Mereka yang Tak Kasat Mata: Aku Ingin Kembali! (5)

Pulang!

Sementara itu, di tempat lain rumah sakit. Melalui asistennya, Papa Rama menghubungi guru spiritualnya, Ki Komat. Lebih tepatnya, penasihat pribadi dalam melancarkan usahanya.

“Sas, kalau kamu ingin usahamu makin lancar, sebaiknya percepat saja. Jangan ditunda lagi. Toh, sudah ada kan?” ujar Ki Komat.

“Baik Ki. Kalau begitu, mohon dipercepat saja.”

Papa Rama memerintahan asistennya untuk segera menyiapkan segala keperluan ritual. Meski ritual kali ini dilakukan di rumah sakit. Ia tak peduli, toh sebagian dana rumah sakit ini berasal darinya.
***
Den merasakan suasana sekitar menjadi lebih dingin. Ia memang sudah biasa dengan kehadiran ‘mereka’. Tapi kali ini, sedikit berbeda. Hingga bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri.

Bro, isengmu kumat! Den menyeringai.

Langkah Den terhenti. Ia hanya berjarak dua meter dari wanita berambut kusut, yang tengah duduk di depan ruangan bocah yang meminta tolong padanya. Wanita itu duduk dengan kedua tangannya yang menopang kepalanya, sembari menutupi kedua telinga.

Samar-samar, Den melihat sosok yang mirip dengan wanita itu. Ia berdiri di sampingnya, sambil membisikkan sesuatu. Sedangkan si wanita, mulutnya tampak seperti merapalkan sesuatu.

“Mati … lebih baik anak itu mati saja. Hihihi. Mati saja anak itu. Hihihi. Bawa … bawa saja dia … hihi hi … hiks hiks … anakku … anakku sayang … anakku malang … jangan bawa anakku … jangan bawa Rama ….

Rama … maafkan Mama, Nak … maafkan … maaf … maaf … ” ceracau wanita itu, Mama Rama.

“Kak, tolong Mama … ” pinta Rama, lebih tepatnya sukmanya.

Den terdiam, perlahan matanya mulai terpejam. Ia menarik napas dalam-dalam, dan dihembuskannya perlahan. Diaturnya pernapasannya.

Bocah, kalau kamu ingin menyelamatkan Mamamu, cepatlah kembali ke ragamu.

“Aku ingin, tapi aku nggak bisa Kak. Aku tak tahu bagaimana caranya.”

Kembali ke dalam, kamu harus ada di dekat ragamu. Coba bayangkan saja bagaimana kamu mengontrolnya, seperti kamu menggerakkan mobil remot control.

Bro, dengerkan. Tolong bantu si bocah balik ke raganya yak, ujar Den.

Duh, ogah ah. Susah yang satu ini, beda level Bro ….

Ayolah … ntar kutraktir di warungnya Neng Tia deh … bujuk Den.

Hmm … traktir seminggu. Deal?

Woi! Itu sih malak namanya. Tapi … oke deh.
***
Kak, kenapa aku masih belum bisa balik ke tubuhku? Apa ada yang salah?” tanya Rama.

Bro, yang sedari tadi sibuk melepaskan ‘mereka’. Kini sudah ada di ruangan Rama dan Dana dirawat, memandu sukma Rama untuk kembali ke raganya.

Ck! Bro Den, kondisi darurat. Si bocah kagak bisa balik ….

Tiba-tiba tubuh Rama mengalami kejang, dan sukmanya jatuh terpental. Seolah dua kutub magnet yang berbeda, saling bertemu.

Bro, cepet cari ruangan bapak si bocah! Ritual mereka sudah dimulai.

Hah?! Ritual apaan?

Udah, pokoknya cari aja dulu. Sebelum terlambat!

Den membuka mata dan dihirupnya udara kuat-kuat. Mencari ruangan, lebih baik jika ia dalam keadaan sadar. Bukan sukmanya yang berkeliaran, terlalu beresiko kata Bro.

Den segera berlari mencari di ruang VIP lain. Hanya beberapa yang dtempati pasien, sisanya kosong. Ia berlari mengikuti instingnya, seolah ada yang menuntunnya menuju ke suatu ruangan.

Detak jantung Den tiba-tiba berdebar cepat dan keras, hingga ia bisa mendengar sendiri detak jantungnya. Tepat saat ia berada di depan ruangan yang ada di pojok bangunan.

Bro, aku menemukannya. Ruangannya di pojok bangunan, sebelah gedung baru.

Ruangan itu … Bro, sebaiknya kamu mundur dari situ. Kembalilah ke Mamaya si bocah, lindungi dia. Kemungkinan, dia juga akan diserang. Serahkan sisanya padaku.

Oke. Hati-hati Bro! Den bergegas meninggalkan ruangan yang baru saja ditemukan. Ia segera berlari menuju posisinya semula.

Tepat sesaat setelah Den tiba, dirasakannya suatu getaran yang dahysat. Bukan, tentu saja bukan getaran biasa.
***
Burung-burung tak pernah letih benyanyi bersama alam. Mentari tak pernah malu bersinar terik, bahkan waktu masih menunjukkan pukul 09.00.

Ada dua pusara yang masih basah pagi ini. Satu berukuran kecil, dan satu lagi ukuran dewasa. Kedua pusara ini bersebelahan.

Apakah aku kenal siapa pemilik kedua pusara? Hmm … entahlah. Tapi yang jelas, aku tahu siapa wanita yang tengah bersimpuh didepan pusara berukuran kecil.

Dikejauhan, kulihat bocah kecil itu melambaikan tanganya.

“Terima kasih, Kak!”

Jombang, 30 Oktober 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan