Oleh Ratih Paskie

Menunda respon adalah memberi jeda pada pikiran kita untuk memikirkan langkah apa yang sebaiknya kita ambil atas sebuah kejadian. Kebanyakan dari kita tidak terlalu ahli dalam menunda respon. Terlalu meledak-ledak dan cepat mengambil sikap yang ujung-ujungnya malah akan merugikan diri sendiri bahkan orang lain.

Misalnya saat kita merasa disakiti oleh tulisan seseorang dan cepat merespon dengan membalas lebih frontal bahkan tak kalah menyakitkan, tentu nantinya akan ada penyesalan. Bandingkan jika kita menunda respon sejenak, beri jeda hati untuk tenang, dan otak berfikir logis, tentu outputnya akan baik dan tidak makin memperunyam situasi.

Menunda respon terbukti banyak keuntungannya. Salah satunya silaturahmi yang tetap terjaga. Cepat merespon dan respon yang diberikan itu tidak baik, meledak-ledak dan penuh emosi, bisa jadi membuat kita dijauhi. Orang jadi malas di dekat kita dan tidak mau berurusan dengan kita.

Ujung-ujungnya kita sendiri yang rugi, ye kan? Hilang kawan, hilang saudara. Aaahhh menghilang sajalah, huhuhu.

So, mari belajar menunda respon. Sebelum merespon, biasakan menghitung dalam hati. Hitung saja terus, sampai tenang, sampai emosi mereda.
Gampang? Oohh tentu tidak, Esmeralda! Butuh latihan. Tenaaangg, tidak butuh berkali-kali disakiti sih untuk bisa menunda respon hahhaah. Karena nantinya kita terbiasa dan tidak gampang emosian, tidak mudah merasa tersakiti dan yang jelas tidak lagi ‘playing victim’.

Lagipula, dengan menunda respon, sejenak, kita bisa berpikir jernih dan dan lebih memahami maksud yang disampaikan lawan bicara, mana tahu yang bersangkutan tidak bermaksud menyinggung, bahkan, bisa jadi dia tidak menyadari kalau yang disampaikannya itu menyakiti hati kita.

Jadi, dari pada semakin runyam dikarenakan terlalu cepat bereaksi memberi respon, lebih baik kita belajar menunda respon. Right?

Salam Sehat Lahir Batin!

0Shares

Tinggalkan Balasan