Mereka yang Tak Kasat Mata: Aku Ingin Kembali! (4)

Perjalanan untuk Kembali.

“Nak, tunggu!” pinta seorang wanita.

Wanita itu menahan tangan kananku. Sesekali ia melirik lelaki berpakaian rapi, yang ada di sampingnya. Terlalu muda, jika lelaki itu adalah suaminya.

Tiga detik netra kami bersitatap, tapi wanita itu masih terdiam. Ada sedikit getaran aneh yang kurasakan.

“Maaf, saya sedang ada urusan,” tolakku. Kulepaskan tangan wanita itu dan segera berlalu.

“Maaf sudah mengganggu waktu anda,” ucap lelaki itu sembari mengangguk.
***

Ada sesuatu yang salah. Entah kenapa aku merasa ada hal mengganjal dari ibu tadi. Kuingat perlahan detail saat berpapasan.

Aku berpapasan dengan ibu itu, setelah keluar dari ruangan si bocah.

Nggak ada percakapan untuk minta tolong, cuma bertatapan mata saja. Itu pun tiga detik.

Tunggu ….

Jari! Jari ibu itu, kalau tak salah ... Kupejamkan netra, berharap ingatan itu semakin menguat. Tiga ketukan pendek, tiga ketukan panjang, yang terakhir … tiga ketukan pendek!

Oh, shit!

Den mengurungkan niatnya untuk pulang, dan segera berlari ke dalam rumah sakit lagi.

Sembari berlari, dikeluarkannya gawai dan mencari kontak seseorang yang bisa membantunya.

“Bro, aku butuh bantumu, sekarang. Rumah Sakit S, Ruang VIP Cempaka!”
***

Dana belum sadarkan diri, sejak kecelakaan lalu. Ia juga masih membutuhkan tranfusi darah, tapi stok kantong darah golongan AB di Palang Merah sedang kosong.

Berhubung dua kakak-beradek itu memiliki golongan darah sama, maka tranfusi itu mungkin dilakukan. Sehingga, Rama dipindahkan ke ruangan Dana dirawat, untuk memudahkan proses tranfusi darah.

Mama hanya bisa terdiam, melihat para perawat tengah sibuk untuk memindahkan Rama, yang masih belum tersadar. Ingin sekali Mama menghentikan niat Papa, tapi sekali lagi, ia takut hal yang lebih buruk akan menimpa Rama. 

Mama yang tak tega melihat darah yang mengalir keluar, memilih untuk keluar ruangan. Dadanya terasa sesak, melihat keadaan kedua anaknya. Terutama si bungsu. Ooh, Rama … maafkan Mama sayang ….
***

Den tiba di ruang VIP Cempaka, tapi ruangan itu sudah kosong. Tempat tidur pasien dibersihkan Mas cleaning service. Saat Den, bertanya kemana pasien dipindahkan, Mas-Mas itu bilang kalau ia tidak tahu.

ARGH! Sial! kutinju dinding kamar.

Bocah itu masih belum sadar, jadi nggak mungkin dia dibawa pulang gitu aja. Kuusap pelan rambutku yang sudah mulai memanjang dengan kedua tangan. Nggak, kemungkinan bocah dibawa pulang itu tetap ada. Tapi aku masih bisa merasakannya di sini.

“Bro Den, yang kamu cari sudah pindah kamar,” ucap sebuah suara dari luar.

“Dimana?”

“Ruang VIP Mawar.”

Tanpa buang waktu lagi, Den dan temannya menuju ruang VIP Mawar.

Tak sulit menemukan ruangan yang mereka cari. Terlebih Mama Rama masih di luar, lebih tepatnya, di depan ruangan. Den masih hapal betul perawakan Mama Rama, meski baru pertama kali bertemu tadi. Itu pun hanya sekilas. Bahkan dengan rambutnya yang kini sedikit acak-acakan.

Den mendekati Mama Rama yang masih tertunduk. Samar dilihatnya, sekilas senyum ganjil itu lagi.

Bro menarik tangan kanan Den, ia berbisik pelan, “Hati-hati Bro Den, aura keluarga ini aneh.”

“Aku tahu. Karena itu, bantu aku. Alihkan perhatian keluarga ini.”

“Hah?!” Bro membuka lebar mulutnya.

Bukan Bro namanya, kalau nggak bisa mengalihkan perhatian. Sesaat setelahnya, ia memilih untuk berbalik arah. Ada satu hal yang selalu ingin dicobanya. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi orang-orang, terlebih ini di rumah sakit.

Seringai usil Bro pun terukir.


Jombang, 27 Oktober 2020
Salam hangat

0Shares

Tinggalkan Balasan