Saya lanjutkan lagi ya review buku yang berjudul Meretas Badai Lebih Sehat Jika Menulis -part 1 (Review Buku)

Tujuan Menulis oleh Penulis

Pada  bab ketiga buku ini, penulis menguraikan mengenai tujuan menulis yaitu:

  1. menulis sebagai wujud syukur,
  2. sebagai Tanggung jawab sosial,
  3. menulis untuk menghilangkan kesedihan,
  4. sebagai katarsis,
  5. menulis untuk meredam emosi/amarah,
  6. agar terhindar dari stress,
  7. mengurangi Dimmensia/Pikun dan Altzeimer
  8. menulis sebagai dampak fisik stress terhadap daya ingat,
  9. menulis bertujuan mengurangi rasa cemas,
  10. menghilangkan kegelisahan,
  11. terhindar dari  rasa takut,
  12. menyehatkan fisik dan bathin,
  13. agar menjadi manusia humoris,
  14. sebagai terapi curhat untuk kanker,
  15. sebagai pengobatan alternatif,
  16.  menulis bertujuan  penyembuhan penyakit
  17. sebagai hobby

Penulis menyebutkan bahwa tujuan menulis adalah tanggung jawab sosial dikarenakan seorang penulis adalah sosok yang diberi kelebihan dibanding lainnya yaitu kemampuan untuk memadukan ilmu pengetahuan dan keahlian merangkai kata.

Seorang penulis dapat berperan sebagai translator (penterjemah)  atau interpreter  berbgai kejadian atau peristiwa di sekitar kita .Tulisan yang dihasilkan dapat secara tidak langsung memberikan wawasan bagi masyarakat. Itulah sebabnya tujuan menulis sebagai bentuk tanggung jawab sosial. 

Baca juga: Oh Pandemi Covid19 (Artikel Psikolog)

Penulis juga menyebutkan tujuan menulis adalah menghindari stress, hal ini masuk akal karena menulis itu merangsang otak sehingga diharapkan dengan menulis otak sering memperoleh rangsangan sehingga dapat menghindari stress.

Pada bab ke empat dengan judul Puisi menjadikan hidup sehat dan bermakna , penulis pentingnya mengenal unsur-unsur dalam puisi yang akan memberikan rasa keindahan dan kedamaian hidup. Puisi adalah manifestasi dari intensitasi  kehidupan karena puidi adalah seni  dan menjadi cahaya kehidupan. Khalil Gibran sang penyair terkemuka dan YB Mangunwijaya disebut sebagai penyair yang mengusung puisi sebagai cahaya kehidupan. Lalu ada pula bahasan mengenai menulis dari hati dengan contoh penyaiir  Irvan Dwi Kustianto, Ludwing Van Beethoven dan  Eko Ramaditya Adikara (nama akhirnya kok seperitnya saya kenal ya…😊 ).

Ratna Dewi dalam bab ke lima buku ini memberi judul Menulis sebagai cermin kehidupan, menguraikan mengenai bagaimana berpikir kreatif dapat menghasilkan karya baru melalui gagasan/ide lama.

Tips untuk meningkatkan daya kreatif

Penulis memberikan tips untuk meningkatkan daya kreatif yaitu:

  1. timbulkan sikap proaktif
  2. membuka diri terhadap semua masukan
  3. melakukan oerubahan sekalipun kecil atau ringan
  4. focus pada ketrampilan hobi
  5. memperluas relasi
  6. menjaga kesimbangan hidup
  7. mengasah untuk memenemukan banyak  ide

Baca juga: Menebar kebaikan dari yang kita punya

Komentar saya terhadap bab ketiga dan keempat adalah pada bab ke tiga, penulis menjabarkan aspek psikologis dan kesehatan yang dapat menjadi tujuan dalam menulis yang salling tumpeng tindih maksudnya terdapat beberapa tujuan yang dapat digabungkan menjadi satu seperti tersebut pada tujuan nomor 6, 7 dan 8 memiliki makna yang sama. Lalu tujuan nomor 15 dan 16 juga mirip. Yang ada menjadi pengulangan pembahasan.

Untuk bab keempat adalah bab yang paling sulit dipahami. Tokoh yang disebutkan dalam bab ke empat dengan keterbatasan yang ada mengapa tidak digabungkan dengan  penulis pada bab pertama?  Mengapa tidak fokus pada pembahasan mengenai pentingnya menulis puisi atau puisi dapat berperan dalam menyehatkan kita?

Baca juga: Belajar Menulis Autobiografi

Untuk selanjutnya akan dibahas pada part ke tiga ya….

meretas badai

Nantikan cerita ini di Sabtu depan:)

(bersambung).

0Shares

1 thought on “Meretas Badai lebih Sehat Jika Menulis-part 2

Tinggalkan Balasan