Mereka yang Tak Kasat Mata: Dibalik Layar Tulisanku.

Tik tok tik tok.

Detik  jarum jam masih terus pacu. Masih pukul sembilan malam, lewat beberapa menit. Seperti biasa, rasa kantuk menyerang hebat. Bahkan sudah dua cangkir kopi tandas, kantuk masih betah mengusik mata.

Kuhentikan jemari menari di atas keyboard, sekedar mengusap mata. Berharap sedikit mengurangi kantuk.

Tetes kopi terakhir, baru saja kutenggak beberapa saat lalu. Tapi rasanya, ia malah semakin menjadi.

Terpaksa, ini adalah satu-satunya senjata terakhir untuk melawannya. Meski ada efek sampingnya. Tak ada pilihan lain.

Kualihkan pandangan dari layar ponsel, dan memfokuskan mencari itu di laci meja. Ah, ini dia! Lima bungkus, cukupkan? Toh, tinggal dikit yang harus diketik.

“Hihihi …. “

Samar kudengar suara anak kecil tertawa. Bukan satu dua anak, tapi banyak. Berapanya, aku tak tahu pasti.

Kalian tahu, ini cukup membuat bulu-bulu halus ditengkukku berdiri.

“Kak … main yuk …. “

Angin tiba-tiba berhembus dari belakangku, menyibakkan rambut sebahu yang terurai. Cukup kuat, dan terasa dingin.

Sekelebat bayangan hitam melintas di kananku. Buku tebal yang tengah teronggok di ujung meja, jatuh berdebam. Membuatku terjingkat, karena suaranya yang cukup keras.

Buku setebal ini kok bisa jatuh sih? Kupungut buku itu dan mengembalikan ke tempatnya.

Buru-buru kuarahkan tangan kiri ke depan mulutkuu, biar tak ada nyamuk yang masuk ke mulut. Saat aku menguap.

Kuambil permen kopi. Yup! inilah senjata yang paling ampuh untuk melawan katuk, selain kopi.

Lho? Permenku kok tinggal satu? Kan tadi aku ngambil lima ….

Dengan sedikit kesal, segera kuhisap permen kopi dan meregangkan tubuh. Kukait dan angkat tinggi-tinggi kedua tangan, meliuk-liukkan tubuh ke kanan dan ke kiri.

Kruyuuk ….

Ops! Sepertinya tadi aku belum makan malam deh.

Tik tik tik.

Suara air hujan mengenai atap rumah, yang semula pelan kini semakin deras. Hawa dingin perlahan mulai berhembus, membawa aroma khas saat hujan membasahi tanah.

Hmm … ah! Bikin itu aja deh.

Di dapur, kunyalakan kompor dan mulai merebus api. Saat air mendidih, kumasukkan sawi dan beberapa biji cabe yang sudah kucuci dan potong. Menyusul sebungkus mi dan sebutir telur.

Ah … ini benar-benar suatu kenikmatan yang haqiqi. Jelang tengah malam, hawa dingin dari datangnya hujan. Ditemani semangkuk mi yang masih mengepulkan uap. Plus, telur setengah matang yang diaduk, dengan ekstra cabai. Nikmat mana lagi yang dustakan?

Jam di dinding menunjukkan pukul 10.25. Tinggal satu jam empat puluh menit sebelum deadline!

“Kak … minta doong … ” ucap suara mereka lagi. “Hihihi …. “

“Heh! Jangan ganggu ya. Aku mau ngetik lagi. Awas kalau kalian berani ganggu. Sini muncul kalau berani!” kataku memperingatkan ‘mereka’. “Awas aja kalau malam ini aku out gara-gara kalian ya!”

Entah dari mana, seketika angin berhembus cukup kencang ke arahku. Suasa di kamar pun, menjadi hening tiba-tiba.

Udah jam segini, bisa selesai nggak ya nanti? Mau lanjut ngetik, tapi nanti miku ngembang.

Kulirik mi yang mulai sedikit mengembang dan ponsel yang tengah bersandar di atas mejaku bergantian.

Ah, bodo amat lah. Makan aja dulu, dari pada makin ngembang minya.

Kusantap mi rebus tadi, sembari membuka file video variety show asal Korea yang kusimpan di ponsel.

Setelah selesai, segera kukebut merangkai kata dengan keyboard yang terhubung dengan ponsel pintarku. Hanya beberapa menit, tulisanku selesai.

Sedikit perbaikan kata-kata yang typo, segera kuunggah tulisan di situs penerbit yang pernah menerbitkan buku antologiku. Setelahnya, kusalin dan kusetorkan tautan tulisan ke grup aplikasi hijau.

Ah, akhirnya bisa tidur juga … Oh! Ngomong-ngomong, agak sepi juga nggak ada ‘mereka’. Mereka nggak marah kan?

Jombang, 13 Nopember 2020
Salam Unyu

0Shares

Tinggalkan Balasan