mawadah dan Warohmah ya sahabat!

Salam hangat,

Dewi Adikara.

Referensi:

Widia Putri, Fadhila Auliya. 2020. Usia 4-7 tahun rawan perceraian, ini 4 cara menghindarinya. https://id.theasianparent.com/usia-pernikahan diakses pada 21 desember 2020.

Puteri, Amelia. 2019. Benarkah 5 Tahun Pertama Pernikahan adalah Masa Tersulit? https://www.orami.co.id/magazine/benarkah-5-tahun-pertama-pernikahan-adalah-masa-tersulit/ diakses pada 22 desember 2020.

One thought on “Menjaga Keutuhan Rumah Tangga dengan 11 Jurus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *