Mereka yang Tak Kasat Mata: Aku Ingin Kembali! (2)

Halo, namaku Rama. Usia 12 tahun. Aku dua bersaudara, Kak Dana namanya. Dia kakak yang hebat, sejak kecil sudah sering juara kelas. Kalau ikut lomba pun, pasti juara.

Teruus … Kak Dana itu murid kesayangan di sekolah. Juga anak kebanggaan Papa. Kalau aku … aku pasti bisa seperti Kakak!

—–

Aku senang sekali hari ini. Akhirnya, ada lomba yang bisa kumenangkan. Papa pasti senang. Karena aku juara 1, seperti Kak Dana!

Aku jadi nggak sabar nunjukin pialaku.

Terdengar deru mobil diluar. Rama yang hapal betul suara itu, segera berlari menuju pintu.

“Pa! Lihat, aku juara 1 lomba melukis,” kutunjukkan lukisan dan piala hasil lomba.

“Rama, Papa kan sudah bilang, kamu jangan ngelakuin hal yang sia-sia. Terutama gambar-gambar itu. Percuma! Di dunia kerja, itu nggak ada nilainya,” ucap Papa tanpa melirik sedikitpun.

Papa berlalu begitu saja, meninggalkan Rama yang terdiam. Bagi Rama yang masih kecil, meski tak mengerti maksud ucapan Papanya. Itu terasa seperti palu yang menghancurkan mimpi dan harapannya.

Mama yang mendengarnya, hanya bisa menyemangati putra sulungnya itu.

“Rama sayang … Papa kan baru pulang kerja, mungkin Papa masih capek, butuh istirahat …. “

“Nggak. Ini belum ada apa-apanya. Rama bakal coba ikut lomba yang lainnya. Rama juga akan serius belajar, biar rangking 1 terus kayak Kak Dana,” tekadnya.

Rama berlari menuju kamarnya, meninggalkan Mama. Sementara Dana, yang menyaksikan semuanya, hanya bisa menggertakkan gigi. Ada api yang tersulut di dadanya.

—–

Purnama datang silih berganti, tak terasa tiga tahun sudah, Rama mencoba menjadi seperti Dana. Tapi, tak sedikitpun Papa melihat usahanya.

Bukan ungkapan bangga atau sekadar dukungan. Hanya amarah yang selalu tertuang. Seolah, Rama bukan anak kandungnya.

Hingga suatu hari ….

“Pa … kan Papa udah janji minggu kemaren, kalau mau ambil rapor Rama …. ” rengek Rama sambil bergelayut di lengan kiri Papanya.

“Haduuh … nggak bisa, hari ini Papa ada meeting sama klien penting. Biar Mamamu aja yang ngambil, toh biasanya juga sama Mama …. “

“Tapi kan, Papa udah janji sama Rama!”

Papa yang sedang diburu waktu, memilih mengacuhkan Rama dan segera berangkat ke tempat meeting.

Rasa kecewa pada Papanya, membuat Rama tak ingin masuk ke dalam sekolah. Ia lebih memilih menunggu di dekat gerbang.

Dihabiskannya waktu dengan menggambar halaman sekolah, dengan menggunakan ranting pohon dan beberapa daun yang sudah kering. Di temani Pak Agus dan Pak Edi, satpam sekolah yang sudah sangat hapal dengan kebiasaan Rama itu.

Hasil karya singkat Rama, mampu menarik perhatian beberapa orang tua murid yang melihatnya.

Rama yang tengah bermain dengan Pak Edi, melihat sosok Mama dan Dana yang tampak membicarakan sesuatu yang menarik. Tampak kedekatan yang hangat, sama seperti kedekatan antara Papa dan Dana yang selalu dilihatnya.

“Mama … ” Rama berlari, memeluk Mamanya. “Kak, jangan rebut Mama dong. Kakak kan udah ada Papa. Masak Mama juga mau direbut,” ujarnya tidak suka.

“Rama, Mama kan juga orang tuanya Kan Dana … ” ujar Mama memberi pengertian.

“Nggak! Pokoknya Mama itu cuma Mamanya Rama, bukan kak Dana!”

“Duh, apaan sih kamu Dek. Tumben ngalem banget sih,” diacak-acaknya rambut Rama.

Rama menepis tangan Dana, setelah melepaskan pelukan dari Mama. Karena hatinya yang tengah kacau, Rama memilih pergi meninggalkan Mama dan Dana. Ia berlari munuju jalan raya.

Dana yang tengah mengejar Rama, melihat sebuah mobil jeep hitam yang melaju kencang ke arah Rama. Instingnya sebagai seorang kakak mengatakan, kalau mobil tersebut hendak mencelakai adik satu-satunya itu.

Tepat sebelum Rama menyebrang, Dana berhasil menarik lengan Rama. Di dorongnya Rama ke arah tepi jalan, sesaat sebelum tubuhnya oleng dan terjatuh.

BRAAK!!

Suasana sekolah yang tadinya tampak bahagia, karena pembagian rapor. Mendadak riuh, akibat kecelakaan yang terjadi. Orang tua wali murid sibuk panik dengan sendirinya, sementara siswa-siswi sibuk mengabadikan momen.

Pak Edi dan Pak Agus langsung sigap mengamankan lokasi kejadian. Sementara Pak Edi menghubungi medis sekolah, untuk melakukan tindaan pertolongan pertama. Ia segera menghubungi rumah sakit terdekat, untuk tindakan lanjutan. Pak Agus dengan wajahnya yang sangar, kata siswa-siswi, segera melihat keadaan mobil yang menabrak. Antisipasi jika pelaku tabrakan melarikan diri.

Pintu di belakang pengemudi tiba-tiba terbuka, lelaki tua itu tampak shock berat, atas akibat yang dia lakukan.

“Dana …. ”

Jombang, 20 Oktober 2020

Salam hangat 💕

0Shares

Tinggalkan Balasan