Terhitung dua bulan kami, terutama anak-anak diam di rumah aja. Nggak kemana-mana, bahkan main di sekitar lingkungan rumah pun tidak. Main sebatas pagar alias di teras depan dan samping saja. Mainnya pun sama saudara-saudaranya saja, bukan bersama teman seperti biasanya.

Hingga beberapa waktu yang lalu si Dedek masih anteng aja di suruh stay at home. Ada sih beberapa kali dia merengek ingin ikut si Ayah pergi atau merayu si Ayah untuk sekedar ke Atamat, namun masih bisa dibujuk dan tetap di rumah aja.

Begitupun saat Mimi (neneknya) menelpon, dia bilang “Mimi kenapa nggak pulang-pulang? Fiya rindu”, Lalu Miminya menjelaskan “Mimi belum bisa pulang, sekarang lagi ada corona, nggak bisa kemana-mana. Rindunya disimpan dulu ya”. Sedih sekali mendengarnya. Tapi sepertinya si Dedek sudah paham. Bahkan lain waktu ketika Miminya nelpon dia mewanti-wanti “Mimi, jangan kemana-mana ya. Di rumah aja. Sekarang lagi ada corona”.

Si Dedek nampak paham dan manut dengan himbauan untuk tidak kemana-mana itu. Dan dengan gaya bahasanya, dia menyampaikan ke orang-orang juga untuk stay at home, diam di rumah saja.

Namun, kemarin si Umi dihadapkan dengan pertanyaan si Dedek Fiya “Umi kenapa sih kita aja yang nggak boleh keluar? Itu orang-orang pada keluar?” rengeknya sambil menunjuk jalanan depan rumah yang pas banget lagi ada motor lalu lalang.

Hmm, jawaban si Umi harus bisa diterima, jangan asal jawab yang mungkin akan membuatnya makin bertanya-tanya mengapa dia harus diam di rumah sedangkan orang-orang bebas berkeliaran. “Bisa jadi itu kurir, Dek. Atau yang memang harus keluar untuk mencari rejeki. Seperti Ayah juga kan, ada masanya harus keluar sebentar untuk ngurusin orderan cetak.”

“Iyaa, jd tetap boleh kan keluar-keluar?” tanya si Dedek lagi.

“Ya nggak boleh dek kalau nggak ada kepentingan, kalau cuma jalan-jalan apalagi makan-makan di luar, nggak boleh. Adek ngapain mau keluar?” Tanya si Umi penasaran.

“Adek ini ada kepentingan jugak, Umi” jawabnya serius dan sempat bikin kening berkenyit heran.

“Emang adek ada kepentingan apa?” Si Umi bertanya lagi.

“Adek nih ada kepentigan mau beli es krim. Boleh ya mii?? Yaaa??” Bujuknya.

“Owalah dek, dek.. penting banget es krim itu yaa?” Si Umi bertanya sambil menahan senyum.

“Iya, soalnya es krim adek sudah abis, kalo adek pengen es krim gimana? Hayo?” Ini bocah empat tahun koq pinter banget siihh. Gemeeezzz.

“Dek, beli es krimnya kita tunda dulu ya, kan selama masih ada corona kita disarankan minum yang hangat, hindari minuman dingin seperti es krim. Dijaga biar adek nggak sakit pilek, nggak batuk.” Bujuk si Umi.

“Tapi adek kepengen..” lanjutnya sedih.

“Coba adek ini inget-inget lagi, selain es krim, ada nggak yang lain yang adek pengen? Nanti beli yang lain itu aja, gimana?” Si Umi masih berusaha membujuk

“hmmm.. apa yaa? Tapi adek lagi pengen es krim aja.” Jawabnya sambil mikir, mengingat-ingat keinginan dia yang lain.

“Ya udah, selagi adek mikir, umi mau masak dulu ya.” Kata si Umi sambil berharap si dedek lupa akan satu keinginannya yang lain itu adalah beli boneka belinda. Hihihi. Bahaya kalo inget, bakal ada drama bersambung nanti. 😅

Yaa, semoga musibah ini segera berlalu ya, Dek. Jadi adek bisa jajan ke atamat lagi. Bisa sesekali ikut ayah dan umi kerja lagi. Bisa ke rumah temen-temen adek lagi. Rindu suasana normal ya, Dek. Sama, si Umi juga rindu.

Tapi, memang saat ini kita semua harus menahan diri untuk tetap di rumah, apalagi jika tidak ada kepentingan yang urgent seperti mencari nafkah atau tenaga medis. Usahakanlah untuk tetap di rumah.

Miris sih memang, melihat kenyataan di lapangan masih banyak yang mengabaikan bahaya penyebaran ini. Tak sedikit foto beredar yang memperlihatkan kondisi pasar yang rame menjelang lebaran ini atau yang menggambarkan betapa ramainya orang yang mudik. Sungguh itu membuat si Umi bergidik.

Tahanlah rindu. Kami pun merindu. Tapi rindu kami, kami untai dalam rangkaian doa. Yang selalu terpanjat untuk yang jauh di mata. Sabarlah. Nanti jika semua mereda, kita pun bisa berjumpa pula. Biidznillah.

Iklan
0Shares

1 thought on “Mereka Koq Boleh Keluar, Umi?

Tinggalkan Balasan