Mereka yang Tak Kasat Mata: Aku Ingin Kembali!

Tik tok tik tok. Detik jarum terus bergulir, jam di dinding menunjukkan pukul 11.07 malam. Semilir dingin angin berhembus diantara celah-celah jendela tua.

Kuteguk kopi pahit yang tak lagi mengepulkan uap. Aah … nikmatnya ….

Samar-samar ujung netraku menangkap sosoknya, yang tengah jongkok di sudut ruangan. Entah apa yang ia lakukan, mungkin bermain dengan mobil kesayangannya, asal tak mengusik kerjaanku. Karena, sebelum tengah malam sudah harus kukirim lagi.

Sejenak kualihkan netra dari layar laptop, berganti dengan gawai yang tengah kugenggam. Jemari tengah lincah berselayar, ketika terdengar suara keras dari luar, seperti benturan antara mobil dan tiang lampu jalanan.

BRAAK!!

Benar saja, dari balik jendela kamar, di ujung persimpangan jalan tampak sebuah mobil menabrak tiang lampu. Asap mengepul dari depan mobil.

Beberapa orang tampak sibuk, berusaha mengeluarkan pengendara dan penumpang mobil. Tepat sebelum percikan api membesar, mereka berhasil mengeluarkan penumpang terakhir, anak laki-laki berkaos teddy bear. Tampak darah mengalir dari pelipisnya.

Oops … oke, sudah saatnya kembali bekerja. Jangan buang waktu lagi, klien sudah menunggu desain yang sudah direvisi.

—–

Esok hari, kupacu motor butut yang sudah menemani asam dan pahit ceritaku. Di ujung persimpangan komplek rumah, netraku menangkap sosok yang tak asing. Sosok yang masih sama dengan semalam.

“Kak … tolong aku … aku ingin kembali …. ” rintih sosok itu.

“Nggak Den! Untuk hari ini, hiraukan saja. Nanti juga ada yang bakal bantuin dia,” bisik hati.

Yah, benar. Aku nggak ingin jerih payahku selama dua bulan terakhir ini, berujung sia-sia.

—–

Hari bagiku berlalu begitu cepat, mungkin karena pada akhirnya, desain permintaan klien tak lagi dikembalikan alias tak ada lagi revisi. Mungkin juga, karena rekeningku tak lagi mengalami musim kemarau.

Baca juga: tulisan WRC lainnya

Senja telah bersiap ke peraduannya, saat aku melintasi persimpangan komplek. Dan sosok itu masih di sana. Tanpa alih-alih, ia menghadang jalanku.

“Kak … tolong … ” ibanya. “Aku ingin segera ketemu Papa sama Mama …. “

Kuacuhkan permintaannya dan memilih memarkirkan motor di pangkalan tukang nasi goreng langganan. Tak jauh dari persimpangan komplek.

“Bang, nasi goreng kayak biasanya ya. Makan sini,” pesanku.

Sembari menunggu, kunyalakan gawai dan mulai berselancar di aplikasi yang menampakkan gambar-gambar animasi.

“Bang, gimana keadaan anak kecil semalem?” tanya Mas Andi, teman satu kosanku, pada Bang Nas, si tukang nasi goreng.

“Wah kurang tahu saya kondisinya sekarang Mas. Tapi semalem sudah dapat penanganan dokter. Semoga saja, lekas membaik anaknya,” ujarnya, yang serempak di-amini para pelanggan yang kepo.

“Aamiin …. “

Tak selang lama, pesanan nasi gorengku datang dan langsung tandas. Pindah ke dalam perutku, yang sedikit membuncit.

Di kamar kosan, masih terngiang jelas obrolan di pangkalan nasi goreng tadi. Ada rasa iba, karena telah menolak permintaan sosok itu. Tapi ….

“Nggak Den, lu jangan ikut campur!”

—–

Sudah tiga hari berlalu, dan sosok itu masih ada di sana. Sudah tiga hari pula, kuacuhkan permintaannya.

Hingga jelang sore itu, tanpa sebab motorku hilang kendali dan menabrak tiang lampu jalanan. Tempat yang sama, dengan kecelakaan tempo lalu.

Beruntung, ini hanya kecelakaan tunggal. Tak ada kerusakan yang berarti pada motorku. Pun dengan badanku, tak lecet sedikitpun.

Saat akan mendirikan motor yang terjatuh, tampak kaki telanjang dengan noda darah ynag sedikit mengering. Sosok itu.

“Tolong kak … ” ibanya. “Kalau tidak, Mama …. “

Hatiku terasa sesak mendengarnya, bagaimana mungkin dia setega itu!

Tanpa pikir panjang, kupacu motor butut menuju sebuah rumah sakit yang tak jauh dari komplek rumah.

—–

Rumah Sakit S, tempat yang sangat ingin kuhindari. Tapi kali ini, kucoba menepis bayangan samar itu.

Kuikuti langkah kecilnya yang menuntunku menuju ruangannya. Bangsal yang ada di ujung rumah sakit ini nampak sepi. Hanya satu dua perawat yang nampak.

Anak laki-laki berkaos teddy bear itu berhenti di depan sebuah ruangan, lantas ia menghilang.

Gamang kulangkahkan kaki, dari balik pintu kulihat anak laki-laki itu terbaring, tak sadarkan diri. Sementara di sebelahnya, tampak suster yang akan menyuntikkan sesuatu ke cairan infus.

Entah kenapa, aku merasa itu bukan sesuatu hal yang baik. Segera kukeluarkan gawai dan merekam aksinya.

“Tunggu!” sergahku.

Bersambung ….

Jombang, 16 Oktober 2020
Salah hangat

0Shares

Tinggalkan Balasan