Mereka yang Tak Kasat Mata: Aku Ingin Kembali! (3)

Rama duduk terdiam di atas tampat tidur yang ada di ruang IGD, tak jauh dari sekolah. Ia membiarkan luka baretnya dibersihkan dan diobati suster, pun tak mengeluh sedikitpun karena rasa perih. Matanya menerawang, kosong.

“Nah, sudah selesai Adek,” ujar perawat.

“Terima kasih …. “

Rama berjalan keluar, menuju Mama dan Papanya yang tengah menunggui kakaknya.

“Rama, kamu nggak apa-apa sayang?” tanyanya sambil memeluk Rama. Ia bersyukur, Rama tak terluka parah, hanya baret di tangannya. Sementara Dana, ia kini masih dalam penanganan medis. Luka akibat tertabrak dan benturan dengan aspal, cukup serius. Nak, semoga operasimu berjalan lancar ….

“Pa ….”

Papa hanya diam, tak menjawab panggilan Rama. Ia melihat keadaan sekitar, perawat lalu lalang untuk mengecek kondisi pasien, pun juga beberapa keluarga pasien.

“Sini kamu. Kita pulang sekarang,” ditariknya lengan Rama dengan kasar.

Mama hanya bisa mengikuti dari belakang. Karena, jika dicegah atau sampai salah ucap, bukan ia yang jadi sasaran amarahnya. Melainkan Rama. Ia hapal betul, bagaimana sifat suaminya itu.

Langit telah berubah warnanya, saat Papa menyuruh Mama untuk duduk di sebelahnya dan Rama di belakang. Pak Pon, supir sekaligus asisten pribadinya, sudah dimintanya untuk kembali ke kantor.

“Jangan ada yang bicara,” ucap Papa menekankan nada bicaranya. Ada gemuruh amarah yang tertahan.

“Pa … aku juga terluka, sakit. Kenapa cuma perhatiin Kakak aja,” tanya Rama memecah keheningan.

“Sudah dibilangin, jangan bicara saat Papa mengemudi!”

“Nggak! Aku akan terus bicara, sampai Papa
dengerin Rama,” bantah Rama. “Pa, aku juga anak Papa, tapi kenapa nggak pernah merhatiin Rama?

Karena Rama anak yang nakal? Rama nggak pinter kayak Kak Dana? Nggak membanggakan buat Papa?

Rama udah nurutin sama Papa, Rama salah. Rama udah belajar terus-menerus, biar pinter kayak Kakak. Tapi Papa nggak pernah senang sama hasil rapor-rapor Rama.

Rama udah berkali-kali menang ikut lomba. Tapi Papa nggak pernah membanggakannya, muji Rama dikit atau cuma sekedar senyum aja.

Kenapa Pa? Apa Rama bukan anak kandung Papa? Apa Rama ini cuma anak pungut? Atau … Rama anak dari selingkuhan Papa?!”

Mama yang sedari tadi diam, ingin menenangkan Rama. Tapi, terpotong teriakan suaminya.

“Cukup Rama! Kamu benar-benar bikin Papa Marah. Nggak cukup kamu bikin Kakakmu kecelakaan? Hah?!” bentaknya. “Kalau sampai ada apa-apa sama Dana, kamu …. “

“Cukup, Pa!” potong Mama. “Dana sekarang dirawat itu gara-gara Papa! Kenapa Papa nggak pernah instropreksi diri? Kenapa malah nyalahin Rama …. “

“Oh, jadi sekarang kamu berani ngebantah, ngebelain anak pembawa sial itu ya. Rama, mana tanganmu.”

“Pa, ini bukan salah Rama …. “

“Rama, tangan,” ujarnya. “Jangan sampai Papa ngulangin lagi.”

Rama menyodorkan kedua tangannya dengan gemetar. Ia tahu, jika Papanya tengah marah besar dan tak mungkin baginya lolos dari hukuman. Meski Mama bersamanya.

Tangan kiri Papa menarik tangan kanan Rama. Sementara tangan kanan yang tadinya memegang kemudi, beralih ke satu tombol yang ada di bawah radio mobil. Ternyata itu adalah alat yang digunakan untuk menyalakan rokok.

“Pa, jangan Pa. Mama minta maaf, Mama nggak akan membantah Papa lagi. Mama mohon … ” ujar Mama sembari mencegah tangan suaminya itu.

Papa yang mata hatinya sudah tertutup kabut amarah, tak lagi menghiraukan perkataan istrinya. Ditarik paksanya tangan Rama, menuju ke arah tombol yang sudah menyala jingga.

Rama sekuat tenaga mencoba menarik tangannya, tapi cengkraman Papa lebih kuat. Sementara Mama yang ikut melerai, tak bisa berbuat banyak. Sesaat netranya awas, melihat apa yang ada di depan.

BRAAK!!

—–

“Tunggu!” sergahku.

Perawat itu tampak kebingungan, saat kupergoki aksinya. Apalagi ia nyata jelas dalam rekaman gawai yang tengah kugenggam.

Tanpa pikir panjang lagi, perawat itu melarikan diri. Tak berhasil kucegah, karena langkahku dihadang bapak-bapak berpakaian rapi, dan satu lagi berpakaian seperti pasien di rumah sakit ini.

“Siapa kamu?! Sedang apa diruangan ini? Kamu mau membunuh anak saya?!” tuduh bapak yang paling depan. “Pon, cepat panggil sekuriti!”

Cih! Kenapa jadi gini sih?

Aku bergegas meninggalkan ruangan, sebelum urusan jadi panjang.

Di ujung lorong, samar kudengar ada yang memanggilku.

“Nak, tunggu!”


Jombang, 23 Oktober 2020
Salam hangat

0Shares

Tinggalkan Balasan